AS-Israel Dua Kali Coba Bunuh Mojtaba Khamenei, tetapi Gagal
Anggota Majelis Pakar Iran Sheikh Mohsen al-Haidari mengungkapkan kondisi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei saat serangan Amerika Serikat (AS)-Israel pada akhir Februari.
Dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi Qatar, Al Araby, Mohsen mengatakan Mojtaba sempat dilarikan ke rumah sakit di Teheran setelah selamat dari serangan awal yang menargetkan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Namun, nyawa Mojtaba kembali terancam ketika rumah sakit tempat ia dirawat ikut menjadi sasaran serangan AS-Israel.
“Bahkan setelah dia terluka dan dibawa ke rumah sakit, tiga rumah sakit di Teheran dibom,” ujar Mohsen.
“Mojtaba Khamenei berada di rumah sakit ketiga dan berhasil dikeluarkan dari reruntuhan,” sambungnya.
Baca Juga: Presiden Korsel Tegur Ukraina tentang Tawanan Korut
Mojtaba Selamat dari Serangan Rumah Sakit
Mohsen menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu situasi paling sulit yang pernah dihadapi Iran.
Hingga kini, keberadaan Mojtaba Khamenei belum diketahui dan ia tidak pernah muncul di hadapan publik sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Menurut Mohsen, konstitusi Iran mengatur bahwa sebuah dewan beranggotakan tiga orang akan mengambil alih negara dan menjalankan tugas kepemimpinan apabila pemimpin tertinggi gugur.
Di tengah perang, Dewan Pakar Iran yang memiliki mandat memilih pemimpin tertinggi baru juga menjadi salah satu target serangan.
Kondisi tersebut sempat mendorong sejumlah pejabat untuk menolak penyelenggaraan sidang pemilihan dan meminta proses tersebut ditunda hingga perang berakhir.
Namun, Dewan Pakar tetap memutuskan melaksanakan proses pemilihan dalam dua tahap.
Pada tahap pertama, setiap anggota menuliskan pilihannya di atas kertas sebelum dipanggil ke sebuah ruangan rahasia tanpa mengetahui lokasi atau tujuan pertemuan sebelumnya.
Proses pemungutan suara berlangsung dari pagi hingga siang hari sebelum kantor sekretariat Dewan Pakar di Qom dibom AS-Israel.
Serangan tersebut menewaskan delapan orang dan menyebabkan dokumen terkait pemilihan dilaporkan ikut terbakar.
Mojtaba Awalnya Tak Tahu Dicalonkan
Pada tahap kedua, anggota Badan Kepresidenan seharusnya mendatangi anggota Dewan Pakar secara individual untuk memperoleh suara mereka.
Namun, mekanisme tersebut terhenti setelah serangan terhadap kantor sekretariat Dewan Pakar.
Karena perang masih berlangsung, pembahasan mengenai sosok pengganti Ali Khamenei terus dilakukan di berbagai lokasi selama sekitar satu minggu.
Baca Juga: Setelah Bertemu Xi, Trump Telepon PM Jepang Bahas China
Menurut Mohsen, sesi pemilihan pemimpin tertinggi baru kemudian digelar pada malam 19 Ramadhan atau sekitar satu minggu setelah kematian Ali Khamenei.
Mohsen mengaku menjadi orang pertama yang mengusulkan nama Mojtaba Khamenei sebagai bentuk penentangan terhadap Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya memperingatkan Iran agar tidak memilih putra Ali Khamenei.
“Mengingat posisi musuh, kita tidak akan memilih dan mengangkat siapa pun sebagai pemimpin dan pembimbing tertinggi Iran, kecuali Ayatollah Mojtaba Khamenei,” ujarnya.
“Kami memperoleh informasi bahwa Mojtaba Khamenei dalam keadaan sehat dan mampu memimpin. Kami menetapkan bahwa ia memenuhi persyaratan kualifikasi keagamaan, keadilan, dan kompetensi untuk mengelola negara,” tambahnya.
Mojtaba Khamenei dilaporkan tidak mengetahui bahwa dirinya dicalonkan sebagai pemimpin tertinggi dan baru mengetahuinya melalui pernyataan yang disiarkan Dewan Pakar.
Dewan Pakar tidak wajib berkonsultasi dengan calon pemimpin baru sebelum memilihnya, tetapi calon yang terpilih secara hukum dan agama harus menerima tanggung jawab tersebut.
Mojtaba Khamenei akhirnya terpilih setelah memperoleh 50 dari 59 suara atau sekitar 85 persen suara anggota yang hadir dalam pemilihan rahasia.
