Pengangguran Anak Muda Naik, AI Bikin Kerja Pemula Menyusut
Pengangguran anak muda di dunia meningkat pada 2025. Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat kenaikan paling tajam terjadi di sejumlah negara berpendapatan tinggi, ketika perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah pasar kerja.
Badan ketenagakerjaan yang berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengatakan, pemulihan pasar kerja anak muda setelah pandemi Covid-19 yang sempat terjadi kini mulai terhenti.
Dalam laporan Global Employment Trends for Youth 2026, ILO mencatat tingkat pengangguran global anak muda naik dari 12,3 persen pada 2024 menjadi 12,4 persen pada 2025.
Angka tersebut setara dengan sekitar 67 juta orang berusia 15-24 tahun yang tidak memiliki pekerjaan.
Sementara itu, proporsi anak muda yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan atau not in employment, education, or training (NEET) juga sedikit meningkat menjadi 20 persen.
Kondisi tersebut memengaruhi lebih dari 257 juta anak muda di seluruh dunia.
Baca Juga: Anggaran MBG dan Pendidikan 2027 Berubah? Ini Penjelasan Istana
Peralihan dari Sekolah ke Dunia Kerja Kian Sulit
Laporan ILO yang pertama kali diterbitkan pada 2004 tersebut memberikan gambaran tahunan mengenai kondisi pasar kerja anak muda secara global dan regional.
ILO menemukan bahwa sejumlah kenaikan terbesar tingkat pengangguran anak muda terjadi di negara-negara berpendapatan tinggi.
Kondisi tersebut dinilai “menggagalkan aspirasi jutaan anak muda yang baru memulai kehidupan kerja mereka”.
“Pertumbuhan ekonomi global yang melambat, penciptaan lapangan kerja yang menyusut, ketegangan geopolitik, dan perubahan teknologi yang cepat berpadu membuat peralihan dari sekolah menuju pekerjaan yang layak semakin sulit bagi banyak anak muda,” kata laporan tersebut.
ILO memperkirakan tingkat pengangguran anak muda akan bertahan di level 12,3 persen pada 2026 dan 2027.
Sara Elder, Kepala Unit Analisis Ketenagakerjaan dan Kebijakan Ekonomi ILO, mengatakan kondisi akan menjadi perhatian serius ketika tingkat pengangguran anak muda dan NEET meningkat secara bersamaan.
“Ketika tingkat pengangguran anak muda dan tingkat NEET meningkat secara bersamaan, kami mengibarkan bendera merah,” kata Elder dalam konferensi pers.
AI Picu Kecemasan di Kalangan Anak Muda
Selain kondisi ekonomi, perkembangan AI turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan anak muda. Meski demikian, dampak langsung AI terhadap tingkat pengangguran masih belum dapat dipastikan.
Laporan ILO menyebut anak muda “semakin mengungkapkan ketakutan bahwa pekerjaan mereka akan digantikan teknologi dan peluang mereka memperoleh pekerjaan serta kestabilan pendapatan akan terhambat oleh gangguan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya, maupun perubahan lain dalam dunia kerja di masa depan”.
Sukti Dasgupta, Direktur Departemen Ketenagakerjaan, Keterampilan, dan Usaha Berkelanjutan ILO, mengatakan terlalu dini untuk menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara perkembangan AI dan peningkatan pengangguran anak muda.
Namun, ia menilai terdapat pola yang patut diperhatikan.
” Kebetulannya cukup nyata,” ujar Dasgupta, sembari menyerukan penelitian lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut Dasgupta, dunia saat ini menghadapi ketidakpastian dan kerentanan ekonomi global yang besar. Di tengah kondisi tersebut, muncul pula berbagai risiko baru yang berkaitan dengan perkembangan AI.
“Tak satu pun dari semua ini menjadi pertanda baik bagi anak muda,” ujarnya.
ILO juga menemukan bahwa pekerjaan yang selama ini menjadi pintu masuk anak muda ke pasar kerja semakin berkurang. Pekerjaan tersebut antara lain posisi perkantoran dan administrasi, penjualan, serta manufaktur.
“Generasi yang tidak dapat menemukan pekerjaan layak tidak akan mampu membangun masa depannya dengan penuh keyakinan,” kata Kepala ILO Gilbert Houngbo.
“Ketika anak muda tersingkir dari pekerjaan berkualitas, negara kehilangan talenta, produktivitas, dan kohesi sosial. Menciptakan pekerjaan layak bagi anak muda bukan sekadar keharusan sosial, melainkan salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan sebuah negara.”
Baca Juga: Purbaya Sebut Ide Prabowo: Keuntungan Danantara Jadi Cadangan APBN
Tren Pengangguran Anak Muda di Berbagai Wilayah
Di tingkat subregional, peningkatan terbesar pengangguran anak muda terjadi di Afrika Utara, Amerika Utara, serta Eropa Utara, Selatan, dan Barat.
Sementara itu, di Asia Tengah dan Barat serta Eropa Timur, penurunan tingkat pengangguran anak muda diikuti dengan peningkatan jumlah anak muda yang masuk kategori NEET.
Adapun kedua indikator tersebut justru menurun di Amerika Latin dan Karibia. Namun, hasil tersebut antara lain dipengaruhi oleh menyusutnya jumlah penduduk usia muda di kawasan tersebut.
Negara-negara Arab dan Afrika Utara disebut “secara konsisten menjadi subkawasan dengan tingkat pengangguran anak muda tertinggi di dunia”.
Tingkat pengangguran anak muda di negara-negara Arab mencapai 26,2 persen, sedangkan Afrika Utara mencapai 22,6 persen.
ILO memperingatkan bahwa ketika tingkat pengangguran dan NEET meningkat dari level yang sudah tinggi, kondisi tersebut menunjukkan semakin kuatnya hambatan struktural yang menghalangi anak muda masuk ke dunia kerja.
“Hal itu menandakan semakin dalamnya hambatan struktural yang telah mengakar dan mendorong talenta-talenta muda, terutama perempuan muda, ke pinggiran masyarakat produktif.”
