Stok Rudal AS Menipis, Perang Besar Iran Terancam Batal?
Amerika Serikat (AS) disebut menghadapi keterbatasan persediaan rudal di tengah meningkatnya operasi militer terhadap Iran. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Washington tidak memiliki amunisi yang memadai apabila konflik berkembang menjadi perang berskala penuh.
Seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal pemerintahan, mengungkapkan bahwa stok rudal pertahanan udara dan amunisi jarak jauh milik militer AS terus menyusut. Situasi itu dinilai berpotensi membatasi kemampuan operasional militer jika eskalasi konflik terus berlanjut.
“Kami tidak memiliki cukup persediaan untuk mempertahankan operasi secara aman, dan saya rasa Gedung Putih tidak menyadari hal itu,” kata pejabat tersebut kepada The Washington Post.
Trump Pertimbangkan Perluas Perang
Di tengah kondisi tersebut, Presiden Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi memperluas operasi militer terhadap Iran. Laporan juga menyebutkan bahwa Washington telah mengirim tambahan pesawat tempur ke kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Mamdani Ungkap Tengah Kaji Penangkapan Netanyahu di Sidang PBB
Peringatan mengenai menipisnya stok rudal muncul ketika militer AS telah melancarkan serangan terhadap Iran selama sembilan malam berturut-turut. Operasi terakhir pada akhir pekan disebut sebagai respons atas dugaan keterlibatan Teheran dalam serangan ke pangkalan udara AS di Yordania yang menewaskan tiga prajurit Amerika.
Trump menegaskan bahwa serangan terbaru merupakan bentuk penghormatan kepada para prajurit yang gugur.
“Iran telah mengalami kerusakan yang sangat besar. Secara militer mereka hampir kehilangan segalanya. Mereka hanya memiliki sedikit yang tersisa,” ujar Trump kepada wartawan sepulang menghadiri final Piala Dunia.
Korban Militer AS Bertambah
Berdasarkan laporan The Telegraph, dua tentara AS dipastikan tewas, sementara satu prajurit lainnya sempat dinyatakan hilang setelah pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania dihantam rudal dan drone Iran pada Jumat (17/7/2026).
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) kemudian mengumumkan telah menemukan jasad manusia di lokasi serangan. Identitas korban masih dalam proses verifikasi, meski Trump menyebut jumlah korban kemungkinan mencapai tiga orang.
Selain itu, seorang anggota militer AS juga dilaporkan tewas di Irak utara saat menjalankan peledakan terkendali terhadap drone bunuh diri Iran yang sebelumnya berhasil ditembak jatuh.
Trump menyebut gugurnya para prajurit sebagai tragedi, namun menegaskan mereka menjalankan misi penting untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Serangan AS Terus Berlanjut
Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Iran, termasuk Bandar Mahshahr, Bandar Imam Khomeini, Tabriz, Chabahar, dan Konarak.
Menurut CENTCOM, sasaran operasi terbaru meliputi fasilitas pengawasan pantai, lokasi penyimpanan rudal, serta infrastruktur drone milik Iran. Militer AS menyatakan serangan itu bertujuan mengurangi kemampuan Teheran mengancam kapal dagang dan pelayaran sipil di Selat Hormuz.
Baca Juga : Balas Tewasnya Tentara AS, Trump Gempur Iran Lagi
Washington juga memastikan seluruh pasukan tetap berada dalam kondisi siaga untuk menjalankan operasi lanjutan sesuai arahan Presiden Trump.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pejabat Pentagon mulai menyiapkan berbagai skenario jika konflik semakin meluas. Berdasarkan laporan The New York Times, jet tempur F-16 dari Jerman, pesawat F-35 dari Inggris, serta pesawat pengisian bahan bakar di udara telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, sejumlah analis menilai AS bukan hanya menghadapi persoalan keterbatasan stok rudal, tetapi juga belum siap melakukan operasi darat di wilayah Iran. Sebelumnya, Trump juga tidak menutup kemungkinan penggunaan opsi tersebut.

[…] Stok Rudal AS Menipis, Perang Besar Iran Terancam Batal? […]