Trump Ungkap Transaksi Saham Microsoft hingga Tesla
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan transaksi jual beli saham yang dilakukan atas namanya sepanjang Juli 2026.
Transaksi tersebut mencakup saham sejumlah perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), termasuk Microsoft, Nvidia, Palantir, SpaceX, dan Tesla.
Berdasarkan dokumen resmi yang dilaporkan BBC, Trump menjual saham Microsoft senilai 6,5 juta-31 juta dollar AS atau sekitar Rp 116,01 miliar-Rp 553,30 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.850 per dollar AS.
Dokumen yang sama mencatat pembelian saham senilai 165.000-400.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,9 miliar-Rp 7,13 miliar.
Dalam lebih dari 1.000 transaksi, saham Nvidia dan perusahaan perangkat lunak Palantir juga tercatat diperjualbelikan atas nama Trump. Palantir diketahui memiliki kontrak dengan Departemen Pertahanan AS serta badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE).
Baca Juga: Macron Kritik Trump tentang Gaza di PBB, Gedung Putih Membalas
Transaksi Saham SpaceX dan Tesla
Dokumen tersebut juga menunjukkan adanya transaksi saham SpaceX, perusahaan roket, satelit, dan AI yang dipimpin Elon Musk.
SpaceX mencatatkan sahamnya di bursa Nasdaq pada Juni 2026. Harga saham perusahaan tersebut sempat turun tajam pada Juli dan Agustus, tetapi kemudian diperdagangkan sekitar 14 persen lebih tinggi dibandingkan harga saat pertama kali masuk bursa.
Saham Tesla, perusahaan kendaraan listrik milik Musk, juga tercatat diperjualbelikan atas nama Trump.
Gedung Putih mengatakan portofolio saham dan obligasi Trump dikelola secara independen oleh pihak ketiga.
Juru bicara Gedung Putih mengatakan kepada BBC bahwa Trump maupun anggota keluarganya tidak memiliki kemampuan untuk mengarahkan, memengaruhi, atau memberikan masukan terkait investasi tersebut, termasuk mengenai kapan saham dibeli atau dijual.
“Tidak ada konflik kepentingan,” demikian disampaikan juru bicara tersebut.
Trump sebelumnya telah mengungkapkan ribuan transaksi pasar saham secara terbuka sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025.
Baca Juga: AS dan Iran Kembali Negosiasi, Trump Ancam Musnahkan Iran
Transaksi Saham di Tengah Sorotan AI
Pengungkapan transaksi tersebut muncul ketika perkembangan AI kembali menjadi sorotan, termasuk terkait keamanan dan regulasinya.
Trump menolak seruan untuk memperlambat pengembangan AI dengan alasan keamanan karena menilai pembatasan dapat membuat AS tertinggal dari China.
Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Selasa (22/9/2026), Trump juga mengatakan ingin mengubah sebutan AI menjadi “super intelligence” atau kecerdasan super untuk menunjukkan dominasi AS.
Trump sebelumnya menyatakan AS harus menjadi pemenang dalam perlombaan pengembangan AI. Ia bahkan mengatakan siapa pun yang memenangkan perlombaan AI akan menjadi pemenangnya.
Sikap Trump tersebut berseberangan dengan pihak yang mendorong regulasi lebih ketat terhadap AI, termasuk Sekretaris Jenderal PBB António Guterres yang menyerukan perlindungan internasional yang mengikat.
Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan Xi ke Washington pada pekan ini.
Di tengah persaingan teknologi AS-China, pemerintahan Trump juga mengusulkan pembentukan “saluran komunikasi darurat” atau hotline AI dengan Beijing.
Saluran tersebut ditujukan untuk menangani potensi risiko siber maupun insiden yang melibatkan AI yang tidak terkendali.
