13 Pernyataan Presiden Iran di PBB yang Soroti Trump
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan sejumlah pernyataan keras terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9/2026).
Pezeshkian menanggapi sejumlah tudingan terhadap Iran sekaligus menjelaskan sikap negaranya terkait perang, program nuklir, pertahanan, hingga konflik Palestina.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tetap membuka ruang untuk diplomasi, tetapi menolak dialog yang disertai tekanan maupun ancaman.
Berikut 13 poin utama yang disampaikan Pezeshkian dalam pidatonya di PBB, sebagaimana dirangkum dari artikel sumber, Kamis (24/9/2026).
1. Iran Korban dari Terorisme
Pezeshkian mengawali pidatonya dengan membantah tudingan bahwa Iran merupakan negara teroris.
Menurut dia, Iran justru menjadi korban terorisme yang dilakukan pemerintahan Trump.
“Presiden Amerika Serikat menggambarkan kami sebagai teroris, padahal kami adalah korban dari terorisme,” ujarnya Rabu.
Ia juga menyinggung pembunuhan pemimpin tertinggi Iran serta serangan terhadap sebuah sekolah yang menewaskan anak-anak.
“Saya berasal dari Iran, di mana pemimpin tertinggi kami yang terhormat dibunuh tanpa kerangka hukum atau alasan apa pun. Dan saya berasal dari Iran, di mana pada kenyataannya mereka mengebom sebuah sekolah. Anda melihat anak-anak ini, anak-anak ini tewas di bawah bom dengan senjata yang digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel. Mereka tidak bersalah, mereka tidak melakukan kejahatan apa pun,” katanya.
2. Rakyat Iran Tidak Bersalah
Pezeshkian kemudian menegaskan bahwa rakyat Iran yang menjadi korban serangan AS dan Israel tidak bersalah.
Ia menggambarkan serangan terhadap sebuah gedung olahraga di kota Ilan yang menurutnya saat itu digunakan anak-anak untuk bermain.
“Mereka memartirkan, membunuh para ilmuwan kami, laki-laki, perempuan, dan anak-anak kami. Anak-anak tak berdosa yang sejatinya tidak melakukan kejahatan atau dosa apa pun,” jelasnya.
Pezeshkian juga menolak penyematan label teroris terhadap Iran.
“Mereka yang merupakan teroris serta melatih dan melindungi teroris, justru menggambarkan kami seperti itu. Kami hanya membela diri, kami bukan teroris,” katanya lagi.
“Rakyat kami yang tidak bersalah telah menjadi sasaran serangan pengecut dan agresi yang dijatuhkan ke negara kami, dan kami membela diri dengan segenap kekuatan kami,” tambahnya.
“Amerika dan Israel menyerang kami dengan dilengkapi teknologi dan sistem persenjataan terbaru, dan rakyat kami tetap teguh.”
Baca Juga: Presiden Iran Sebut Negaranya Korban Terorisme, AS Walk Out dari PBB
3. Bertentangan dengan Hukum Internasional
Pezeshkian mengatakan Iran memang memberikan balasan atas serangan yang diterimanya, tetapi menurut dia negaranya tidak menyerang warga sipil.
“Ya, mereka memang menyerang kami, tetapi kami tidak bertekuk lutut, kami tidak menundukkan kepala. Kami membalas, tetapi kami tidak menyerang penduduk sipil,” ujar Pezeshkian.
Ia menilai tindakan AS dan Israel terhadap Iran bertentangan dengan hukum internasional.
“Mereka masuk ke wilayah-wilayah sekitar dan menargetkan universitas kami, pusat layanan kesehatan kami, sekolah-sekolah kami, rumah sakit kami, serta infrastruktur kami. Semuanya bertentangan dengan hukum internasional,” katanya.
“Apakah kami sumber ketidakstabilan? Kami hanya ingin hidup secara mandiri. Apakah kami yang menyebabkan ketidakstabilan? Mereka yang melakukan terorisme dan melakukan kejahatan, apakah mereka pelindung perdamaian dan stabilitas? Tidak ada satu pun hukum internasional yang mereka patuhi. Inilah yang sedang kami hadapi,” ujarnya.
