Bos Aramco: Cadangan Minyak Dunia Kini Sangat Mengkhawatirkan
Cadangan minyak dunia kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan setelah perang di Timur Tengah berlangsung selama tujuh bulan.
Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah memangkas pasokan minyak dari kawasan tersebut hampir 3 miliar barel.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar separuh minyak mentah dan produk olahan yang seharusnya melewati Selat Hormuz selama periode tersebut.
Nasser memperingatkan bahwa kondisi tersebut membuat bantalan pasokan minyak global semakin tipis dan pilihan untuk mengatasi gangguan pasokan semakin terbatas.
Baca Juga: MBG Prasmanan Diuji Coba di Sekolah, Makanan Disajikan Hangat
Cadangan Minyak Dunia Menipis
Dikutip dari Financial Times, Selasa (6/10/2026), Nasser menyampaikan peringatan tersebut dalam konferensi Energy Intelligence Forum di London.
Untuk menutup kekurangan pasokan akibat perang, lebih dari 1 miliar barel minyak telah dikeluarkan dari berbagai cadangan.
Pemerintah sejumlah negara disebut telah melepaskan lebih dari 300 juta barel dari cadangan strategis dan pada Jumat pekan lalu menyepakati pelepasan tambahan.
Namun, menurut Nasser, sebagian besar minyak yang digunakan untuk menutup kekurangan pasokan berasal dari cadangan milik perusahaan.
Ia menyebut cadangan tersebut sebagai “alat besar terakhir” yang masih tersedia.
Dalam pidato publik pertamanya sejak perang dimulai, Nasser memperkirakan stok minyak komersial yang tersisa saat ini kurang dari 6 miliar barel.
Menurutnya, sebagian besar stok tersebut tidak dapat digunakan secara praktis untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Nasser mengatakan sistem pasokan energi dunia mulai berada di bawah tekanan akibat konflik yang mengganggu produksi dan distribusi minyak.
Ia juga menyoroti penggunaan teknologi dalam konflik, termasuk citra satelit dan data pelayaran terbuka.
Menurut Nasser, data tersebut semakin sering dimanfaatkan untuk menyerang infrastruktur energi dan kapal tanker.
Ia menegaskan alat transparansi seharusnya tidak digunakan sebagai bagian dari serangan terhadap fasilitas energi.
Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dilaporkan menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Sementara itu, kelompok yang didukung Iran di Irak dan Yaman menyerang sejumlah infrastruktur energi milik Aramco, termasuk pipa, kilang, dan pelabuhan.
Baca Juga: Danantara Ungkap Aset BUMN Besar, namun Cash Flow Minim
Pemulihan Stok Bisa Butuh Dua Tahun
Nasser mengatakan kondisi pasokan minyak tidak akan langsung kembali normal meskipun perang berakhir.
Menurutnya, proses mengisi kembali persediaan minyak sambil tetap memenuhi kebutuhan global dapat membutuhkan waktu hingga dua tahun.
Ia pun mendorong pemerintah berbagai negara untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap ketahanan dan keamanan energi.
Aramco saat ini disebut tengah mengkaji jalur ekspor tambahan untuk minyak mentah Arab Saudi.
Perusahaan tersebut juga menjajaki pembangunan atau penggunaan fasilitas penyimpanan tambahan di luar negeri untuk melindungi pelanggan dari gangguan pasokan pada masa mendatang.
Peringatan Nasser disampaikan ketika arus minyak melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan melalui skema pengiriman bergilir.
Berdasarkan data Kpler, pengiriman minyak dari negara-negara Teluk mencapai 15,5 juta barel per hari pada bulan lalu.
Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak perang dimulai dan telah mencapai lebih dari 80 persen dari volume pengiriman sebelum konflik.
Namun, biaya pengiriman masih sangat mahal dan kondisi pasar minyak tetap ketat.
Harga kargo fisik minyak mentah Laut Utara untuk pengiriman bulan ini bahkan meningkat ke level tertinggi sejak April.
