Jika Diserang Lagi, Iran Ancam Perluas Perang ke Samudra Hindia
Seorang penasihat pemimpin tertinggi Iran memperingatkan bahwa Teheran dapat memperluas perang hingga Samudra Hindia jika Amerika Serikat (AS) atau Israel kembali melancarkan serangan.
Peringatan tersebut disampaikan Yahya Rahim Safavi melalui sebuah video yang dirilis kantor berita Fars Iran, di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.
Safavi mengatakan perluasan konflik menjadi kemungkinan setelah pertempuran sebelumnya menyebar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz hingga Laut Merah.
“Karena konflik telah menyebar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz ke Laut Merah, ada kemungkinan bahwa, sebagai respons terhadap perang yang lebih besar, garis depan akan meluas lebih jauh hingga mencapai Samudra Hindia dan mungkin lebih jauh lagi,” kata Safavi, dikutip dari AFP, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: 13 Pernyataan Presiden Iran di PBB yang Soroti Trump
Iran Siapkan Skenario Jika AS Kembali Menyerang
Safavi mengatakan militer Iran telah menyiapkan rencana untuk menghadapi skenario terburuk apabila serangan AS dan Israel kembali dimulai.
Ia juga memuji kelompok Houthi di Yaman yang disebut telah menguasai garis pantai Laut Merah.
“Saya harus menyatakan di sini bahwa jika AS memulai perang baru, front baru yang berpusat di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb mungkin akan terbuka di depan mata mereka,” tegasnya.
Peringatan tersebut disampaikan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman untuk memusnahkan Iran.
Dalam pidatonya di hadapan forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Trump membela aksi militer AS dan Israel sejak akhir Februari lalu.
Trump juga mengatakan kesepakatan dengan Iran kemungkinan baru tercapai setelah pemilihan umum sela AS pada November mendatang.
“Akankah kesepakatan tercapai dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya?” kata Trump, dikutip dari BBC.
“Atau haruskah aku memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang dan negara lagi? Haruskah aku mengirim mereka ke neraka?” sambungnya.
Baca Juga: Iran Ancam Perluas Perang hingga Samudera Hindia
Negosiasi AS-Iran Tetap Berlanjut
Di tengah ancaman tersebut, negosiasi antara AS dan Iran tetap berlangsung.
Sehari setelah Trump menyampaikan ancamannya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, di sela-sela Sidang Umum PBB pada Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tersebut membahas perang dan menjadi pertemuan pertama antara kedua pihak sejak runtuhnya gencatan senjata pada Juni lalu.
Trump menggambarkan pertemuan itu berlangsung sangat baik selama sekitar tiga jam dan mengatakan pertemuan lanjutan akan segera digelar.
Namun, pertemuan tersebut mendapat kritik dari pejabat senior Iran.
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, mempertanyakan kewenangan Araghchi untuk bertemu dengan pejabat senior AS di New York.
Ia menilai pembicaraan tersebut berpotensi melemahkan posisi Teheran dan menegaskan bahwa Kementerian Luar Negeri hanya bertindak sebagai pelaksana kebijakan.
“Menteri luar negeri harus menjelaskan atas dasar otorisasi dan kebijakan apa pertemuan beliau dengan perwakilan musuh agresor dilakukan? Syarat-syarat Iran telah dikomunikasikan kepada AS dan menjadikan pertemuan ilegal sebagai alasan dengan dalih syarat-syarat tertentu tidak menghasilkan apa pun selain tanda kelemahan,” kata Rezaei dalam sebuah unggahan di X.
“Kebijakan luar negeri dan keamanan nasional bukanlah arena untuk tindakan gegabah. Di parlemen, kami akan memenuhi kewajiban hukum kami untuk membela kepentingan bangsa Iran dan mengatasi masalah ini,” sambungnya.
