Iran Tak Buka Selat Hormuz Sebelum AS Penuhi 7 Syarat
Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi tujuh syarat yang tercantum dalam kesepakatan sementara pada Juni lalu.
Persyaratan tersebut diajukan Iran dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dikutip dari Reuters, Iran berjanji akan membuka kembali Selat Hormuz apabila seluruh persyaratan tersebut dipenuhi.
Baca Juga: AS Usir 2 Delegasi Iran yang Bertahan di New York setelah Sidang PBB
Teheran bahkan menjamin lalu lintas maritim di jalur strategis tersebut akan kembali normal dalam waktu tujuh hari setelah persyaratan dipenuhi.
“Posisi Republik Islam Iran sepenuhnya jelas dan tegas, dan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat kami, berdasarkan Nota Kesepahaman Islamabad, dipenuhi,” kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, dikutip dari Reuters, Senin (5/10/2026).
Qalibaf meminta AS tidak menetapkan batas waktu dalam proses negosiasi tersebut.
Ia juga meminta Washington tidak memaksakan tuntutan sepihak selama proses perundingan berlangsung.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Teheran telah menyampaikan posisi umumnya melalui mediator sebagai tanggapan terhadap proposal AS.
Namun, menurut Baghaei, masih terdapat sejumlah poin tambahan yang perlu disampaikan kepada Washington.
“Usulan Amerika kurang lebih sejalan dengan posisi mereka sebelumnya, khususnya mengenai isu nuklir. Kami memberi tahu mereka bahwa fokus kami pada tahap ini adalah isu Selat Hormuz dan pemulihan keamanan di jalur air ini membutuhkan langkah-langkah yang jelas dari AS,” katanya.
Baca Juga: Rusia Ancam Nuklir bila NATO Blokade Kaliningrad
Baghaei juga membantah anggapan bahwa Iran menawarkan inspeksi fasilitas nuklir kepada badan pengawas nuklir PBB sebagai imbalan atas pencabutan sanksi AS.
Ia menegaskan Iran belum membahas persoalan nuklir secara langsung dengan Washington.
Dokumen tersebut menyebutkan adanya masa tujuh hari untuk membangun kepercayaan dan memperbaiki kesepakatan damai yang dibuat pada Juni lalu, termasuk terkait program nuklir Iran.
Menurut pejabat tersebut, Iran dan AS pada dasarnya tidak memiliki perbedaan mengenai isi rencana yang dibahas.
Perbedaan kedua negara justru terletak pada urutan langkah yang harus dilakukan untuk menjalankan kesepakatan tersebut.
