Purbaya Siapkan Pajak 0% 50 Tahun untuk Investor PFII
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, membenarkan pemerintah tengah menyiapkan insentif berupa tarif pajak 0% selama 50 tahun bagi pelaku usaha jasa keuangan yang berinvestasi di Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
Menurut Purbaya, kebijakan tersebut dirancang agar PFII memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan pusat keuangan internasional lain dalam menarik investor global.
“Kita melihat, untuk tahap pertama sepertinya seperti itu. Kita membandingkan dengan praktek bisnis di tempat lain yang sejenis,” ujar Purbaya saat dikonfirmasi terkait kabar pemberian pajak 0% selama 50 tahun buat investor di PFII.
Baca Juga : BGN Yakin Anggaran MBG Turun, Prabowo Minta Evaluasi
“Kita harus lebih menarik sedikit. Kenapa? Kita kan baru masuknya terakhir. Ini kan kita bersaing dengan Singapura, Hong Kong, Dubai, dan lain-lain,” sambungnya.
Insentif Dibuat agar PFII Lebih Kompetitif
Purbaya menjelaskan Indonesia harus menawarkan nilai tambah yang lebih menarik dibandingkan pusat keuangan internasional yang sudah lebih dulu berkembang. Tanpa insentif yang kompetitif, menurutnya, investor akan memilih menanamkan modal di negara lain.
Ia menilai penyusunan berbagai regulasi bersama DPR untuk mendukung pengembangan PFII akan kurang efektif apabila tidak diiringi dengan kebijakan yang mampu meningkatkan daya tarik investasi.
Baca Juga : Fokus Benahi Tata Kelola, BGN Yakin Anggaran MBG Turun
“Jadi ada satu pemanis yang seperti menarik, tapi sebenarnya sama aja sih. Ya mesti ada begitu-nya kan dagang, namanya juga dagang. Tapi saya pikir ini dengan proposal seperti itu pasti akan lebih menarik dibandingkan dengan Dubai, Hong Kong, Singapura,” ujarnya.
Optimistis Tarik Investor Global
Purbaya juga optimistis PFII tetap memiliki peluang besar menarik investasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia yang masih berlangsung.
Menurutnya, situasi global justru meningkatkan kebutuhan akan pusat-pusat keuangan internasional baru yang dapat menjadi alternatif bagi pelaku industri jasa keuangan.
“Saya pikir tadinya ketika perang usai, PFII menjadi susah. Tapi kan kita melihat bahwa ketidakpastian nggak hilang rupanya. Amerika masih pernah nyerang. Jadi masih itu kan. Jadi ada demand untuk pusat finansial di dunia. Kita ingin memanfaatkan itu,” pungkasnya.
