BOJ Naikkan Suku Bunga Jadi 1,25 Persen, Tertinggi Sejak 1995
Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen pada Jumat (18/9/2026).
Kenaikan tersebut membawa suku bunga BOJ ke level tertinggi sejak 1995 dan menjadi langkah terbaru dalam proses normalisasi kebijakan moneter Jepang.
Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara dengan hasil 7-2, dengan anggota dewan Toichiro Asada dan Ayano Sato menjadi dua pihak yang menolak kenaikan.
Kenaikan kali ini dilakukan hanya tiga bulan setelah BOJ menaikkan suku bunga sebelumnya, menunjukkan siklus pengetatan yang berlangsung lebih cepat dibandingkan jarak enam bulan antara kenaikan sebelumnya.
Langkah tersebut telah diperkirakan luas oleh ekonom dan pasar, terutama karena tekanan inflasi serta pelemahan yen yang meningkatkan biaya impor Jepang.
Baca Juga: Anwar Ibrahim Tegaskan bahwa Malaysia Cegat Kargo untuk Israel
BOJ Khawatir Inflasi Melebihi Target
BOJ mengatakan kenaikan suku bunga diperlukan karena terdapat risiko inflasi meningkat dan melampaui target 2 persen bank sentral.
Bank sentral Jepang juga menyatakan ingin menjaga inflasi yang mendasari tetap berada di sekitar 2 persen agar kenaikan harga tidak berkembang menjadi tekanan yang mengganggu perekonomian.
Inflasi inti Jepang pada Agustus 2026 tercatat 1,7 persen secara tahunan, turun dari 1,8 persen pada Juli, tetapi tekanan harga masih menjadi perhatian BOJ.
Kenaikan suku bunga tersebut juga berlangsung ketika yen berada di level lemah terhadap dollar AS dan harga energi global memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi Jepang.
Setelah keputusan BOJ diumumkan, yen tercatat melemah sekitar 0,5 persen menjadi sekitar 156,75 per dollar AS dalam perdagangan Jumat.
Dua Anggota BOJ Tolak Kenaikan Suku Bunga
Toichiro Asada memilih mempertahankan suku bunga karena menilai inflasi inti Jepang masih berada di bawah target 2 persen.
Menurut Asada, kondisi tersebut menunjukkan perekonomian Jepang mungkin belum cukup kuat untuk mendukung kenaikan suku bunga.
Sementara itu, Ayano Sato juga menolak kenaikan karena menilai perkembangan ekonomi dan harga belum menunjukkan percepatan yang cukup signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
Kedua anggota tersebut menjadi bagian dari suara minoritas dalam keputusan BOJ yang akhirnya disahkan dengan perbandingan 7-2.
Baca Juga: Prabowo Ungkap Kopdes Bisa Pangkas Margin Tengkulak Rp300 T
AS Dorong Jepang Lanjutkan Kenaikan Suku Bunga
Kebijakan BOJ juga berlangsung di tengah tekanan dari Amerika Serikat agar Jepang melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.
Pemerintah AS sebelumnya mendorong Jepang mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat, terutama untuk membantu menghadapi tekanan terhadap nilai tukar yen.
Sikap tersebut berbeda dengan preferensi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mendukung kebijakan moneter longgar dan kebijakan fiskal ekspansif.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya meminta Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengambil “langkah pasar dan moneter yang tegas” dalam pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 pada awal September 2026.
Kenaikan suku bunga menjadi langkah terbaru BOJ untuk menormalisasi kebijakan moneternya sekaligus merespons risiko inflasi yang dinilai dapat bergerak di atas target bank sentral sebesar 2 persen.
