Bos IMF Peringatkan “Winter Is Coming”, Ekonomi Dunia Tertekan
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan adanya tekanan ekonomi yang berpotensi semakin berat akibat perang Iran dan kenaikan harga energi global.
Peringatan tersebut disampaikan ketika harga minyak dunia telah menembus level 100 dollar AS per barel.
Menurut Georgieva, perekonomian global sejauh ini masih mampu menahan dampak kenaikan harga minyak tersebut, tetapi kondisi itu belum tentu dapat berlangsung dalam jangka panjang.
“Musim dingin akan datang (Winter is coming),” kata Georgieva dalam acara Semafor’s Next 3 Billion di New York, dikutip dari akun Instagram Semafor dan Kristalina Georgieva, Selasa (29/9/2026).
“Sebenarnya saya memperingatkan kalian, kita akan melihat tekanan meningkat,” ujarnya.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Sebut Amerika Akan Terusir dari Timur Tengah
Perang Iran Tekan Inflasi dan Suku Bunga Global
Georgieva menjelaskan, tekanan harga energi yang berlangsung dalam waktu lama dapat meningkatkan beban masyarakat.
Dampaknya dapat terlihat dari kenaikan harga barang, meningkatnya biaya pinjaman, hingga penurunan daya beli masyarakat.
Menurut dia, perang Iran dan gangguan terhadap pasokan energi yang ditimbulkannya telah meningkatkan tekanan inflasi global sejak Februari.
Situasi tersebut kemudian mendorong sejumlah bank sentral di berbagai negara untuk menaikkan suku bunga.
Kenaikan suku bunga turut meningkatkan biaya pinjaman yang harus ditanggung pemerintah maupun sektor swasta.
Di Amerika Serikat (AS), pemerintah bahkan diperkirakan mengeluarkan dana lebih besar untuk membayar bunga utang nasional pada tahun ini dibandingkan dengan belanja militernya.
Di sisi lain, sejumlah negara telah berupaya memperbaiki kondisi fiskal dengan menurunkan tingkat utang, menerapkan disiplin anggaran, dan mempersempit selisih biaya pinjaman.
Namun, Georgieva menilai kenaikan suku bunga global berpotensi menghapus sebagian hasil dari berbagai upaya tersebut.
“Banyak negara telah melakukan keajaiban untuk mengurangi tingkat utang, menerapkan disiplin fiskal dan mempersempit spread pinjaman mereka. Sekarang yang terjadi adalah suku bunga naik dan menghapus keuntungan yang telah susah payah dicapai negara-negara emerging market,” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Dekati Rp18.000, Pemerintah Genjot Ekspor
Georgieva mengatakan persoalan tersebut bukan sekadar persaingan negara berkembang dalam mendapatkan pendanaan dari pasar global.
Menurut dia, negara-negara berkembang juga harus menanggung dampak dari tekanan ekonomi yang berasal dari negara lain atau kebijakan yang berada di luar kendali mereka.
“Jadi ini bukan soal persaingan memperebutkan uang, tetapi ini adalah hukuman atas dosa orang lain yang harus ditanggung oleh negara-negara emerging market,” kata Georgieva.

[…] Bos IMF Peringatkan “Winter Is Coming”, Ekonomi Dunia Tertekan […]