4. Israel yang Teroris
Pezeshkian juga menuding Israel sebagai pihak yang melakukan tindakan terorisme.
Ia menyinggung pembunuhan Ismail Haniyeh di Iran serta serangan Israel di sejumlah wilayah.
“Ketika saya mengambil alih tanggung jawab sebagai presiden, mereka (Israel) membunuh Ismail Haniyeh di Iran tepat pada hari pelantikan saya. Israel menargetkan wilayah manapun, di kota manapun, di provinsi manapun, serta melakukan pembunuhan layaknya teroris sejati,” katanya.
Pezeshkian juga menyinggung situasi di Gaza.
“Di Gaza, lebih dari 80.000 warga sipil tak berdosa telah dibunuh, dibunuh secara brutal, dan ratusan ribu orang lainnya telah mengungsi. Mereka melakukan genosida dengan menggunakan teknologi yang mereka miliki, lalu melabeli pihak lain sebagai teroris,” tambahnya.
Ia juga membandingkan perlakuan terhadap program nuklir Israel dan Iran.
“Bom atom dan nuklir berada di tangan rezim Israel, namun para inspektur (PBB) diminta untuk datang ke Iran. Israel telah membunuh lebih dari 70.000 warga tak berdosa di Gaza secara biadab, namun ketika Iran sedang berada di balik meja perundingan, mereka malah dibom. Israel memiliki bom, memiliki senjata pemusnah massal, tidak tergabung dalam Perjanjian Non-Proliferasi (NPT), dan selama keberadaannya yang memalukan mereka tidak pernah mengizinkan satu pun inspeksi. Namun mereka justru dihargai dengan segala sarana yang diperlukan agar mereka dapat mengebom ibu kota mana pun di wilayah itu sesuka hati,” jelasnya.
“Saya ulangi: senjata nuklir ada di Israel, tetapi inspektur ada di Iran. Israel membunuh, tetapi Iran yang dikenai sanksi. Ini adalah sebuah tragedi sejati yang mungkin akan membuat siapa pun yang mendengarnya tertawa. Mereka membunuh, kami disanksi, kami dihukum. Orang-orang yang sakit, orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang miskin dan kelompok yang paling tidak beruntung di masyarakat kamilah yang menjadi sasaran sanksi-sanksi ini. Dan inilah yang berusaha dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap semua negara; mengorbankan populasi suatu negara demi mencapai tujuannya yang tidak sah.”
5. Selama 200 Tahun Tak Pernah Serang Negara Lain
Dalam pidatonya, Pezeshkian mengatakan Iran hanya ingin menjalani kehidupan secara mandiri.
Ia menyebut Iran tidak pernah menyerang negara atau wilayah lain selama dua abad terakhir.
“Selama 200 tahun atau dua abad terakhir, Iran tidak pernah menyerang negara atau wilayah mana pun, tetapi kami selalu membela diri kami dengan teguh,” ujarnya.
“Namun kini kami dituduh sebagai sumber ketidakstabilan di kawasan, dan kami dilabeli teroris. Hal inilah yang membuat jalan yang kami pilih mengharuskan kami memiliki kekuatan untuk membela diri,” tegasnya.
6. Program Nuklir untuk Tujuan Damai
Pezeshkian kembali membela program nuklir Iran.
Ia mengatakan teknologi nuklir dibutuhkan untuk berbagai keperluan, termasuk pengobatan, pertanian, industri, dan penyediaan energi.
“Kami tidak mencari kekuatan untuk menyerang atau melakukan agresi,” katanya.
“Kami mencari energi untuk kemajuan, bukan untuk mengancam masyarakat dengan senjata, dan kami ingin bekerja sama serta berkolaborasi demi keamanan,” ujarnya.
“Kami mencari energi untuk kemajuan. Selama bertahun-tahun, ketika menyangkut teknologi nuklir kami, mereka telah melabelinya dengan isu sentrifugal, sanksi internasional, dan label-label lainnya. Namun bagi negara kami, teknologi nuklir damai adalah bagian yang melekat pada kemajuan kami,” tambahnya.
“Bagi orang-orang kami yang sakit, ini adalah untuk obat dan perawatan; bagi sektor pertanian, ini untuk ketahanan pangan; bagi industri, ini untuk perkembangan, kemajuan, dan pasokan energi listrik.”
