Laut Merah Terancam Ditutup, Apa Dampaknya bagi Dunia?
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan rencana blokade maritim terhadap Arab Saudi di kawasan Laut Merah.
Ancaman tersebut muncul ketika dunia masih menghadapi dampak gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Jika kedua jalur strategis itu terganggu secara bersamaan, pasokan energi global berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar.
Dikutip dari Reuters, Selasa (21/7/2026), Houthi menyatakan akan menghalangi kapal-kapal Arab Saudi melintasi Selat Bab al-Mandab yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Keputusan itu diambil setelah hubungan Houthi dan Arab Saudi kembali memanas sejak serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa pada 13 Juli lalu.
Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengaku bertanggung jawab atas operasi tersebut.
Mereka menyebut langkah itu dilakukan untuk mencegah pesawat Iran mendarat tanpa izin karena diduga membawa pejabat atau dukungan bagi Houthi.
Sebagai respons, Houthi meluncurkan serangan rudal ke Bandara Abha di Arab Saudi dan mengancam akan memperluas serangan apabila operasi terhadap wilayah yang mereka kuasai terus berlanjut.
Kelompok tersebut menyebut blokade maritim sebagai balasan atas apa yang mereka anggap sebagai blokade Arab Saudi terhadap Yaman selama hampir 12 tahun.
Baca Juga: Saat Konflik AS Memanas, Presiden Iran Nyatakan Perang Penuh
Ancaman Baru bagi Pasokan Energi Global
Hingga kini belum jelas bagaimana Houthi akan menerapkan blokade tersebut atau apakah langkah itu akan disertai serangan terhadap kapal-kapal komersial.
Namun, para analis menilai gangguan di Bab al-Mandab dapat memperburuk situasi pasar energi dunia yang sudah tertekan akibat konflik di Selat Hormuz.
Selama ketegangan Iran dan AS meningkat, Laut Merah menjadi jalur alternatif penting bagi ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Ketika sebagian aktivitas di Selat Hormuz terganggu, Arab Saudi mengalihkan lebih dari 70 persen ekspor minyak mentah hariannya ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Dari pelabuhan tersebut, minyak dikirim ke Eropa melalui Terusan Suez dan ke Asia melalui Selat Bab al-Mandab.
Data Kpler dan Signal Ocean menunjukkan pengiriman minyak dari Yanbu mencapai rata-rata 4 juta barel per hari dalam beberapa pekan terakhir.
Angka itu melonjak dibandingkan sekitar 973.000 barel per hari pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, volume minyak yang melintasi Bab al-Mandab mencapai 7,4 juta barel per hari pada Juni lalu. Jumlah tersebut setara sekitar 7 persen produksi minyak global.
Kondisi ini membuat Laut Merah menjadi salah satu jalur paling vital bagi stabilitas pasokan energi dunia.
Pernah Ganggu Pelayaran Global
Ancaman terhadap pelayaran di Laut Merah bukan pertama kali terjadi.
Setelah serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023, Houthi mulai melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Merah sebagai bentuk dukungan kepada Palestina.
Aksi tersebut memaksa sejumlah perusahaan pelayaran besar dunia, termasuk Maersk dan Hapag-Lloyd, mengalihkan rute kapal mereka mengelilingi Afrika.
Perubahan rute tersebut membuat waktu pengiriman lebih lama dan biaya logistik meningkat.
Hingga kini, lalu lintas pelayaran di Laut Merah belum sepenuhnya pulih. Data otoritas terkait menunjukkan lalu lintas melalui Terusan Suez pada 2025 turun 52 persen dibandingkan 2023 dan menjadi level terendah dalam sedikitnya 50 tahun.
Meskipun Amerika Serikat memimpin misi keamanan maritim dan melakukan berbagai operasi terhadap Houthi, sejumlah serangan masih terjadi hingga akhirnya mereda setelah gencatan senjata Gaza pada Oktober tahun lalu.
Baca Juga: Survei Ungkap Fakta, Perang Iran Jadi Beban Trump
Risiko Harga Minyak Melonjak hingga Resesi
Para analis memperingatkan bahwa dampak blokade Laut Merah dapat jauh melampaui sektor pelayaran.
Wakil Presiden Senior sekaligus Kepala Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan Houthi memang belum menjelaskan mekanisme blokade yang akan diterapkan.
Namun, rekam jejak mereka menunjukkan kemampuan untuk mengganggu aktivitas pelayaran komersial.
“Jika gencatan senjata tidak terwujud dan Hormuz sebagian besar tetap ditutup sementara ancaman Houthi terhadap pengiriman barang di Laut Merah semakin meningkat, risiko kenaikan harga minyak secara signifikan akan sangat besar,” kata Leon.
Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, menilai perusahaan penyulingan di Asia dapat menghadapi keterlambatan pasokan hingga sekitar satu bulan apabila kapal tanker harus memutar melalui Tanjung Harapan.
“Dampaknya akan sangat besar pada bulan pertama,” kata Smith.
“Dampak terbesar akan terjadi pada aliran dana dari Saudi,” lanjut dia.
Sementara itu, Presiden Konsultan Stratas Advisors, John Paisie, menilai gangguan tidak hanya akan memengaruhi harga minyak mentah, tetapi juga produk turunannya.
“Jika mereka benar-benar berhenti dan menghambat pengiriman minyak melalui Laut Merah, hal itu akan berdampak pada harga minyak serta harga produk olahan,” kata dia.
“Hal ini melemahkan perekonomian global secara keseluruhan. Pada titik tertentu, Anda bisa mengalami resesi global.,” imbuh dia.
