Warren Buffett Peringatkan Dolar AS, Ini 3 Strateginya
Selama lebih dari enam dekade memimpin Berkshire Hathaway, Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor paling berpengaruh di dunia. Menjelang pergantian posisi kepemimpinan di usia 96 tahun, Buffett kembali menyampaikan peringatan mengenai masa depan mata uang Amerika Serikat.
Di hadapan para pemegang saham, Buffett menyoroti risiko yang dapat muncul apabila kebijakan fiskal AS terus membebani perekonomian dengan utang dan defisit yang besar.
“Kami tidak ingin memiliki apa pun yang kami kira berada dalam mata uang yang benar-benar menuju kehancuran (going to hell). Dan itulah hal besar yang kami khawatirkan terhadap mata uang Amerika Serikat,” tegas Buffett.
Baca Juga : Trump Minta Xi Bantu Turunkan Harga BBM AS
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kondisi fiskal pemerintah AS yang terus menggunakan utang untuk membiayai defisit anggaran tahunan. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan tekanan terhadap nilai dolar dalam jangka panjang.
Defisit anggaran Amerika Serikat pada 2026 disebut telah mencapai USD1,97 triliun hanya dalam 11 bulan. Sementara itu, total utang nasional pemerintah AS telah menembus USD40 triliun.
Tekanan terhadap daya beli dolar juga menjadi perhatian. Berdasarkan kalkulator inflasi Federal Reserve Bank of Minneapolis, USD100 pada 2026 memiliki daya beli yang setara dengan sekitar USD11,61 pada 1970.
Dengan perbandingan tersebut, daya beli dolar disebut telah tergerus hampir 90 persen selama periode tersebut.
3 Strategi Melindungi Kekayaan dari Risiko Inflasi
Untuk menghadapi risiko inflasi dan pelemahan nilai mata uang fiat, terdapat sejumlah aset yang secara historis kerap digunakan sebagai instrumen diversifikasi. Berikut tiga strategi yang disebut dalam artikel ini.
1. Emas sebagai Aset yang Tidak Bisa Dicetak Pemerintah
Emas fisik kerap dipandang sebagai salah satu aset safe haven karena jumlahnya terbatas dan tidak dapat diproduksi begitu saja oleh bank sentral.
Dalam lima tahun terakhir, harga emas disebut telah meningkat 149 persen. CEO JPMorgan Jamie Dimon juga pernah memperkirakan harga emas dapat mencapai USD10.000 per ons.
2. Properti dan Real Estat Penghasil Pendapatan
Properti dan real estat juga menjadi salah satu pilihan aset yang sering dikaitkan dengan perlindungan terhadap inflasi. Ketika harga-harga meningkat, nilai properti dan tarif sewa dalam kondisi tertentu dapat ikut mengalami kenaikan.
Indeks S&P CoreLogic Case-Shiller mencatat harga rumah nasional Amerika Serikat meningkat 87 persen dalam 10 tahun terakhir.
Baca Juga : Netanyahu Dikabarkan Kunjungi UEA Secara Mendadak
Perkembangan platform investasi digital juga membuat akses terhadap aset properti menjadi lebih mudah. Salah satunya Arrived yang memungkinkan masyarakat berinvestasi pada properti sewa dengan nilai mulai dari USD100, tanpa harus mengelola properti secara langsung sebagai tuan tanah.
3. Bisnis Produktif dan Indeks S&P 500
Meski menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi dolar AS, Buffett tidak menyatakan bahwa dirinya bertaruh melawan perekonomian Amerika. Menurutnya, kepemilikan terhadap bisnis produktif tetap dapat menjadi pilihan karena perusahaan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan harga produknya ketika terjadi inflasi.
Buffett juga pernah menyampaikan pandangannya mengenai investasi berbasis indeks.
“Bagi kebanyakan orang, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah memiliki dana indeks S&P 500,” ujar Buffett.