7. Nuklir Bukan Hanya Milik Eksklusif Segelintir Pihak
Pezeshkian mengatakan teknologi nuklir tidak seharusnya hanya berada di bawah kendali sejumlah pihak.
“Iran tidak dapat menerima jika teknologi nuklir hanya berada dalam kendali eksklusif segelintir pihak,” ujarnya.
“Kami tidak akan menundukkan kepala kami dan menyerahkan hak yang pada dasarnya adalah milik kami. Kami menyatakannya dengan jelas: tidak untuk senjata nuklir dan tidak ada pembatasan pada teknologi nuklir yang damai,” tambahnya.
8. Sistem Pertahanan untuk Mempertahankan Negara
Pezeshkian mengatakan pembangunan sistem pertahanan Iran merupakan bagian dari upaya mencegah serangan terhadap wilayah negaranya.
Menurut dia, kemampuan pertahanan diperlukan agar pihak lain tidak menganggap serangan terhadap kota-kota Iran dapat dilakukan tanpa konsekuensi.
“Mengenai pertahanan Iran, sistem pertahanan kami dibangun agar tidak ada yang bisa berpikir bahwa pengeboman terhadap kota-kota Iran akan dibiarkan tanpa balasan. Itulah sebabnya kami memiliki kekuatan militer, untuk pertahanan,” ujarnya.
“Namun kami menyatakan dengan jelas, untuk mempertahankan negara kami, kami tidak meminta izin atau persetujuan siapa pun,” tambahnya.
9. Iran Memiliki Tetangga-Tetangga yang Kuat
Pezeshkian mengatakan keamanan kawasan seharusnya dibangun melalui kerja sama negara-negara di kawasan, bukan persaingan.
Ia menegaskan Iran tidak ingin keamanan negaranya dibangun dengan mengorbankan keamanan negara tetangga.
“Kita hidup di kawasan di mana peperangan tidak mengenal batas, di mana krisis di satu wilayah akan meluas ke negara-negara sekitarnya,” katanya.
“Itulah sebabnya Iran tidak melihat para tetangganya sebagai pesaing keamanan,” tegasnya.
“Kami ingin memiliki tetangga-tetangga yang kuat.”
10. Selat Hormuz
Pezeshkian turut menyinggung posisi strategis Selat Hormuz.
Ia menolak kondisi ketika jalur pelayaran tersebut digunakan untuk memberikan tekanan terhadap Iran sekaligus menjadi jalur pengiriman senjata dan teknologi militer.
“Di perairan Selat Hormuz, kami tidak bisa membiarkan beberapa pihak memiliki akses bebas dan mengambil keuntungan dari jalur air tersebut, sementara pada saat yang sama menggunakan jalur air itu untuk memaksakan agresi dan ketidaknyamanan kepada kami, serta melarang akses kami ke jalur air kami sendiri,” tegasnya.
“Mereka menutup akses untuk kami, namun mereka terus memasok rudal dan teknologi militer mematikan untuk membawa ketidaknyamanan ke seluruh daratan di sekitar jalur air itu,” jelasnya.
“Kami tidak akan menyerah pada hal itu. Perluasan peperangan tidak akan menghasilkan keamanan. Tidak ada yang boleh menciptakan kekacauan bagi negara-negara pesisir yang sedang mencari keamanan laut.”
11. Palestina dan Gaza adalah Luka Terbuka
Pezeshkian juga membahas Palestina dalam pidatonya.
Ia mengatakan Palestina menjadi luka terbuka bagi hati nurani masyarakat internasional, sementara Gaza menjadi simbol kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil.
“Selama puluhan tahun resolusi-resolusi telah disahkan, namun pendudukan dan kekerasan terus berlanjut,” katanya.
“Kita tidak dapat berbicara tentang perdamaian sambil mengabaikan Palestina. Perdamaian yang abadi di Asia Barat tidak mungkin terwujud tanpa keadilan bagi Palestina. Selama pendudukan, agresi, dan ketidakadilan terus berlanjut di dunia, perlawanan akan terus berlanjut. Jika dilemahkan dalam satu bentuk, ia akan muncul kembali di bentuk lain, mungkin lebih kuat lagi,” ujarnya.
