Kepala BGN Ancam Pecat Pengelola MBG Tak Berintegritas
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap pihak yang tidak menjalankan tugas dengan integritas dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia bahkan menyatakan tidak keberatan memberhentikan orang-orang yang dinilai tidak mampu bekerja secara baik, terutama jika ditemukan praktik yang merugikan penerima manfaat.
Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono saat merespons berbagai masukan mengenai pelaksanaan MBG. Beberapa persoalan yang menjadi perhatian antara lain kualitas makanan serta dugaan pengurangan porsi yang seharusnya diterima masyarakat.
Baca Juga : Driver Ojek Resmi Ditetapkan sebagai Pelaku UMKM!
Sudaryono mengungkapkan, hasil kunjungannya ke sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menunjukkan kualitas penyajian yang berbeda-beda. Ada dapur yang mampu menyediakan menu dengan baik, tetapi ada pula yang masih mendapat sorotan.
“Saya pengin banyak mendengar. Sebagian dari Anda kan sudah kerja di SPPG. Kan yang dimasak Rp10.000 (per porsi) ya. Ku lihat di beberapa dapur tuh juga menunya bagus, tapi beberapa dapur juga menunya jelek. Banyak faktor, faktor misalnya dekorasinya nggak bagus. Yang kedua memang, memang dikurangi, nggak Rp10.000 yang jadi barang itu. Kenapa? Karena ada praktik-praktik koruptif lah,” kata Sudaryono dalam unggahan video pada saluran WhatsApp resminya, dikutip Senin (10/8/2026).
Menurutnya, orang yang tidak mampu menjalankan pekerjaan dengan baik tidak perlu dipertahankan dalam program MBG. Ia menekankan bahwa penyediaan makanan membutuhkan prosedur khusus karena berkaitan langsung dengan keamanan pangan dan kesehatan penerima.
“Maksud saya, ini yang sekarang aku sudah mohon maaf lah ya kalau aku pecat-pecatin orang aja deh, ya kan orang nggak bisa diajak kerja sama, kerja nggak pakai hati. Mohon maaf, makanan tuh harus namanya special handling. Itu sama seperti misalnya jualan ikan. Itu special handling, karena harus dalam bentuk fresh,” ujarnya.
Sudaryono Sebut Tidak Boleh Ada Keracunan
Selain persoalan kualitas menu dan porsi, Sudaryono menyoroti aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Ia menegaskan BGN harus memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat tidak menimbulkan risiko kesehatan.
Sudaryono bahkan menetapkan target agar kasus keracunan dalam pelaksanaan program tersebut dapat ditekan hingga nol. Baginya, satu kasus saja sudah menjadi persoalan serius karena menyangkut keselamatan manusia.
“Nah makan tuh sama. Aku desperately terkait keracunan. Sebetulnya aku nggak mau ada keracunan. Nol, aku nggak mau. Ini nyawa orang. Ya saya punya anak, ya Anda semua juga punya anak. Kan Anda nggak mau juga anak itu terkapar, misalnya masuk rumah sakit. (Jadi) please lah, itu nggak bisa, nggak bisa diterima. Nggak boleh satu orang penerima manfaat ada yang keracunan dari sekian puluh ribu dapur yang kita buat,” tegas dia.
Baca Juga : RI Butuh Investasi Ribuan Triliun pada 2027, Darimana Sumbernya?
Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG, BGN juga membuka ruang bagi masukan dari berbagai kalangan profesional. Sudaryono menyebut pihaknya menerima masukan dari chef, ahli gizi, akademisi hingga dokter.
BGN, lanjutnya, telah berdiskusi dengan ahli gizi dari sejumlah perguruan tinggi dan Kementerian Kesehatan. Berbagai rekomendasi tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki mekanisme penyelenggaraan program MBG.
