Iran-Oman Sepakati Tarif Kapal di Selat Hormuz, Cek!
Iran dan Oman dilaporkan telah menyepakati pembagian pendapatan dari biaya yang dikenakan kepada kapal yang melintas di Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut disebut mencakup pembagian wilayah perairan serta porsi pendapatan yang menjadi hak masing-masing negara.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, mengungkapkan kesepakatan itu pada Rabu (26/8/2026). Menurutnya, Iran dan Oman telah menentukan pembagian wilayah perairan sekaligus mekanisme pembagian pendapatan dari aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut.
“Kesepakatan telah dicapai mengenai bagian masing-masing negara atas perairan selat, serta bagian Iran dan Oman atas pendapatannya,” kata Mohebbi, seperti dikutip The Business Times.
Baca Juga : Banjir Bandang di Nepal Tewaskan Ratusan Orang, 403 Orang Hilang
:
Meski demikian, informasi mengenai pembagian pendapatan tersebut belum tercantum dalam pernyataan resmi bersama yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Iran dan Oman sehari sebelumnya.
Dalam pernyataan pada Selasa (25/8/2026), kedua negara hanya menyebut telah membahas kerangka sementara untuk menghidupkan kembali lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. Tidak ada rincian mengenai besaran tarif maupun skema pembagian biaya transit.
Mohebbi juga menuding Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu pihak yang menghambat proses negosiasi terkait pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut.
Selat Hormuz Belum Sepenuhnya Dibuka Iran
Kesepakatan antara Iran dan Oman belum secara otomatis membuat Selat Hormuz kembali beroperasi secara normal. Teheran menegaskan masih terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sebelum aktivitas pelayaran dapat kembali seperti sebelum konflik.
Iran menyatakan pemulihan lalu lintas kapal juga berkaitan dengan kesediaan AS menjalankan poin-poin dalam nota kesepahaman (MoU) yang disepakati pada Juni.
Beberapa tuntutan Iran mencakup pencabutan sanksi ekonomi, penghentian blokade laut terhadap pelabuhan Iran, serta pelepasan aset Iran yang saat ini masih dibekukan di luar negeri.
Sampai sekarang, Washington belum memberikan indikasi bahwa seluruh tuntutan tersebut akan dipenuhi.
Di tengah kondisi tersebut, Presiden AS Donald Trump justru menyatakan bahwa Selat Hormuz sudah kembali terbuka. Dalam wawancara dengan program radio Glenn Beck pada Rabu (26/8/2026), Trump mengatakan ranjau di jalur tersebut telah disingkirkan dan kapal-kapal mulai kembali melintas.
Trump bahkan menyebut sekitar 10 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz pada hari sebelumnya.
Pernyataan itu langsung bertolak belakang dengan sikap Teheran. Pemerintah Iran menyatakan hanya pejabatnya yang mengetahui lokasi bahan peledak maupun ranjau yang berada di kawasan selat.
Keterangan Trump juga berbeda dengan pernyataan kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO) pada pekan sebelumnya yang menyebut Selat Hormuz belum dapat dinyatakan terbuka. IMO juga belum memperoleh konfirmasi bahwa seluruh ranjau di jalur pelayaran telah berhasil disingkirkan.
Jalur Transit Kapal yang Disepakati Iran-Oman
Dalam kerangka sementara yang dibahas kedua negara, kapal yang bergerak dari Teluk Oman menuju Teluk Persia nantinya akan menggunakan bagian perairan Iran.
Sementara kapal yang bergerak keluar dari Teluk Persia akan melintasi wilayah perairan Iran dan Oman. Kedua negara juga berencana bekerja sama dalam pengelolaan jalur pelayaran sekaligus proses pembersihan ranjau bawah laut.
Baca Juga : Trump Klaim Pemimpin Iran Masih Hidup setelah Terluka Parah
Persoalan tarif menjadi salah satu bagian paling sensitif dalam pembahasan tersebut. Sebelum konflik, Selat Hormuz dikenal sebagai jalur pelayaran yang dapat dilewati kapal tanpa pungutan transit.
Iran kemudian mulai mengenakan biaya kepada sejumlah kapal pada awal perang. Namun, Teheran menyebut pungutan tersebut bukan sebagai tarif transit, melainkan biaya yang berkaitan dengan layanan keamanan.
Pemerintahan Trump sebelumnya telah beberapa kali memperingatkan Iran dan Oman agar tidak mengenakan biaya kepada kapal yang menggunakan jalur tersebut.
Oman sendiri telah menyampaikan kepada IMO bahwa negaranya menolak penerapan tarif transit di Selat Hormuz. Namun, Bloomberg pada Juni melaporkan bahwa Oman secara informal memperingatkan sejumlah pejabat Eropa mengenai kemungkinan kapal tetap dikenai biaya untuk layanan pengelolaan dan keamanan jalur pelayaran.
Selat Hormuz memiliki arti penting bagi perdagangan energi global. Jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab tersebut sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia.
