MBS Temui Panglima CENTCOM di Tengah Ancaman Houthi
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), menerima kunjungan Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper di Jeddah, Arab Saudi, Senin (14/9/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ancaman kelompok Houthi terhadap Arab Saudi dan laporan mengenai permintaan Riyadh kepada Washington untuk memberikan bantuan militer langsung.
Kantor berita Arab Saudi, SPA, yang dikutip Anadolu, melaporkan MBS dan Cooper membahas hubungan bilateral Arab Saudi-Amerika Serikat (AS) serta perkembangan terbaru di kawasan.
Pertemuan itu turut dihadiri Menteri Negara, anggota Kabinet, sekaligus Penasihat Keamanan Nasional Arab Saudi Musaed bin Mohammed Al-Aiban.
MBS Sempat Minta Trump Serang Houthi
Kunjungan Cooper ke Arab Saudi berlangsung beberapa hari setelah MBS dilaporkan meminta Presiden AS, Donald Trump, melakukan intervensi militer langsung untuk menghadapi Houthi.
Baca Juga : Korea Utara Pamer Senjata Baru di dalam Latihan Serangan
Menurut laporan Axios, permintaan tersebut disampaikan setelah pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Saudi mengalami kemunduran dalam pertempuran melawan Houthi.
MBS disebut meminta AS melancarkan serangan langsung terhadap kelompok yang didukung Iran tersebut. Namun, Trump dilaporkan menolak permintaan itu.
Meski tidak bersedia melakukan serangan langsung, Washington tetap memberikan dukungan kepada Riyadh. Gedung Putih mengizinkan transfer informasi intelijen yang dapat digunakan untuk membantu operasi pasukan Arab Saudi.
Selain itu, sekitar 200 personel militer AS berada di Arab Saudi. Mereka bertugas memberikan bantuan penasihat sekaligus membangun hubungan dengan pihak militer setempat.
Dalam situasi tersebut, kedatangan Cooper menjadi bagian dari komunikasi pertahanan antara Washington dan Riyadh ketika ancaman Houthi semakin meningkat.
Houthi Serang Wilayah Arab Saudi
Houthi sebelumnya melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi sipil di wilayah selatan Arab Saudi pada awal pekan lalu. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan 73 orang mengalami luka-luka.
Di Yaman, kelompok tersebut juga terus memperluas pengaruhnya. Houthi disebut telah menguasai Mokha dan sejumlah wilayah pesisir di sekitarnya yang berada dekat Selat Bab El-Mandeb.
Bab El-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Penguasaan kawasan tersebut memberikan posisi penting bagi Houthi untuk mengancam lalu lintas pelayaran di kawasan.
Fasilitas Energi Saudi Ikut Terancam
Pertemuan MBS dan Cooper juga berlangsung ketika serangan terhadap kepentingan energi Arab Saudi menjadi perhatian.
Anadolu melaporkan jaringan pipa East-West Saudi sempat ditutup sementara pada pekan lalu sebagai langkah pencegahan. Keputusan tersebut diambil setelah serangan drone dari Irak menghantam wilayah Riyadh dan Madinah.
Situasi ini menambah tekanan terhadap Riyadh yang sebelumnya telah menghadapi serangkaian serangan Houthi.
Arab Saudi juga disebut tengah mempertimbangkan operasi militer berskala besar untuk menghadapi Houthi. Operasi tersebut bahkan berpotensi dilakukan tanpa keterlibatan langsung pasukan AS.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa Riyadh dalam beberapa hari terakhir telah menyampaikan kesiapan untuk menjalankan operasi besar terhadap Houthi. Namun, hingga kini belum ada keputusan final dari pemerintah Arab Saudi.
Konflik Yaman Kembali Memanas
Konflik Yaman bermula ketika Houthi merebut Ibu Kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014.
Baca Juga : Pilihan Hadapi Houthi Menyempit, Arab Saudi Terdesak
Arab Saudi kemudian memimpin koalisi negara-negara Arab untuk melakukan intervensi militer pada Maret 2015. Intervensi tersebut bertujuan mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Pertempuran berlangsung selama bertahun-tahun dan sempat mereda setelah gencatan senjata yang mulai berlaku pada April 2022.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ketegangan kembali meningkat. Kemajuan Houthi di sejumlah wilayah strategis serta serangan terhadap Arab Saudi membuat Riyadh kembali menghadapi tekanan untuk menentukan langkah berikutnya.
