Netanyahu Diam-Diam Temui Presiden UEA, Bahas Iran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diam-diam melakukan kunjungan ke Uni Emirat Arab (UEA) pada Minggu (27/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Netanyahu bertemu dengan Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed untuk membahas sejumlah isu bilateral dan perkembangan kawasan.
Pertemuan itu baru dikonfirmasi oleh Israel dan UEA pada Senin (28/9/2026), dengan Iran menjadi salah satu isu utama yang dibahas.
Mengutip CNN International, Selasa (29/9/2026), kantor berita negara UEA, WAM, menyebut kedua pemimpin menggelar pertemuan tingkat tinggi untuk membahas hubungan bilateral serta upaya memperkuatnya.
Sementara itu, kantor Perdana Menteri Israel mengatakan pembicaraan berfokus pada penguatan hubungan kedua negara dan berbagai tantangan regional.
Kunjungan tersebut juga dihadiri istri Netanyahu, Kepala Dewan Keamanan Nasional Israel, kepala Mossad, sekretaris militer, serta penasihat politik pemerintah.
Baca Juga: BI Pertahankan Suku Bunga 5,75%, Apa Alasannya?
Bertemu di Tengah Isu Peringatan Serangan Hamas
Kunjungan Netanyahu ke UEA berlangsung sekitar satu bulan sebelum pemilihan umum Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut juga terjadi di tengah kontroversi mengenai dugaan peringatan yang diterima Israel sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Sebelumnya, laporan investigasi Haaretz dan The New York Times menyebut Sheikh Mohammed telah memperingatkan Netanyahu mengenai kemungkinan operasi besar Hamas beberapa hari sebelum serangan tersebut.
Laporan The Atlantic juga menyebut Kepala Intelijen Mesir Abbas Kamel sempat datang ke Israel pada 26 September 2023 untuk memperingatkan bahwa situasi di Gaza akan segera memburuk.
The Wall Street Journal kemudian melaporkan adanya tiga peringatan dari Mesir, dengan peringatan terakhir disampaikan langsung melalui telepon kepada Netanyahu beberapa hari sebelum serangan.
Kantor Netanyahu berulang kali membantah menerima peringatan tersebut dan menyebut laporan itu sebagai kebohongan yang sengaja dibuat untuk merusak posisi politiknya.
Kementerian Luar Negeri UEA sebelumnya menyatakan tidak akan menanggapi spekulasi media terkait hal tersebut.
Namun, UEA tidak secara langsung membantah adanya komunikasi mengenai peringatan tersebut.
“Bila diperlukan, semua intelijen yang relevan telah dan terus dikomunikasikan antara entitas yang relevan,” paparnya.
Seorang sumber Israel mengatakan kantor Netanyahu sempat berupaya meminta UEA membantah laporan mengenai peringatan tersebut.
Namun, UEA disebut hanya bersedia mengeluarkan pernyataan diplomatik mengenai aktivitas berbagi informasi intelijen.
Dalam pernyataan resmi terkait kunjungan Netanyahu pada Senin, baik Israel maupun UEA tidak menyinggung persoalan peringatan sebelum serangan 7 Oktober 2023.
Di tengah isu tersebut, Partai Likud yang dipimpin Netanyahu menuduh adanya campur tangan asing dalam pemilu Israel oleh politisi Palestina yang berbasis di UEA, Mohammed Dahlan.
Partai tersebut menyampaikan tuduhan melalui akun X milik perdana menteri, tetapi tidak menyertakan bukti atas tuduhan tersebut.
Sementara itu, pihak oposisi Israel kembali menggunakan laporan mengenai peringatan serangan Hamas untuk mengkritik pemerintahan Netanyahu.
Baca Juga: Prancis Kirim Pasukan ke Saudi Hadapi Ancaman Houthi
Gadi Eizenkot, yang disebut sebagai salah satu penantang utama Netanyahu dalam pemilu mendatang, mengatakan pengungkapan mengenai peringatan tersebut sangat serius.
“Pengungkapan tentang peringatan tersebut tidak menyisakan ruang keraguan: Netanyahu memimpin, dengan kebutaan, kesombongan, dan ketidakbertanggungjawaban, Negara Israel menuju bencana terbesar dalam sejarahnya,” katanya.
Hubungan Israel dan UEA sendiri sebelumnya juga sempat diwarnai perselisihan terkait kunjungan Netanyahu.
Pada Mei 2026, kantor Netanyahu mengklaim bahwa sang perdana menteri telah melakukan kunjungan rahasia ke UEA pada Maret, ketika perang Iran baru berlangsung.
Kantor Netanyahu menyebut kunjungan tersebut sebagai sebuah terobosan bersejarah.
Namun, Kementerian Luar Negeri UEA saat itu membantah klaim tersebut dan menyatakan informasi mengenai kunjungan itu tidak berdasar.
Meski demikian, kerja sama keamanan Israel dan UEA dilaporkan semakin erat selama perang Iran.
Israel bahkan dilaporkan mengerahkan sistem pertahanan rudal Iron Dome ke UEA selama perang berlangsung.
Sejumlah pejabat Israel juga mengakui bahwa kerja sama keamanan kedua negara telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, meskipun Netanyahu belum pernah melakukan kunjungan resmi yang diumumkan secara terbuka ke UEA.
