China Kritik AS di PBB Saat Trump Jamu Xi Jinping
Wakil Presiden China Han Zheng mengkritik kebijakan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dan Kuba dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menjamu Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih.
Dalam pidatonya pada Sabtu (26/9/2026), Han tidak menyebut AS secara langsung.
Namun, ia menyerukan agar kedaulatan negara-negara di Timur Tengah, termasuk negara-negara di kawasan Teluk, dihormati.
“China berpendapat bahwa kedaulatan dan keamanan negara-negara di Timur Tengah, termasuk Teluk, harus dihormati,” kata Han dalam Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, dikutip dari Reuters.
Han juga mengatakan negara-negara besar memiliki tanggung jawab khusus dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
“Negara-negara besar harus memiliki tanggung jawab khusus untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional, dan mereka harus memimpin dalam mematuhi aturan, menegakkan supremasi hukum, serta melakukan apa yang benar,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika AS dan Iran masih terlibat konflik setelah serangan AS dan Israel pada Februari 2026.
Sikap China itu muncul beberapa hari setelah Trump menampilkan suasana hangat dalam hubungan AS-China saat menjamu Xi di Gedung Putih.
Dalam kunjungan tersebut, Trump menyambut Xi dengan pertunjukan flyover militer dan jamuan makan malam kenegaraan.
Baca Juga: Sugiono Tegaskan Indonesia Dukung Kemerdekaan Palestina di Sidang PBB
Trump Peringatkan China soal Iran
Di tengah hubungan tersebut, Trump sebelumnya telah memperingatkan China agar tidak memberikan dukungan kepada Iran.
Duta Besar AS untuk China mengatakan pada Jumat (25/9/2026) bahwa Trump telah menerima jaminan dari Beijing bahwa China tidak akan memberikan dukungan kepada Iran.
Peringatan tersebut muncul setelah adanya laporan bahwa Beijing memasok peluncur rudal pertahanan udara yang dapat ditembakkan dari bahu kepada Iran.
Iran juga dilaporkan menemukan cara untuk menghindari sanksi terhadap penjualan minyaknya dengan bantuan China.
Dalam pidato yang sama, Han turut mengkritik tekanan AS terhadap Kuba.
Ia menyerukan agar negara yang dimaksud menghentikan ancaman penggunaan kekuatan terhadap Kuba serta mencabut blokade dan sanksi terhadap negara tersebut.
“China mendesak negara terkait untuk segera menghentikan penggunaan ancaman kekuatan terhadap Kuba dan segera serta sepenuhnya mencabut blokade dan sanksi terhadap Kuba,” kata Han.
AS diketahui memberikan tekanan terhadap Kuba yang antara lain menghambat pasokan minyak ke negara tersebut.
Jaringan listrik Kuba bahkan mengalami keruntuhan total pada awal September yang berdampak terhadap jutaan orang.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Restui Pembukaan Selat Hormuz, Tunggu Amerika
Sistem pembangkit listrik Kuba yang sudah berusia tua telah lama menghadapi tekanan akibat kekurangan bahan bakar dan buruknya infrastruktur.
Blokade minyak yang diberlakukan AS sejak Januari disebut semakin memperburuk pemadaman listrik dan menyebabkan jaringan listrik Kuba berulang kali kolaps.
Beberapa jam setelah Han menyampaikan pidatonya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga menyerukan agar Washington mengakhiri pengepungan terhadap Kuba dan mencabut pembatasan perdagangan terhadap negara di Karibia tersebut.
Lavrov juga meminta AS menghapus Kuba dari daftar negara yang mensponsori terorisme.
Dalam pidatonya, Han sekaligus berupaya menampilkan China sebagai mitra yang dapat diandalkan di panggung global dan pembela negara-negara berkembang.
“China berpendapat bahwa semua negara, besar maupun kecil, adalah anggota yang setara dalam komunitas internasional, dan urusan dunia harus ditangani oleh semua pihak melalui konsultasi,” kata Han.
