Laba Industri China Anjlok, Ekonomi Negeri Tirai Bambu Mulai Kehilangan Momentum
Pertumbuhan laba industri China mengalami perlambatan pada Juli 2026. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap sektor manufaktur di tengah lemahnya permintaan domestik dan perlambatan ekonomi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.
Mengutip CNBC International, Kamis (27/8/2026), Biro Statistik Nasional China (NBS) mencatat laba perusahaan industri pada Juli hanya tumbuh 11,2 persen secara tahunan. Angka tersebut menjadi pertumbuhan paling rendah sepanjang tahun ini.
Secara keseluruhan, laba industri China selama periode Januari hingga Juli 2026 masih meningkat 17,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut menunjukkan perlambatan dibandingkan pertumbuhan 18,7 persen yang tercatat pada semester pertama 2026.
Meski mengalami perlambatan, sektor industri China sebenarnya telah menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pemulihan laba industri sebagian besar ditopang oleh meningkatnya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya peralatan komputasi dan produk elektronik.
Baca Juga: Bawa Peringatan untuk Putin, Ini Misi Rahasia Bos ciA ke Rusia
Industri sirkuit terpadu yang mencakup produsen chip memori dan komputasi mencatat pertumbuhan laba sebesar 18,5 persen sepanjang Januari-Juli 2026. Sektor tersebut bahkan menyumbang lebih dari 80 persen total peningkatan laba di industri elektronik.
Selain sektor teknologi, industri manufaktur bahan baku juga mengalami peningkatan signifikan. Laba sektor tersebut melonjak 55,2 persen hingga akhir Juli dibandingkan tahun sebelumnya.
Industri pengolahan minyak bumi juga berhasil membalikkan kondisi dari kerugian menjadi keuntungan dalam tujuh bulan pertama tahun ini. Salah satu faktor pendorongnya adalah gangguan pasokan energi di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga produk kimia turunan.
Namun, pemulihan tersebut belum merata karena sektor yang berhubungan langsung dengan konsumen masih menghadapi tekanan besar.
Krisis Properti dan Lemahnya Konsumsi Jadi Beban Ekonomi China
Ekonom Senior Economist Intelligence Unit (EIU), Tianchen Xu, mengatakan industri yang terkait rantai pasokan AI masih mampu bertahan. Namun, sektor yang bergantung pada konsumsi masyarakat justru mengalami tekanan.
“Pertumbuhan yang melambat terutama diseret turun oleh jatuhnya investasi di properti dan infrastruktur, dibuktikan dengan memburuknya laba di industri baja dan semen,” paparnya.
Salah satu sektor yang mengalami tekanan paling besar adalah manufaktur furnitur. Laba industri tersebut turun 58,2 persen dalam tujuh bulan pertama 2026, lebih dalam dibandingkan penurunan 52,7 persen pada Juni.
Tekanan tersebut berkaitan erat dengan krisis sektor properti China yang belum sepenuhnya pulih. Lemahnya pasar perumahan membuat permintaan terhadap berbagai produk konstruksi dan barang konsumsi ikut melemah.
Data LSEG menunjukkan harga produsen China sempat mengalami pemulihan setelah mengalami tekanan sejak Oktober 2022. Namun, kenaikan tersebut mulai kehilangan momentum karena lebih banyak didorong oleh meningkatnya biaya energi global, bukan karena penguatan permintaan domestik.
Inflasi tingkat produsen China juga melambat menjadi 3,5 persen pada Juli 2026, menjadi level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Baca Juga: Tersisa 3 Negara, AS Cabut Status Sponsor Teror Suriah
Perlambatan tersebut sejalan dengan kondisi ekonomi China secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tercatat menjadi yang paling lambat dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Selain laba industri, sejumlah indikator ekonomi lain juga menunjukkan pelemahan. Pertumbuhan ekspor riil China turun menjadi 5,5 persen pada Juli dari sebelumnya 11,6 persen pada Juni. Aktivitas penjualan ritel, lalu lintas pelabuhan, dan produksi listrik juga mengalami perlambatan.
Melihat kondisi tersebut, sejumlah ekonom memperkirakan pemerintah China akan meningkatkan dukungan fiskal untuk menjaga stabilitas dunia usaha.
Ekonom Julius Baer, Sophie Altermatt, menilai pemerintah kemungkinan akan mempercepat penggunaan stimulus dalam beberapa bulan ke depan jika tekanan ekonomi terus berlanjut.
“Ini harus memberikan beberapa stabilisasi jangka pendek dan menempatkan dasar di bawah pertumbuhan,” ucapnya.
Namun, ia menilai pemulihan ekonomi China masih menghadapi tantangan besar.
“Kehancuran pasar properti, kepercayaan rumah tangga yang lesu, dan investasi swasta yang lemah membatasi pemulihan,” tambahnya.
Dengan tekanan dari sektor properti, konsumsi masyarakat, dan investasi swasta, kebangkitan ekonomi China secara kuat dalam waktu dekat masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah Beijing.
