Presiden Iran Tegaskan Teheran Tak Akan Menyerah kepada AS
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan Teheran tidak akan tunduk terhadap tekanan Amerika Serikat (AS) di tengah perang yang terus memanas di Timur Tengah.
Pezeshkian menyampaikan sikap tersebut saat bertemu para pemimpin agama India di New Delhi, Jumat. Kunjungan itu menjadi lawatan pertamanya ke India untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS sekaligus bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi.
Mengutip CNBC, Sabtu (12/09/2026), Pezeshkian menyebut Iran telah mampu menghadapi agresi yang dilakukan AS dan Israel.
“Karena kami mencari kebenaran dan keadilan, kami tidak akan menyerah di hadapan kesombongan yang menindas,” tegasnya.
Baca Juga : Houthi Rebut Mokha, Kini Bergerak ke Selat Bab El Mandeb
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pelaksanaan KTT BRICS pada akhir pekan. Sikap Pezeshkian muncul tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump kembali membela keputusan Washington melakukan tindakan militer terhadap Iran.
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa Iran berpotensi menghancurkan Israel dan kawasan Timur Tengah serta menyerang kota-kota AS apabila Washington tidak mengambil tindakan tegas.
“Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukan persis seperti apa yang telah saya lakukan,” ucapnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Pezeshkian dan Modi tetap melakukan pertemuan bilateral pada Jumat.
Dalam pembicaraan tersebut, Modi menyoroti keselamatan para pelaut serta pentingnya menjaga perdamaian, kebebasan navigasi, dan kelancaran perdagangan internasional.
Pemimpin India itu juga mendorong agar konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah segera diakhiri melalui dialog dan jalur diplomatik.
Seruan tersebut menjadi perhatian penting bagi India karena konflik di kawasan telah mengganggu jalur pelayaran dan distribusi energi global.
Arus pengiriman minyak dan barang melalui Selat Hormuz, yang berada di antara Iran dan Oman, telah mengalami perlambatan tajam sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Gangguan tersebut membuat sejumlah kapal dan awaknya terjebak di laut selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Eskalasi pertempuran sepanjang bulan ini juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut menjadi ancaman bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
India termasuk negara yang rentan terdampak. Sebagai salah satu ekonomi utama dengan pertumbuhan tercepat, India mengimpor hampir 85% kebutuhan bahan bakarnya dan sangat bergantung pada kelancaran distribusi melalui Selat Hormuz.
Dampak konflik juga dirasakan langsung warga negara India. Pada Juli lalu, dua kapal yang membawa total 30 pelaut India dilaporkan diserang ketika melintasi Selat Hormuz. Berdasarkan data pemerintah India, sebanyak 10 pelaut India telah meninggal akibat konflik yang meluas di Timur Tengah.
Baca Juga : Trump Tidak Menyesal Konflik dengan Iran, Meski Hadapi Pemilu
Situasi tersebut semakin memperkuat kepentingan New Delhi untuk mendorong deeskalasi dan memastikan jalur pelayaran internasional tetap terbuka.
Meski demikian, ketegangan geopolitik tidak menghalangi hubungan Iran dan India untuk menunjukkan kedekatan.
Pezeshkian dan Modi terlihat bergandengan tangan ketika meninggalkan Forum Bisnis BRICS pada Jumat. Momen tersebut kemudian turut dirayakan Kedutaan Besar Iran di India melalui unggahan di platform X.
“Ketika para pemimpin dua negara besar bergandengan tangan, mereka mengingatkan kita akan persahabatan bersejarah antara dua peradaban besar,” ungkapnya.
