Iran Peringatkan Korea Selatan soal Operasi Militer di Hormuz
Iran memperingatkan Korea Selatan agar tidak terlibat dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz.
Peringatan tersebut disampaikan Teheran pada Senin (7/9/2026), setelah Pemerintah Korea Selatan pada Jumat (4/9/2026) menyatakan sedang mempertimbangkan memberikan “kontribusi” terhadap upaya keamanan AS di jalur pelayaran strategis tersebut.
Seoul menyebut opsi itu masih dipertimbangkan dengan syarat tidak mengganggu kesiapan militernya sendiri.
Baca Juga: Kanada Naikkan Tarif Produk AS Sampai 50 Persen
Pemerintah Korea Selatan juga menegaskan belum mengambil keputusan resmi terkait rencana tersebut.
Iran Ingatkan Korsel soal Konsekuensi
Sikap Korea Selatan tersebut langsung mendapat respons keras dari Teheran. Iran meminta Seoul tidak tunduk pada tekanan Washington dan memperingatkan bahwa keterlibatan militer di kawasan dapat menimbulkan konsekuensi serius.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan peringatan tersebut melalui unggahan di media sosial X, dikutip dari AFP.
“Segala pengerahan militer atau partisipasi dalam operasi negara lain di Teluk Persia atau Selat Hormuz dapat dianggap dukungan langsung bagi pihak yang bertanggung jawab atas agresi tersebut, dan akan menimbulkan konsekuensi serius,” ujar Baghaei.
Ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat sejak perang Iran dan AS pecah pada 28 Februari 2026. Iran menguasai sebagian besar wilayah perairan strategis tersebut.
Meskipun gencatan senjata pada April menghentikan pengeboman intensif pada tahap awal, kedua negara masih saling melancarkan serangan di dalam dan sekitar kawasan Teluk.
Baca Juga: Rusia Gempur Kyiv Lagi, 6 Terluka setelah Utusan AS Pergi
Perundingan antara Iran dan AS juga menemui jalan buntu. Salah satu persoalan utama yang belum terselesaikan adalah perebutan kendali atas jalur navigasi vital di Selat Hormuz.
Dalam kondisi normal, Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima ekspor minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Namun, konflik sejak Februari membuat lalu lintas di jalur tersebut lumpuh dan mengganggu pasar energi global.
Iran kini mewajibkan seluruh kapal meminta izin sebelum melintas. Kebijakan tersebut ditentang Washington dan sejumlah negara di kawasan.
Teheran juga menegaskan bahwa sistem navigasi bebas tanpa hambatan seperti sebelum perang tidak akan diberlakukan kembali.
