Presiden Iran Nyatakan Perang Penuh saat Konflik AS Memanas
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya kini berada dalam kondisi perang penuh melawan Amerika Serikat (AS).
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi konflik setelah gencatan senjata yang sempat berlaku beberapa pekan terakhir dilaporkan runtuh.
Pezeshkian mengatakan Iran saat ini menghadapi perang berskala besar menyusul meluasnya operasi militer AS di berbagai wilayah negara tersebut.
“Kenyataannya adalah hari ini Republik Islam Iran tengah terlibat dalam perang skala penuh,” ujar Pezeshkian, sebagaimana dilansir dari Straits Times, Senin (20/7/2026).
Baca Juga: Diungkap Bahlil, Harga Pertamina Bisa Turun Jika Minyak Dunia Melemah
Pernyataan itu muncul setelah media pemerintah Iran dan sejumlah otoritas setempat melaporkan adanya serangan AS di wilayah utara dan tengah Iran pada hari yang sama.
Diketahui, konflik yang kembali memanas ini juga berdampak pada pasar energi global.
Harga minyak dunia dilaporkan melonjak ke level tertinggi dalam sebulan terakhir akibat meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling strategis di dunia karena menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak global pada kondisi normal.
Setelah gencatan senjata berakhir, Iran kembali memberlakukan blokade di Selat Hormuz.
Sebagai respons, Washington disebut melakukan pemblokiran terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, Iran mengklaim telah menyerang berbagai aset AS di kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada 20 Juli menyatakan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Bahrain, Yordania, dan Suriah.
Houthi Ancam Blokade Pelabuhan Arab Saudi
Di tengah meningkatnya ketegangan, kelompok Houthi di Yaman yang merupakan sekutu Iran juga melontarkan ancaman baru.
Kelompok tersebut menyatakan akan memblokade pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi.
Langkah itu berpotensi mengganggu jalur ekspor minyak Arab Saudi yang selama ini menjadi alternatif ketika Selat Hormuz tidak dapat digunakan.
Arab Saudi masih mampu mengekspor jutaan barel minyak per hari melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Namun, kapasitas ekspor melalui jalur tersebut dinilai lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum konflik.
Ancaman dari Houthi kembali memunculkan kekhawatiran pelaku pasar energi global.
Selama berbulan-bulan, pasar telah mencermati kemungkinan kelompok tersebut kembali menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah dan Teluk Aden.
Serangan serupa pernah dilakukan Houthi pada masa perang Gaza dan sempat mengganggu rantai pasok perdagangan internasional.
Baca Juga: Kobocoran Triliunan Rupiah Sepi Sorotan, Prabowo Heran MBG Dikritik
Riyadh dan Houthi Kembali Bersitegang
Hingga kini, Houthi belum menjelaskan secara rinci bagaimana mekanisme blokade pelabuhan Arab Saudi akan diterapkan.
Namun, ketegangan antara kedua pihak kembali meningkat setelah Riyadh dan Houthi dilaporkan sempat terlibat baku tembak untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.
Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah yang saat ini tengah menghadapi eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
