AS-Iran Diam-Diam Jajaki Kesepakatan untuk Akhiri Perang
Negosiator Amerika Serikat (AS) dan Iran di New York dilaporkan tengah menjajaki jalan keluar bertahap untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir tujuh bulan.
Skenario tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran sebagai imbalan atas pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Teheran.
Mengutip Reuters, Jumat (25/9/2026), Selat Hormuz kini menjadi salah satu alat tawar utama dalam upaya kedua pihak mengakhiri konflik.
Iran membutuhkan pelonggaran tekanan ekonomi akibat blokade AS, sedangkan Washington menuntut pembukaan jalur pelayaran yang menjadi rute penting pasokan minyak global.
Baca Juga: Uang Beredar Agustus 2026 Capai Rp10.448 Triliun, Kredit Menguat
AS-Iran Jajaki Kesepakatan Bertahap
Seorang pejabat senior Iran mengatakan penyelesaian secara bertahap merupakan salah satu cara yang paling masuk akal untuk mengakhiri kebuntuan.
Dalam skema tersebut, Iran akan mengizinkan kapal kembali melintas di Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade ekonomi AS dan kemungkinan akses terhadap aset Iran yang dibekukan.
“Satu jalan ke depan adalah menyelesaikan krisis secara bertahap. Yang pertama adalah mengakhiri blokade dan membuka kembali Hormuz,” ungkapnya di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya meyakini kesepakatan dengan Iran dapat tercapai setelah pemilihan paruh waktu Kongres pada 3 November 2026.
Namun, mantan negosiator AS Dennis Ross menilai peluang tercapainya kesepakatan sebelum pemungutan suara hanya sekitar 30 persen.
Kesepakatan sebelum pemilu dinilai dapat membantu Trump meredakan ketegangan di kawasan Teluk sekaligus menekan harga bensin di AS.
“Blokade inilah yang benar-benar menekan Iran. Ini mencekik mereka,” tutur Ross.
Meski demikian, negosiasi menghadapi persoalan utama karena tidak ada pihak yang ingin lebih dulu kehilangan pengaruh.
Washington memiliki kendali atas tekanan ekonomi melalui blokade dan sanksi, sementara Teheran mengendalikan akses terhadap Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump memegang semua kartu truf karena blokade sanksi dinilai telah membuat ekonomi Iran berada dalam tekanan berat.
AS juga kembali memperketat tekanan pada bulan ini dengan menargetkan maskapai penerbangan komersial Iran dan jaringan pendukungnya.
Trump bahkan memperingatkan ekonomi Iran dapat semakin memburuk jika kesepakatan tidak segera tercapai.
Di sisi lain, sumber regional mengatakan Iran bersedia menghapus tuntutan pembayaran biaya transit penggunaan Selat Hormuz dari perjanjian utama dan memindahkannya ke lampiran terpisah.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pencabutan blokade menjadi prioritas lebih mendesak bagi Teheran.
Namun, negara-negara Teluk disebut telah menolak usulan biaya transit tersebut.
Baca Juga: Mamdani Kecam Pidato Netanyahu di PBB, Singgung ICC
Diplomasi Berjalan, Iran Tetap Siaga Perang
Di tengah upaya diplomasi, Iran tetap bersiap menghadapi kemungkinan kembali berperang dengan AS.
Pejabat senior Iran menuding Washington menggunakan blokade ekonomi dan ancaman kekerasan sebagai alat untuk memaksa Teheran.
“Jari-jari kami berada di pelatuk,” tegas pejabat senior Iran tersebut.
“Orang-orang Amerika tahu apa yang perlu mereka lakukan, tetapi karena tuntutan mereka yang berlebihan, peluang diplomasi untuk menyelesaikannya sangat rendah.”
Analis regional Danny Citrinowicz dan mantan negosiator AS untuk Iran Alan Eyre menilai pembicaraan di New York belum mengubah posisi dasar kedua pihak.
Menurut Eyre, tekanan ekonomi justru berpotensi membuat Iran mengambil sikap lebih keras.
“Blokade itu merugikan mereka, tetapi alih-alih melunakkan posisi mereka, blokade itu kemungkinan akan mendorong mereka untuk melakukan eskalasi karena mereka percaya bahwa jika mereka melunakkan posisi mereka, mereka akan mati,” papar Eyre.
Sementara itu, para pemimpin negara-negara Teluk mengadakan pertemuan terpisah dengan Trump untuk meminta kejelasan mengenai tujuan akhir Washington setelah pemilihan paruh waktu.
Mereka secara bersama-sama menolak kendali Iran atas Selat Hormuz dan mendorong pemulihan kebebasan navigasi.
Negara-negara Teluk juga mendesak AS dan Iran segera melakukan deeskalasi untuk mencegah konflik meluas di kawasan.
“Masih belum jelas apa tujuan akhir Trump, atau apa alternatif dari kampanye tekanan tersebut,” ucap Presiden Emirates Policy Center Ebtessam al-Ketbi.
“Sebaliknya, pihak Iran tahu apa yang mereka inginkan. Mereka membentuk kembali lanskap regional melalui Hormuz dan Bab el-Mandeb dengan tujuan yang jelas sementara Washington belum menentukan peta jalannya.”
Seorang pejabat Barat yang mengetahui jalannya pembicaraan mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi inti dari negosiasi yang berlangsung.
“Ini semua tentang membuka Selat Hormuz. Kita semua berada di bawah tekanan di dalam negeri dan pihak Iran mengetahui hal itu,” pungkasnya.
