Iran Siap Hadapi “Perang Kiamat” dengan AS
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya siap menghadapi kemungkinan “perang kiamat” dengan Amerika Serikat (AS).
Meski demikian, Araghchi mengatakan Iran masih membuka peluang untuk menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam acara Meet the Press di NBC News setelah menghadiri Sidang Majelis Umum ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan lalu, sebagaimana dikutip CNBC International, Senin (28/9/2026).
“Jika Anda bertanya kepada kami, tidak ada alasan mengapa kami harus kembali ke jalur diplomasi… namun saya masih mencoba diplomasi karena menurut saya kami tidak boleh melewatkan peluang perdamaian,” kata Araghchi.
“Kami siap bernegosiasi sebanyak kami siap menghadapi tantangan apa pun… Kami berdiri teguh dalam menghadapi agresi apa pun terhadap kami, bahkan jika itu berujung pada doomsday war (perang kiamat),” tegasnya.
Baca Juga: Trump Tolak Proposal Iran Buka Selat Hormuz 7 Hari
AS dan Iran diketahui terlibat dalam perang sejak 28 Februari. Konflik tersebut turut mengguncang pasar energi global setelah Selat Hormuz ditutup dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak serta gas.
Iran Ajukan Syarat Buka Selat Hormuz
Sebelumnya, Araghchi mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali perundingan nuklir dengan AS dalam waktu tujuh hari.
Usulan tersebut diajukan dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Teheran antara lain meminta penghentian apa yang disebutnya sebagai “tindakan agresi” AS, pengakhiran blokade laut dan perang ekonomi, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.
“Persyaratan kami jelas; setiap kemajuan menuju pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan persyaratan ini, dan kami tidak akan mundur,” kata Araghchi dalam sebuah postingan di saluran Telegram-nya yang diterjemahkan oleh Google.
“Dalam pertemuan kami dengan para mediator, kondisi-kondisi ini telah disampaikan, dijelaskan, dan dijabarkan secara lengkap, dan para mediator, pada gilirannya, menyampaikannya ke pihak Amerika,” ujarnya di sela-sela Majelis Umum PBB di New York.
Namun, menurut The Wall Street Journal, Trump sempat menolak usulan terkait Selat Hormuz dan mengancam melanjutkan pemboman terhadap Teheran setelah pemilu paruh waktu AS pada November.
Duta Besar AS untuk PBB Michael Waltz juga menanggapi tawaran terbaru Iran dalam wawancara terpisah dengan NBC News.
Waltz menyebut tawaran tersebut sebagai “upaya sinis untuk membahas sesuatu”.
“Presiden akan menyerahkan semua opsi untuk memastikan dunia aman dari Iran yang menyandera dunia dengan senjata nuklirnya,” kata Waltz.
Di tengah ketegangan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Minggu mengklaim telah menyita kendaraan bawah air tanpa awak milik AS di Selat Hormuz.
“Pasukan Angkatan Laut IRGC berhasil menangkap kendaraan bawah air tak berawak (UUV) canggih milik tentara teroris AS,” kata Kantor Berita Tasnim dalam postingan Telegram yang mengutip IRGC.
IRGC menyebut kendaraan tersebut sebagai Remus 600 dan mengatakan perangkat itu telah diserahkan kepada spesialis untuk pemulihan data.
Baca Juga: AS-Israel Dua Kali hendak Bunuh Mojtaba Khamenei, tetapi Gagal
“Angkatan Laut IRGC dengan tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup (untuk lalu lintas tidak sah),” katanya.
Sementara itu, pemimpin militer Iran juga terus menegaskan kesiapan negaranya untuk melanjutkan perang.
“Perang belum berakhir,” Kantor Berita Mahasiswa Iran mengutip pernyataan panglima militer Iran, Amir Hatami.
“Kita sudah menang, tapi kita harus mengkonsolidasikan kemenangan ini, dan musuh agresor yang mendapat pukulan berat harus terus bersiap menerima pukulan berat dari tentara Iran yang kita cintai,” ujarnya.
