Trump Konsultasi ke Grok Sebelum Tangkap Maduro
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut berkonsultasi dengan chatbot kecerdasan buatan (AI) Grok sebelum memerintahkan operasi penangkapan Presiden Venezuela saat itu, Nicolas Maduro.
Menurut laporan TIME yang dikutip Anadolu, Jumat (2/10/2026), Trump menanyakan kepada Grok mengenai kemungkinan reaksi rakyat Venezuela jika AS menangkap Maduro.
Konsultasi tersebut berlangsung selama berjam-jam ketika Trump bertemu secara pribadi dengan Elon Musk di Ruang Oval Gedung Putih pada Desember 2025.
Selain membahas Maduro, Trump juga menggunakan Grok untuk menanyakan berbagai hal, termasuk mengenai masa kepresidenan dan warisannya.
Seorang pejabat yang hadir dalam pertemuan tersebut mengatakan kepada TIME bahwa Grok menggambarkan Maduro sebagai seorang diktator represif yang sangat tidak populer.
Chatbot tersebut kemudian memperkirakan bahwa banyak warga Venezuela kemungkinan akan merayakan kejatuhan Maduro.
Baca Juga: 26 Negara Bagian AS Gugat Trump terkait Standar BBM
AS Tangkap Maduro dalam Operasi Militer
Trump memberikan persetujuan terhadap serangan udara AS di Venezuela pada 2 Januari 2026, setelah berbulan-bulan persiapan untuk operasi yang diberi nama “Absolute Resolve”.
Operasi tersebut berlangsung sekitar dua setengah jam dan melibatkan pesawat pengebom, jet tempur, serta helikopter.
Pasukan AS kemudian menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam operasi militer di Caracas pada 3 Januari 2026.
Keduanya kemudian dibawa ke sebuah kapal serbu AS di kawasan Karibia, sempat melewati Guantanamo Bay, sebelum diterbangkan ke New York.
Maduro selanjutnya menghadapi dakwaan federal terkait perdagangan narkoba, termasuk dakwaan narkoterorisme dan konspirasi untuk mengangkut kokain ke AS.
Mantan Presiden Venezuela tersebut membantah dakwaan yang ditujukan kepadanya.
Baca Juga: Iran Tak Buka Selat Hormuz Sebelum AS Penuhi 7 Syarat Ini
Trump Makin Terpukau dengan Prediksi Grok
Setelah penangkapan Maduro, perayaan dilaporkan terjadi di sejumlah komunitas diaspora Venezuela.
Reaksi tersebut membuat Trump semakin terkesan dengan Grok karena sesuai dengan prediksi chatbot tersebut sebelum operasi dilakukan.
Menurut pejabat yang dikutip TIME, Trump menilai Grok sebagai chatbot yang cerdik setelah melihat reaksi positif terhadap penangkapan Maduro.
Meski hubungan Trump dan Musk dilaporkan sempat memburuk pada tahun pertama masa jabatan kedua Trump, Grok tetap memiliki peran dalam pemerintahan AS di bawah Trump.
Chatbot America.gov yang baru diperkenalkan untuk menyediakan informasi mengenai pemerintah federal kepada warga AS juga disebut menggunakan Grok dan Gemini milik Google.
Trump sendiri dikenal mendukung pengembangan teknologi AI. Ia bahkan menandatangani perintah eksekutif yang berkaitan dengan pengembangan teknologi tersebut.
Sejumlah pembantu Trump mengatakan kepada TIME bahwa Presiden AS itu cenderung mengabaikan kekhawatiran mengenai dampak AI.
Ketika ditunjukkan hasil survei dari jajak pendapat Tony Fabrizio mengenai kekhawatiran warga AS terhadap dampak ekonomi teknologi yang berpotensi tidak terkendali, Trump disebut tidak terlalu memedulikannya.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis bahwa siapa pun yang memenangkan persaingan AI akan menang dan menyatakan AS memimpin China serta negara-negara lainnya dalam bidang tersebut.
