Netanyahu Temui Trump, Survei Ungkap Posisi Makin Tertekan
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bertemu Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, di Gedung Putih ketika posisi politiknya di dalam negeri tengah menghadapi tekanan. Pertemuan yang berlangsung pada Selasa (28/7/2026) tersebut menjadi pertemuan pertama keduanya di Ruang Oval sejak Israel dan AS melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Walaupun kedua pihak menggambarkan pertemuan tersebut berlangsung positif, kunjungan Netanyahu ke Washington juga dinilai memiliki dimensi politik domestik.
Ia disebut tengah berupaya mempertahankan dukungan Trump ketika peluang politiknya di Israel mulai menghadapi tantangan dari kubu oposisi. Hal tersebut menjadi sorotan sebagaimana dilaporkan Newsweek.
Survei Tunjukkan Koalisi Netanyahu Tertinggal
Tekanan terhadap Netanyahu semakin meningkat setelah sejumlah survei memperlihatkan blok politik yang mendukungnya berada di belakang kelompok oposisi.
Baca Juga : 25 Negara Bagian AS Gugat Tarif Trump, Kenapa?
Survei N12 yang dirilis pada 18 Juli menunjukkan 49% responden menyatakan dukungan terhadap partai-partai yang tergabung dalam blok anti-Netanyahu. Sementara itu, partai yang berada di kubu pendukung Netanyahu hanya memperoleh 36%.
Persaingan politik tersebut semakin menarik setelah mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett dan Yair Lapid menyatukan kekuatan melalui aliansi politik bernama “Together”.
Pasar prediksi Polymarket juga memperlihatkan persaingan ketat. Peluang Netanyahu untuk kembali menjabat sebagai perdana menteri berada di angka 40%, hanya sedikit di atas Bennett yang memperoleh 39%.
Mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Gadi Eisenkot berada di posisi berikutnya dengan peluang 11,1%, sedangkan mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman mendapat 7,1%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Netanyahu masih memiliki peluang untuk mempertahankan kekuasaan, tetapi persaingan menuju pemilu Israel diperkirakan berlangsung ketat.
Trump Juga Tertekan di Dalam Negeri
Di sisi lain, Trump juga menghadapi persoalan politik di Amerika Serikat. Presiden AS tersebut mendapat tekanan untuk segera mengakhiri perang dengan Iran yang tidak hanya menuai penolakan, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap harga-harga menjelang pemilu sela pada November.
Dukungan publik AS terhadap Israel juga dilaporkan mengalami penurunan.
Survei AP-NORC menemukan sekitar sepertiga warga Amerika menilai Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza. Angka tersebut bahkan mendekati separuh di kalangan pemilih Partai Demokrat.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia sebelumnya memang telah melontarkan tuduhan tersebut. Namun, pemerintah Israel dan AS dengan tegas membantahnya.
Survei YouGov/The Economist juga menunjukkan sikap publik AS terhadap Netanyahu. Sebanyak 49% responden mendukung penangkapan Netanyahu berdasarkan surat perintah yang diterbitkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Sebaliknya, 27% responden menolak penangkapan tersebut, sedangkan 23% lainnya belum menentukan sikap.
Baca Juga : Trump dan Netanyahu Punya Sikap Berbeda Terkait Pelucutan Hamas
Di tengah berlangsungnya pertemuan Netanyahu dan Trump di Gedung Putih, aksi demonstrasi juga digelar di sekitar kompleks kepresidenan AS.
Para demonstran menyuarakan penolakan terhadap kehadiran Netanyahu dengan meneriakkan slogan, “Bibi, kau tidak diterima di sini.”
Pertemuan tersebut akhirnya menjadi sorotan bukan hanya karena hubungan AS-Israel dan perang Iran, tetapi juga karena kedua pemimpin sama-sama menghadapi tekanan politik di dalam negeri masing-masing.
