Trump Akan Bertemu Pemimpin Negara Teluk Bahas Perang Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana bertemu dengan para pemimpin negara Teluk di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York pada Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tersebut akan membahas perkembangan perang dengan Iran serta langkah yang akan diambil setelah konflik berakhir.
Mengutip Axios, Kamis (17/9/2026), rencana pertemuan itu diketahui dari tiga sumber yang mengetahui langsung mengenai agenda tersebut.
Pertemuan digelar ketika upaya Washington untuk kembali membuka pembicaraan gencatan senjata dengan Iran masih menghadapi kebuntuan, sementara negara-negara Teluk menghadapi dampak konflik di kawasan.
Baca Juga: Putin Sebut Alasan Banyak Negara Tertarik Gabung BRICS
Trump Siapkan Strategi Pascaperang Iran
Trump diperkirakan akan bertemu dengan pemimpin enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman.
Namun, daftar peserta pertemuan tersebut masih berpotensi diperluas untuk mencakup pemimpin negara Arab dan Muslim lainnya.
Departemen Luar Negeri AS disebut telah mengirimkan undangan awal pada Rabu (16/9/2026).
Pembahasan akan berfokus pada gagasan AS mengenai strategi setelah perang, sementara pemerintahan Trump disebut tengah menyusun rencana yang diperkirakan baru akan selesai setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November.
Pertemuan tersebut juga berlangsung setelah Trump mengatakan Iran telah menghubungi Washington dan menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, dan kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti,” ujar Trump kepada wartawan saat tiba di North Carolina.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga disebut ingin bertemu dengan Trump di New York, tetapi belum ada jadwal pertemuan resmi yang ditetapkan.
Baca Juga: Airlangga Temui PM Kanada, Bahas tentang Investasi dan Nuklir
Konflik Iran Tekan Jalur Minyak Negara Teluk
Upaya diplomatik tersebut berlangsung ketika konflik memberikan tekanan terhadap perekonomian negara-negara Teluk, terutama sektor energi.
Arab Saudi sebelumnya menutup Pipa Timur-Barat atau East-West Pipeline setelah jaringan tersebut mengalami kerusakan akibat serangan pesawat nirawak.
Pipa tersebut merupakan jalur penting untuk mengangkut minyak mentah dari wilayah timur Arab Saudi menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga gangguan terhadapnya turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Harga minyak kemudian mengalami tekanan setelah Arab Saudi meningkatkan penggunaan jalur alternatif untuk mengirimkan minyak, termasuk melalui transfer antar-kapal di sekitar Oman.
Menurut laporan Reuters, harga Brent turun menjadi sekitar 103,77 dollar AS per barel dan West Texas Intermediate (WTI) sekitar 100,88 dollar AS per barel pada Jumat (18/9/2026), setelah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan mulai mereda.
“Mungkin Iran bersedia melakukan negosiasi setelah pemilihan paruh waktu AS, namun keengganan yang terus berlanjut untuk terlibat secara diplomatik berisiko memperpanjang durasi konflik,” ujar Kepala Strategi di Geopolitical Strategy, Michael Feller.
“Iran mungkin bersedia mencapai kesepakatan setelah pemilihan paruh waktu. Jika tidak, perang bisa berlanjut hingga akhir tahun 2028, atau bahkan lebih lama lagi,” tambahnya.
“Salah satu hal yang dapat meredakan situasi adalah perbaikan Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline)… meskipun stok di terminal ekspor akan habis jika jalur pipa tersebut tidak segera dipulihkan dalam hitungan hari,” jelasnya lagi.
