Inggris Terancam Resesi jika Selat Hormuz Tetap Ditutup
Ekonomi Inggris menghadapi ancaman resesi apabila penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama.
Lembaga konsultan akuntansi EY memperingatkan kondisi tersebut dapat memicu kontraksi ekonomi mulai 2027.
Mengutip Reuters, Senin (3/8/2026), EY memperkirakan perekonomian Inggris masih mampu tumbuh 0,8 persen pada 2026 dan 1,2 persen pada 2027.
Proyeksi itu berlaku dengan asumsi Selat Hormuz kembali dibuka paling lambat akhir September tahun ini.
Baca Juga: Deflasi 0,14 Persen pada Juli 2026 Dicatat BPS, Ini Pemicunya
Namun, apabila jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu tetap ditutup hingga awal atau pertengahan 2027, pertumbuhan ekonomi Inggris diperkirakan melambat menjadi 0,5 persen pada 2026.
Setelah itu, ekonomi diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 0,2 persen pada 2027.
“Kami memperkirakan Inggris dapat menghindari perlambatan ekonomi yang lebih dalam jika Selat Hormuz dibuka kembali dalam beberapa bulan ke depan. Namun, jika penutupan berlanjut hingga 2027, inflasi akan meningkat dan ekonomi berpotensi mengalami kontraksi tahun depan,” kata Kepala Ekonom EY Inggris Peter Arnold.
Penutupan Selat Hormuz Diperkirakan Picu Lonjakan Inflasi
EY menilai penutupan Selat Hormuz akan mendorong kenaikan harga energi sehingga memicu inflasi yang lebih tinggi di Inggris.
Dalam skenario tersebut, inflasi diperkirakan melonjak hingga 6,4 persen pada akhir 2026.
Sebaliknya, jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat, inflasi diperkirakan hanya mencapai puncak sekitar 3,5 persen pada tahun ini.
Sebelumnya, Bank of England (BoE) juga telah mengingatkan adanya risiko serupa. Dengan asumsi harga minyak dan gas berada 30-60 persen di atas ekspektasi pasar, bank sentral Inggris masih memperkirakan ekonomi tumbuh mendekati 1 persen pada 2027, sementara inflasi diproyeksikan mencapai sekitar 4,5 persen.
Meski demikian, proyeksi EY dinilai lebih pesimistis karena memperhitungkan dampak penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan terhadap pasokan energi dan aktivitas ekonomi Inggris.
Baca Juga: Bank Dunia Ungkap 48 Persen UMKM Batasi Qris untuk Hindari Pajak
EY juga memperkirakan Bank of England akan mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang 2026.
Setelah itu, bank sentral diproyeksikan mulai memangkas suku bunga dari 3,75 persen menjadi 3,25 persen melalui dua kali penurunan pada April dan Juli 2027 untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Gangguan terhadap arus pelayaran di kawasan tersebut dikhawatirkan memicu lonjakan harga minyak dan gas global.
Kondisi itu berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, termasuk Inggris.
