AS Bertemu Houthi, Saudi Terancam Serangan Makin Panas
Pejabat Amerika Serikat (AS) dilaporkan menggelar pertemuan dengan pemimpin Houthi di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman, pada akhir pekan lalu. Pertemuan tersebut disebut menghasilkan “kesepahaman” yang membuat pemerintahan Presiden AS Donald Trump memilih tidak melakukan intervensi militer untuk membantu Arab Saudi menghadapi serangan Houthi.
Sebagaimana dilaporkan The Guardian, Rabu (16/9/2026), Houthi disebut memberikan jaminan kepada pemerintah AS bahwa aktivitas pelayaran kapal AS maupun internasional di Laut Merah tidak akan menjadi sasaran serangan.
Houthi menyatakan target serangan hanya kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi. Hal tersebut dikaitkan dengan blokade yang diberlakukan Riyadh terhadap Yaman.
Kelompok bersenjata yang didukung Iran tersebut juga meyakinkan Washington bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Arab Saudi yang dicapai pada 2025 masih tetap berlaku.
Baca Juga : Tiga Negara Resmi Dorong Hak Merdeka dari UK
Wakil Presiden AS JD Vance pada Senin (14/9/2026) turut mengonfirmasi bahwa Washington memang melakukan kontak secara langsung dengan Houthi.
Pertemuan itu berlangsung ketika Houthi tengah melancarkan ofensif di wilayah pesisir barat Yaman. Dalam serangan pada pekan sebelumnya, kelompok tersebut dilaporkan berhasil merebut sejumlah wilayah di sepanjang pantai Laut Merah.
Trump sebelumnya mengecam serangan Houthi karena dianggap dapat mengancam kebebasan navigasi di Selat Bab El-Mandeb. Meski demikian, Washington sejauh ini belum mengambil langkah militer untuk membantu Riyadh.
Situasi tersebut terjadi ketika AS juga masih terlibat dalam konflik dengan Iran. Kondisi ini disebut turut memberikan tekanan terhadap persediaan persenjataan Washington.
Saudi Klaim Houthi Serang Mekkah
Arab Saudi pada Selasa (15/9/2026) mengeklaim Houthi meluncurkan drone yang mengarah ke Kota Mekkah.
Juru bicara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, mengatakan drone tersebut memasuki wilayah udara terlarang di sekitar Mekkah.
Menurut Al-Maliki, sistem pertahanan Saudi berhasil mencegat drone tersebut sekitar pukul 18.50 waktu setempat. Pemerintah Saudi kemudian menyatakan bahwa serangan terhadap Mekkah merupakan “garis merah”.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif turut mengecam apa yang disebutnya sebagai upaya serangan terhadap Mekkah.
Namun, kepemimpinan Houthi membantah tuduhan tersebut. Mereka menyebut klaim Saudi sebagai “kebohongan abad ini” dan menyatakan bahwa tuduhan serupa sebelumnya juga pernah digunakan.
Wakil Menteri Luar Negeri Houthi Abdul Wahid Abu Ras juga membantah tudingan tersebut. Ia bahkan melontarkan tuduhan balik terhadap Arab Saudi terkait perkembangan konflik di Yaman.
Houthi Klaim Jatuhkan F-15 Saudi
Houthi kemudian mengklaim telah menembak jatuh pesawat tempur Arab Saudi jenis F-15 di sekitar Marib.
Kelompok tersebut juga mengaku melancarkan serangan terhadap fasilitas perusahaan minyak Aramco di Yanbu, kota pelabuhan yang berada di pesisir Laut Merah.
Namun, juru bicara militer Houthi tidak memberikan bukti yang dapat mendukung klaim mengenai jatuhnya pesawat maupun serangan terhadap fasilitas tersebut.
Kepala tim perunding Houthi, Mohammed Abdul Salam, mengatakan klaim mengenai jatuhnya pesawat tersebut dimaksudkan sebagai peringatan bagi negara-negara Barat agar tidak mempercayai apa yang disebutnya sebagai propaganda Arab Saudi.
Sementara itu, anggota biro politik Houthi Mohammed Al-Farah mengeklaim Arab Saudi sedang menghadapi persoalan serius di Yaman. Menurutnya, Riyadh kini berupaya memperoleh dukungan dari sejumlah negara untuk menghadapi kelompok Houthi.
Israel Tawarkan Bantuan kepada Saudi
Di tengah meningkatnya ketegangan di Yaman, pejabat Israel membocorkan informasi mengenai pertemuan rahasia yang melibatkan komandan militer AS, Israel, dan sejumlah negara Arab di Jerman pada pekan lalu.
Baca Juga : PM Malaysia Tegaskan Cegat Kargo untuk Israel
Jurnalis Axios Barak Ravid melaporkan bahwa pertemuan tertutup tersebut diselenggarakan oleh Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper.
Mengutip dua pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya, Ravid melaporkan bahwa pertemuan tersebut dihadiri oleh kepala staf militer Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Mesir.
Pertemuan itu disebut sebagai yang pertama dengan format tersebut sejak AS dan Israel terlibat dalam perang dengan Iran lebih dari enam bulan lalu.
Israel sendiri sebelumnya menjadi salah satu pihak yang menjadi sasaran serangan Houthi. Namun, dalam perkembangan terbaru, Israel disebut menawarkan intervensi di Yaman untuk membantu Arab Saudi menghadapi kelompok tersebut.
