Saudi Aramco Tutup Kilang Jazan usai Diserang Houthi
Saudi Aramco menutup Kilang Jazan yang berkapasitas 400.000 barel minyak per hari setelah fasilitas tersebut diserang kelompok Houthi Yaman.
Kilang itu resmi menghentikan operasinya pada Senin (27/7/2026), dua hari setelah serangan terjadi.
Mengutip Turkiye Today, penutupan dilakukan karena serangan menyebabkan kerusakan pada kompleks Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC) dan area tangki penyimpanan.
Baca Juga: Perusahaan Asing Terancam Digugat, China Siapkan UU Baru
Berdasarkan catatan perusahaan konsultan IIR, proses perbaikan diperkirakan selesai pada 15 Agustus 2026. Setelah itu, operasional kilang dijadwalkan kembali berjalan.
Kilang Jazan merupakan salah satu fasilitas penyulingan minyak terbaru dan paling modern milik Saudi Aramco.
Lokasinya berada di pesisir Laut Merah, Provinsi Jazan, sekitar 70 kilometer dari perbatasan Yaman.
Fasilitas tersebut memproduksi berbagai produk energi, seperti bensin rendah sulfur, diesel, bahan bakar jet, benzena, dan sulfur.
Produk-produk itu dipasarkan untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.
Kilang ini juga terhubung dengan terminal di Laut Merah. Konektivitas tersebut memungkinkan produk olahan dikirim ke pasar internasional tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Baca Juga: Ukraina Diancam Iran, Serangan Kapal Picu Ketegangang Baru
Serangan Houthi Picu Eskalasi Konflik
Sebelumnya, kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku melancarkan serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Jazan dan Yanbu pada Sabtu (25/7/2026).
Serangan dilakukan menggunakan rudal dan drone sebagai balasan atas serangan udara Arab Saudi di Hodeidah.
Ketegangan antara kedua pihak semakin meningkat setelah Houthi mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi.
Kelompok itu juga memperingatkan perusahaan pelayaran agar tidak singgah di pelabuhan Arab Saudi.
Selain itu, Houthi mengancam akan menargetkan industri minyak Arab Saudi yang berada di sepanjang pesisir Laut Merah.
Sebagai respons, pasukan yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan udara ke sejumlah posisi militer Houthi di Provinsi Hodeidah, Yaman, pada Jumat (24/7/2026).
Konflik tersebut kembali meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
