Prancis Kirim Pasukan ke Saudi Hadapi Ancaman Houthi
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengumumkan rencana pengiriman pasukan dan sejumlah aset militer ke Arab Saudi untuk membantu melindungi fasilitas energi vital dari ancaman serangan kelompok Houthi.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron pada Kamis (24/9/2026) dalam wawancara dengan stasiun televisi publik France 2, seperti dikutip dari New York Times.
“Bukan untuk terlibat dalam konflik apa pun, melainkan untuk melindungi lokasi-lokasi ini,” kata Macron.
Ia menjelaskan, Prancis akan mengerahkan personel militer, radar, serta sistem pertahanan untuk membantu mengamankan infrastruktur energi di kota pesisir Yanbu.
Macron juga membuka kemungkinan adanya tambahan dukungan militer apabila situasi di lapangan berkembang. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Prancis menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung upaya menekan harga bahan bakar di dalam negeri.
Houthi Tingkatkan Serangan ke Arab Saudi
Pengerahan aset militer Prancis tersebut merupakan respons terhadap aktivitas kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman.
Baca Juga : Warren Buffet Bagikan 3 Strategi Hadapi Dollar AS
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi dilaporkan berulang kali melancarkan serangan ke wilayah Arab Saudi. Serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan Riyadh mempertahankan kelancaran ekspor minyak dari pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Laut Merah.
Komitmen bantuan Prancis muncul setelah salah satu serangan terbesar dalam periode konflik yang kembali memanas menjadi perang terbuka.
Pada 24 September, koalisi militer pimpinan Riyadh di Yaman menyatakan telah mencegat enam rudal balistik yang diarahkan ke Yanbu dan Taif, salah satu kota lain di Arab Saudi.
Pada hari yang sama, otoritas Saudi mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan serangan yang dapat terjadi di sejumlah wilayah kerajaan.
Perang Yaman Kembali Memanas
Konflik Yaman telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Pertempuran melibatkan kelompok Houthi melawan pasukan pemerintah yang diakui secara internasional dan mendapat dukungan Arab Saudi.
Meskipun gencatan senjata sempat tercapai pada 2022, pertempuran kembali pecah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menciptakan front konflik baru di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Baca Juga : Garda Revolusi Iran Klaim Sita Drone Bawah Laut Milik AS
Di sisi lain, Houthi menuduh Arab Saudi telah melakukan ratusan serangan dalam eskalasi konflik terbaru.
Pada awal September 2026, Houthi juga disebut berhasil merebut pelabuhan strategis Mokha dari pasukan pemerintah yang didukung Riyadh. Penguasaan wilayah tersebut memberikan Houthi kendali atas pesisir barat Yaman sekaligus kawasan Selat Bab El Mandeb.
Selat Bab El Mandeb merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur tersebut menjadi semakin strategis bagi Arab Saudi sebagai rute pengiriman minyak ketika akses melalui Selat Hormuz mengalami gangguan.
