Trump Tekan Iran, Selat Hormuz Makin Sulit Dibuka
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dinilai belum berniat melancarkan serangan militer baru terhadap Iran dalam waktu dekat. Washington justru memilih meningkatkan tekanan ekonomi sambil menunggu perkembangan negosiasi terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dalam wawancara dengan Axios pada Minggu (9/8/2026), Trump mengatakan pemerintahannya kini mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dalam menghadapi Teheran. Pernyataan tersebut dikutip CNBC pada Senin (10/8/2026).
“Kami akan melakukannya secara diam-diam,” kata Trump.
Baca Juga : Bahas Ekonomi Teheran, Presiden Iran Temui Mojtaba
“Kami hanya melakukan negosiasi setengah-setengah dengan mereka. Kami hanya mengamati Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan kenyataan bahwa mereka tidak memiliki uang,” lanjutnya.
Sikap tersebut berbeda dengan pernyataan Trump sebelumnya yang berulang kali mengisyaratkan bahwa kesepakatan dengan Iran dapat segera tercapai. Kini, Washington tampaknya lebih memilih membiarkan kondisi ekonomi Iran semakin tertekan.
Trump bahkan membagikan grafik melalui Truth Social yang menunjukkan pelemahan nilai tukar rial Iran sepanjang 2025 hingga saat ini. Ia memberi judul unggahan tersebut “Iran has no money” atau “Iran tidak punya uang”.
Trump juga menyebut mata uang Iran sebagai “currency is trash” atau “uang kertas itu sampah”.
Iran Ajukan Syarat Pembukaan Selat Hormuz
Di tengah tekanan ekonomi dari Washington, Teheran justru memasang sejumlah persyaratan sebelum Selat Hormuz dibuka kembali.
Iran meminta AS mencabut blokade laut dan sanksi, menarik pasukannya dari kawasan, memberikan kompensasi atas kerugian akibat perang, serta membebaskan aset Iran yang dibekukan.
Teheran juga tengah melakukan pembicaraan dengan Oman untuk membahas mekanisme lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Pemerintah Oman mengatakan dialog tersebut berlangsung dalam suasana yang “positif dan konstruktif”. Muscat juga meminta seluruh pihak menghentikan serangan terhadap kapal yang melintas agar proses diplomasi tetap berjalan.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pembicaraan langsung dengan AS belum dapat dilanjutkan selama Washington dinilai masih melanggar nota kesepahaman yang disepakati pada Juni.
Menurut Tasnim News Agency, media semi-resmi yang memiliki keterkaitan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps, Araghchi mengatakan negosiasi belum mungkin dimulai kembali sebelum AS memberikan kompensasi atas pelanggaran yang disebut telah dilakukan.
“Para perantara masih berupaya mencari cara untuk melanjutkan negosiasi,” kata Araghchi.
AS Perketat Blokade Selat Hormuz
Kebuntuan diplomasi justru diikuti dengan meningkatnya tekanan AS terhadap aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz.
Militer AS dilaporkan mengalihkan 20 kapal komersial tambahan dari pelabuhan-pelabuhan Iran sepanjang pekan lalu. Dengan tambahan tersebut, US Central Command menyatakan jumlah kapal komersial yang telah dialihkan mencapai 55 kapal hingga Minggu.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 2 Agustus 2026 ketika jumlah kapal yang dialihkan baru mencapai 35 kapal.
Baca Juga : Taiwan Siapkan Strategi Hadapi Ancaman China
Selain melakukan pengalihan, pasukan AS juga dilaporkan menonaktifkan dua kapal dan menaiki dua kapal lainnya sebagai bagian dari upaya memastikan kepatuhan terhadap blokade.
Peningkatan aktivitas tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian krisis yang telah berlangsung lebih dari lima bulan masih jauh dari kata pasti.
Sebelum konflik pecah pada Februari, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sekitar seperempat perdagangan minyak global melalui jalur laut melewati kawasan tersebut. Sekitar seperlima perdagangan LNG dunia juga bergantung pada jalur ini.
Kapal yang Melintas Terus Menurun
Ketegangan di Hormuz berdampak langsung terhadap aktivitas pelayaran. Data pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya delapan pelintasan kapal yang terkonfirmasi melalui selat tersebut pada Jumat pekan lalu.
Jumlah itu turun sekitar 33 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Situasi serupa juga terjadi di Laut Merah. Serangan Iran dan kelompok Houthi yang didukung Teheran membuat sejumlah perusahaan pelayaran memilih menjauh dari kedua jalur perdagangan tersebut.
Uni Emirat Arab (UEA) pada Sabtu mengatakan Iran menembakkan rudal ke sebuah kapal tanker milik Abu Dhabi National Oil Company ketika kapal tersebut berusaha melintasi Selat Hormuz.
Pada hari berikutnya, kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi serta sejumlah peralatan di kota pelabuhan al-Makha, Laut Merah.
Harga Minyak Naik
Ketidakpastian mengenai masa depan Selat Hormuz ikut mengerek harga minyak dunia.
Pada perdagangan Senin, harga minyak mentah Brent naik 1,1 persen menjadi US$84,45 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 1 persen ke level US$78,98 per barel.
Kepala Strategi Komoditas ING Bank Warren Patterson menilai ruang kompromi antara Washington dan Teheran masih sangat terbatas.
“Sepertinya tidak ada kompromi yang signifikan, yang pada akhirnya mempersulit tercapainya kesepakatan yang berkelanjutan,” kata Patterson dalam catatan riset pada Jumat lalu.
ING Bank masih mempertahankan proyeksi harga rata-rata minyak Brent sebesar US$80 per barel pada kuartal ini.
Bank tersebut memperkirakan arus perdagangan minyak berpotensi kembali normal pada kuartal III. Namun, risiko terhadap proyeksi itu masih cukup besar.
Baca Juga : Respon Iran Terkait Pakta Pertahanan Arab Saudi, Turkiye, Pakistan
Patterson menilai perkembangan terbaru belum mampu menghilangkan ketegangan. Pernyataan keras dari kedua pihak serta semakin dalamnya ketidakpercayaan antara Washington dan Teheran justru membuka peluang situasi kembali memburuk.
“Situasinya bisa memburuk lagi,” ujar Patterson.
Iran Siapkan Pembatasan Lalu Lintas Kapal
Di tengah belum adanya kesepakatan, Iran juga menyiapkan rancangan aturan baru yang berpotensi memperketat lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran melaporkan rancangan tersebut mencakup larangan bagi kapal AS dan Israel untuk melintasi selat. Kapal dari negara-negara yang dianggap bermusuhan juga diwajibkan memberikan kompensasi sebelum memperoleh izin melintas.
Rancangan tersebut masih dibahas di parlemen Iran, menurut media pemerintah Fars.
Iran bahkan mengusulkan pemberian sanksi bagi pihak yang melanggar aturan. Besaran dendanya mencapai 20 persen dari nilai muatan yang dibawa kapal.
Dengan berbagai tuntutan tersebut, pembukaan kembali Selat Hormuz masih menghadapi jalan panjang. Persoalannya tidak hanya menyangkut tuntutan kompensasi dan pencabutan sanksi oleh Iran, tetapi juga blokade AS serta rencana Teheran memperketat akses kapal di jalur perdagangan energi tersebut.

[…] Trump Tekan Iran, Selat Hormuz Makin Sulit Dibuka […]