Lockheed Martin Raih Kontrak Jumbo Rudal Patriot dari AS
Meningkatnya kebutuhan persenjataan di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) mendorong pemerintah Negeri Paman Sam memperbesar belanja pertahanan.
Salah satu langkahnya ialah memberikan kontrak jangka panjang kepada Lockheed Martin untuk memproduksi rudal pencegat Patriot.
Mengutip Reuters, Pentagon pada Rabu (29/7/2026) mengumumkan Angkatan Darat AS memberikan kontrak kepada Lockheed Martin dengan nilai hingga 58,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.054,8 triliun (kurs Rp18.000 per dollar AS).
Baca Juga: AS dan Saudi Serang Irak, Selat Hormuz Memanas
Kontrak tersebut merupakan pengembangan dari perjanjian sebelumnya yang hanya berlaku selama satu tahun dengan nilai 4,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp84,6 triliun. Kini, masa kontrak diperpanjang menjadi tujuh tahun dan mencakup pengadaan rudal Patriot untuk tahun fiskal 2026 hingga 2032.
Kesepakatan ini muncul ketika stok persenjataan AS terus menurun.
Penyebabnya adalah tingginya pasokan senjata ke negara-negara sekutu serta penggunaan amunisi dalam berbagai operasi militer Washington.
Pemerintah AS juga terus mendorong industri pertahanan meningkatkan kapasitas produksi. Pada Januari lalu, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengevaluasi perusahaan yang dinilai berkinerja buruk dalam kontrak pemerintah, tetapi tetap membagikan keuntungan kepada pemegang saham.
Selain itu, Pentagon berupaya mempercepat kesepakatan produksi jangka panjang agar pasokan rudal pertahanan udara dan senjata berpemandu presisi dapat segera ditingkatkan.
Lockheed Martin Perluas Produksi dan Tambah Pekerja
Lockheed Martin menyatakan kontrak baru tersebut akan mempercepat target perusahaan untuk melipatgandakan kapasitas produksi rudal Patriot PAC-3 MSE pada akhir 2030.
Perusahaan juga berencana menambah jumlah tenaga kerja di fasilitas Camden, Arkansas, sekitar 50 persen. Jumlah pekerja akan meningkat dari sekitar 1.200 menjadi 1.850 orang.
Selain merekrut pekerja baru, Lockheed Martin telah menyiapkan investasi sebesar 8 miliar hingga 9 miliar dollar AS atau sekitar Rp144 triliun hingga Rp162 triliun sampai 2030.
Dana tersebut akan digunakan untuk memodernisasi lebih dari 20 fasilitas di AS, termasuk membangun pusat produksi amunisi baru di Alabama dan Arkansas.
Sebelumnya, perusahaan juga menargetkan produksi rudal Patriot PAC-3 mencapai 2.000 unit per tahun.
Baca Juga: Reza Pahlevi Sulit Jadi Pemimpin Baru Iran karena Tidak Dapat Dukungan AS
Di sisi lain, pelaku industri menilai kepastian kontrak tersebut menjadi sinyal positif.
Namun, mereka mengingatkan bahwa pendanaan tetap harus memperoleh persetujuan Kongres AS sebelum investasi baru dapat direalisasikan secara penuh.
Sementara itu, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan militer AS kini memiliki kurang dari 1.000 rudal Patriot dan kurang dari 250 rudal THAAD yang siap digunakan. Kedua sistem pertahanan tersebut telah dipakai secara intensif dalam berbagai operasi di Timur Tengah.
Meningkatnya belanja pertahanan juga terjadi di negara lain. Inggris bahkan mulai membahas kemungkinan menerbitkan kembali obligasi perang (war bond) untuk membantu membiayai kenaikan anggaran pertahanan.
Instrumen tersebut pernah digunakan saat Perang Dunia I untuk menghimpun dana masyarakat, meski kemudian nilainya tergerus akibat inflasi dan perubahan kebijakan pemerintah.
