Trump-Xi Bertemu, Bahas AI, Dagang hingga Risiko Perang
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambut kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pada Kamis (24/9/2026).
Pertemuan tingkat tinggi tersebut membahas sejumlah isu penting, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (AI), perang dagang, hingga persaingan strategis antara AS dan China.
Jamuan makan malam kenegaraan yang digelar Trump untuk Xi turut dihadiri sejumlah tokoh industri teknologi, seperti CEO Alphabet Sundar Pichai, CEO OpenAI Sam Altman, dan CEO Nvidia Jensen Huang.
Kehadiran para tokoh teknologi tersebut berkaitan dengan salah satu isu utama dalam pertemuan Trump dan Xi, yakni masa depan AI.
Dilansir dari Reuters, berikut sejumlah hal penting yang dibahas dalam pertemuan kedua pemimpin negara tersebut.
Trump dan Xi Berbeda Pandangan soal AI
Trump dan Xi menunjukkan perbedaan pandangan mengenai pengaturan perkembangan AI.
Trump sebelumnya menyebut AI sebagai super intelligence atau SI dan mengatakan ingin membiarkan teknologi tersebut berkembang tanpa batasan baru.
Melalui unggahan di media sosial, Trump mengatakan dirinya lebih memilih mengandalkan Kementerian Kehakiman AS daripada menerapkan regulasi tambahan terhadap AI.
Trump juga mengklaim China memiliki pandangan yang sama mengenai pengembangan AI.
Namun, pernyataan tersebut berbeda dengan sikap Xi yang menekankan perlunya pengelolaan terhadap perkembangan teknologi tersebut.
Xi mengatakan China dan AS sebagai negara terdepan di bidang AI memiliki kemampuan sekaligus tanggung jawab untuk mengelola pertumbuhan teknologi tersebut.
“Kita memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI demi kebaikan, serta memastikan bahwa perkembangan AI selalu berada di bawah kendali manusia dan melayani kesejahteraan masyarakat,” tegas Xi.
Baca Juga: Netanyahu Serang Musuh dan Sekutu di PBB, Delegasi Walk Out
Trump Pamerkan Penyambutan di Gedung Putih
Kunjungan Xi ke Washington juga menjadi kesempatan bagi Trump untuk menampilkan suasana Gedung Putih yang disesuaikan dengan citranya.
Jika sebelumnya Xi menjamu Trump di kompleks kuil era Dinasti Ming yang tertutup, kali ini Trump menyiapkan penyambutan dengan suasana berbeda.
Gedung Putih menggelar parade pasukan yang mengenakan rambut palsu dan topi segitiga sambil memainkan musik di Rose Garden.
Jet tempur dan pesawat pengebom juga terbang rendah di atas lokasi upacara pada Rabu (23/9/2026) dan Kamis.
Suara salah satu pesawat bahkan sempat membuat Trump terkejut.
Ketika wartawan Gedung Putih dipanggil untuk meliput, Trump justru tidak membahas agenda pertemuannya dengan Xi.
Trump malah mengajak para jurnalis melihat helikopter Marine One dan landasan helikopter di South Lawn yang baru didesain ulang dengan logo kepresidenan.
Saat ditanya wartawan mengenai pembahasan kebijakan dalam pertemuannya dengan Xi, Trump hanya memberikan komentar singkat.
“Dia menyukai granit yang bagus. Pertemuan yang luar biasa,” kata Trump.
Gencatan Perang Dagang AS-China Diperpanjang
Dalam bidang ekonomi, pertemuan Trump dan Xi menghasilkan perpanjangan gencatan senjata perang dagang yang sebelumnya dicapai kedua negara pada tahun lalu.
Namun, perpanjangan tersebut hanya berlaku selama dua bulan setelah kesepakatan sebelumnya dijadwalkan berakhir pada November.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan perpanjangan tersebut memberikan Washington dan Beijing lebih banyak waktu untuk membahas berbagai persoalan ekonomi.
Langkah tersebut belum menyelesaikan sejumlah persoalan utama dalam hubungan dagang kedua negara.
Isu yang masih akan dibahas mencakup tarif, target pembelian barang oleh China, pasokan logam tanah jarang, serta pembatasan teknologi.
Baca Juga: Indonesia Walk Out Saat Netanyahu Akan Pidato di PBB
Xi Soroti Taiwan dan Risiko Perang
Persaingan geopolitik AS dan China juga menjadi bagian dari pembicaraan Trump dan Xi, terutama terkait Taiwan.
Xi meminta Trump menangani isu Taiwan secara hati-hati.
Mengutip kantor berita resmi China, Xi juga berharap AS menentang kemerdekaan Taiwan.
Sikap tersebut akan lebih tegas dibandingkan posisi AS selama ini yang menyatakan tidak mendukung kemerdekaan Taiwan.
Xi kemudian kembali menyinggung Jebakan Thucydides, teori akademis yang menggambarkan kecenderungan terjadinya konflik ketika kekuatan yang sedang bangkit berhadapan dengan kekuatan yang telah mapan.
Meskipun Xi mengatakan risiko tersebut dapat diatasi, rujukan terhadap teori itu menunjukkan adanya kekhawatiran mengenai potensi konflik militer dalam hubungan AS dan China.
Xi menilai kedua negara akan memperoleh keuntungan dari kerja sama dan mengalami kerugian apabila memilih konfrontasi.
Karena itu, dia menyerukan dialog militer yang rutin serta mekanisme pencegahan krisis yang lebih kuat.
Sementara itu, Trump merespons dengan menyoroti sejarah hubungan kedua negara.
Trump menekankan potensi kerja sama yang dapat dicapai dengan mengejar kepentingan bersama dan mengingat kembali aliansi AS-China saat kedua negara menghadapi Jepang dalam Perang Dunia II.
