Pakistan: AS-Iran Hampir Sepakat Buka Selat Hormuz
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyebut Amerika Serikat (AS) dan Iran hampir mencapai kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan ketika negosiasi kedua negara masih menghadapi jalan buntu setelah berlangsung selama beberapa bulan.
“Segalanya mulai mengarah ke perdamaian,” kata Khawaja Asif kepada wartawan di Islamabad, Selasa (11/8/2026).
Khawaja tidak menjelaskan secara rinci bentuk terobosan yang dimaksud. Namun, perkembangan tersebut muncul bersamaan dengan upaya Pakistan dan Qatar yang selama ini berperan sebagai mediator dalam konflik AS-Iran.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi juga tiba di Teheran untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran. Kantor berita semi-resmi Iran Students’ News Agency melaporkan kunjungan tersebut dilakukan untuk membahas perkembangan konflik.
Baca Juga: Cadangan MInyak Amerika Turun ke Level Terendah sejak 1980an
Pembicaraan Pembukaan Selat Hormuz Berlanjut
Sebelumnya, pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz untuk sebagian pelayaran disebut telah memasuki tahap lanjutan.
Informasi tersebut disampaikan Al Jazeera dengan mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar. Pakistan bersama Qatar diketahui turut terlibat dalam upaya mediasi konflik yang melibatkan Iran dan AS.
Meski demikian, belum jelas apakah pembicaraan tersebut akan menghasilkan pembukaan Selat Hormuz secara penuh atau hanya memungkinkan sebagian kapal melintas dengan persyaratan tertentu.
Mohsen Rezaee, yang baru ditunjuk sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, justru menekankan bahwa pembahasan dengan Oman tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan dibuka.
Menurut laporan kantor berita pemerintah Iran IRIB, Rezaee mengatakan kesepakatan dengan Oman terkait pengelolaan jalur perairan akan tetap terpisah dari keputusan Iran mengenai penutupan Selat Hormuz.
Iran juga menyampaikan sejumlah tuntutan tambahan kepada Washington melalui mediator. Rezaee menyebut tuntutan tersebut mencakup penghentian perang oleh AS dan pencairan aset Iran yang diblokir.
Pernyataan itu disampaikan setelah Rezaee bertemu dengan Duta Besar China untuk Iran Cong Peiwu di Teheran.
Trump Perkeras Tuntutan terhadap Iran
Optimisme Pakistan mengenai peluang tercapainya kesepakatan muncul setelah Presiden AS Donald Trump justru memperkeras sikap terhadap Iran.
Pada Senin (10/8/2026), Trump menuntut Iran membayar kompensasi bagi korban serangan yang dikaitkan dengan Republik Islam tersebut maupun korban aksi protes domestik.
Pernyataan Trump merespons sejumlah tuntutan Iran yang disampaikan pada akhir pekan. Teheran antara lain meminta kompensasi atas dugaan pelanggaran AS terhadap kesepakatan damai sementara yang disepakati kedua pihak pada Juni lalu.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump merasa berada dalam posisi tawar yang kuat dan tidak terburu-buru mencapai kesepakatan. Pejabat tersebut juga menyebut AS menilai tuntutan Iran terus berubah.
Menurut pejabat yang berbicara secara anonim tersebut, Washington melihat Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar serta perselisihan antarfraksi.
Sementara itu, analis International Crisis Group Ali Vaez menilai proses menuju kesepakatan masih menghadapi persoalan besar.
“Para mediator berupaya mengembalikan semuanya ke jalur yang benar, tetapi pelaksanaannya jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan,” kata Ali Vaez.
“Bahaya yang muncul adalah Washington mungkin melihat kepatuhan Iran sebagai prasyarat untuk menjalankan MoU, sementara Teheran memandang pelaksanaan oleh AS sebagai prasyarat untuk melanjutkan perundingan—sehingga kembali menciptakan jebakan urutan yang persis sama yang sebelumnya membantu menggagalkan kesepakatan tersebut,” tambahnya.
Baca Juga: Netanyahu yang Tolak Rencana Damai Gaza DIjawab Trump
Ketegangan Masih Membayangi Selat Hormuz
Saling lempar tuntutan antara AS dan Iran membuat peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat masih belum pasti. Iran hampir dipastikan menolak tuntutan terbaru Trump yang disebut akan dimasukkan secara tegas dalam setiap perundingan berikutnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Sebelum konflik dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia mengalir melalui jalur tersebut.
Di tengah upaya diplomasi, ketegangan militer juga masih berlangsung. Pada Selasa dini hari, sebuah helikopter Angkatan Laut AS menembakkan rudal ke kapal kargo berbendera Panama yang disebut berupaya menerobos blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan tembakan diarahkan ke ruang mesin untuk melumpuhkan sistem kemudi kapal.
Angkatan Laut Inggris juga menerima laporan mengenai insiden yang melibatkan kapal kontainer dan pasukan militer di Teluk Oman. Selain itu, sebuah kapal kargo di lepas pantai Laut Merah Yaman dilaporkan terkena proyektil yang belum diketahui jenisnya dan menimbulkan korban.
Ketegangan tersebut turut berdampak pada pasar energi. Harga minyak mentah AS ditutup di sekitar 83 dollar AS per barel pada Selasa, sementara kontrak berjangka diesel Eropa melonjak lebih dari 10 persen setelah sejumlah kilang di Libya dan Rusia diserang.
Arab Saudi sebelumnya juga memadamkan kebakaran di kilang minyak Jazan. Kementerian Energi Saudi mengonfirmasi kebakaran tersebut, sementara kelompok Houthi Yaman beberapa jam kemudian mengklaim telah menyerang fasilitas itu.
“Wilayah ini tidak bisa selamanya berada dalam kondisi tidak berperang maupun berdamai,” tulis Anwar Gargash, penasihat diplomatik senior Presiden Uni Emirat Arab, dalam unggahan di X.
“Stabilitas dan masa depan masyarakatnya membutuhkan kejelasan visi dan arah,” lanjutnya.
