Andy Burnham Buka Opsi Inggris Kembali ke Uni Eropa
Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, membuka peluang bagi negaranya untuk kembali bergabung dengan Uni Eropa (UE). Wacana tersebut disampaikan setelah Burnham menilai Brexit justru membawa lebih banyak kerugian dibandingkan keuntungan bagi Inggris.
Burnham mengatakan pemerintah dapat mempertimbangkan beberapa opsi terkait hubungan Inggris dengan UE. Pilihan tersebut mencakup mempertahankan kondisi saat ini, bergabung kembali dalam serikat pabean (customs union) UE, mengikuti pasar tunggal (single market), hingga kembali sepenuhnya menjadi anggota UE.
“Kita bisa tetap seperti sekarang. Itu jelas sebuah pilihan, jika orang berpikir inilah posisi yang tepat untuk dipertahankan,” kata Burnham kepada BBC, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga : Hubungan Mulai Mencair, Wapres UEA Temui MBS
“Kita bisa melihat apa yang dikatakan George Osborne mengenai serikat pabean. Kita bisa melihat apa yang dikatakan Partai Liberal Demokrat di konferensi mereka mengenai pasar tunggal, atau kita bisa melangkah sepenuhnya,” ujarnya.
Mantan Menteri Keuangan Inggris George Osborne sebelumnya mendorong pembentukan serikat pabean antara Inggris dan UE. Sementara itu, Partai Liberal Demokrat menyerukan agar Inggris kembali mengikuti pasar tunggal UE.
Burnham menegaskan setiap opsi perlu dikaji lebih lanjut, termasuk dari sisi kemungkinan penerapannya serta kelebihan dan kekurangannya.
Brexit Dinilai Rugikan Inggris
Inggris memutuskan keluar dari UE melalui referendum Brexit pada 2016. Keputusan tersebut mengakhiri lebih dari 40 tahun keanggotaan Inggris dalam blok Eropa dan kemudian memicu gejolak politik selama bertahun-tahun.
Burnham, yang menggantikan Keir Starmer sebagai perdana menteri pada Juli 2026, sebelumnya juga pernah mengatakan dirinya berharap Inggris dapat kembali menjadi anggota UE dalam masa hidupnya.
Dalam pidatonya pada konferensi tahunan Partai Buruh, Selasa (29/9/2026), Burnham menilai Brexit telah berkontribusi terhadap satu dekade pertumbuhan ekonomi yang rendah dan membuat posisi Inggris menjadi lebih lemah.
“Saya sangat jelas, dan saya akan mengatakannya secara terus terang: Brexit telah menyebabkan lebih banyak kerugian daripada keuntungan,” kata Burnham.
“Jadi pertanyaannya adalah, apa yang kita lakukan mengenai hal itu?” lanjutnya.
Menurut Burnham, Inggris tidak akan memiliki arah jangka panjang yang jelas sebelum menentukan kembali bentuk hubungannya dengan UE, yang masih menjadi pasar terbesar bagi Inggris.
Baca Juga : Trump Ubah Istilah AI dalam Dokumen Pemerintah AS, Jadi Apa?
Sebelumnya, Burnham mengatakan dirinya akan memanfaatkan pertemuan tingkat tinggi Inggris-UE pada November untuk memaparkan berbagai pilihan mengenai hubungan jangka panjang dengan blok tersebut.
Pertemuan itu semula dijadwalkan berlangsung pada Juli di Brussel. Namun, rencana tersebut batal setelah Starmer digantikan Burnham sebagai pemimpin Partai Buruh sekaligus perdana menteri.
Financial Times melaporkan pertemuan Inggris-UE kini direncanakan berlangsung pada 20 November. Meski demikian, tanggal tersebut masih belum dikonfirmasi.
Kedua pihak sebelumnya berharap dapat mencapai sejumlah kesepakatan dalam pertemuan tersebut. Beberapa isu yang dibahas mencakup standar keamanan pangan dan hewan, skema mobilitas bagi kaum muda, serta rencana menghubungkan sistem perdagangan emisi Inggris dan UE.