“Gaza, terlepas dari pembunuhan tanpa henti dan kehancuran yang meluas, justru telah memperkuat keyakinan rakyat pada perlawanan, dan perlawanan tidak dapat dihancurkan oleh bom dan pengepungan. Ini adalah sifat manusia; jika manusia diusir dari tanahnya, mereka akan melawan. Jika rumah mereka menjadi sasaran pengeboman dan agresi, mereka akan melawan. Pilihan apa lagi yang mereka miliki? Menyerah pada intimidasi, diusir dari rumah dan tanah mereka, lalu diam saja menghadapi ancaman dan bahaya ini? Dan ketika mereka membela diri, mereka malah dilabeli teroris. Bahasa ini, sayangnya, memperjelas jenis dunia yang kita tinggali saat ini.”
Baca Juga: Presiden Iran Ungkap Negaranya Korban Terorisme, AS Walk Out dari PBB
12. Standar Tunggal dan Jangan Ada Kelompok Istimewa
Pezeshkian mengatakan semua pihak harus diperlakukan berdasarkan standar yang sama.
“Jika kita mencari perdamaian dan stabilitas sejati, kita harus menerapkan standar tunggal untuk semua. Iran tidak meminta perlakuan khusus, kami menuntut hak-hak yang setara dan kami memikul tanggung jawab yang menyertainya,” katanya.
“Namun, selama sejarahnya yang penuh kebanggaan, Iran telah mempelajari pelajaran ini: dunia tanpa kekuatan adalah berbahaya, tetapi dunia yang hanya memahami bahasa perang dan penindasan tidak akan aman,” tambahnya.
“Ketika kita berusaha melaksanakan agenda-agenda yang hanya menguntungkan segelintir kelompok yang istimewa, kita akan mendapatkan dunia yang kacau balau, dan kita melihat ini akan menjadi dunia yang jauh lebih berbahaya bagi kita semua.”
13. Iran Buka Pintu Diplomasi tetapi Tolak Tekanan
Di akhir pidatonya, Pezeshkian mengatakan Iran tetap membuka ruang untuk dialog dan negosiasi.
Namun, ia menegaskan diplomasi tidak dapat berjalan jika disertai ancaman, tekanan, atau penggunaan kekerasan.
“Kami berusaha memikirkan masa depan yang layak, di mana keamanan, kewajaran, keadilan, dan martabat manusia akan menjadi hak-hak yang tidak dapat dicabut bagi semua orang dan semua umat manusia. Sebuah masa depan di mana tidak ada rakyat yang terpinggirkan, tidak ada suara yang hilang di tengah hiruk pikuk kekuasaan, dan tidak ada satu kekuatan pun yang berhak menentukan masa depan suatu bangsa kecuali bangsa itu sendiri,” katanya.
“Jika kita benar-benar menginginkan tatanan yang berlandaskan hukum dan standar internasional, maka tatanan itu harus berakar pada keadilan, kehendak kemanusiaan bersama yang mengangkat martabat manusia. Karena perdamaian yang tidak mencakup semua pihak bukanlah perdamaian, serta kewajaran dan keadilan yang tidak merangkul semuanya tidak pantas disebut keadilan,” tegasnya.
Pezeshkian kemudian kembali menyinggung pernyataan Trump mengenai Iran.
“Namun kembali pada perkataan Presiden Amerika Serikat kemarin. Hal tersebut menunjukkan kepada para pakar hukum internasional, dialog, diplomasi, dan standar dasar kemanusiaan bahwa segala hal yang diucapkan mengenai negara kami bertentangan dengan esensi, piagam, dan semangat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran hanya akan terus meningkat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan peningkatan intimidasi. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala kami atau bertekuk lutut,” katanya lagi.
“Iran harus dipahami oleh Tuan Trump dan mereka yang berusaha menindas kami, bahwa kami siap untuk berdialog, diplomasi, dan bernegosiasi tanpa menerima bahasa paksaan dan kekerasan.”

[…] 13 Pernyataan Presiden Iran di PBB yang Soroti Trump […]