Arab Saudi Serang Houthi, Bidik Selat Bab El-Mandeb
Pasukan Arab Saudi dan Yaman melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi untuk merebut kembali kota pelabuhan strategis Mokha pada Senin (5/10/2026).
Operasi tersebut bertujuan mengurangi ancaman Houthi terhadap jalur pelayaran dan ekspor energi melalui Selat Bab El-Mandeb.
Sekitar 100 jet tempur memberikan perlindungan udara bagi pasukan darat Yaman yang bergerak ke utara menyusuri pesisir dalam manuver untuk mengepung Mokha.
Operasi yang dimulai sejak fajar itu juga menyasar fasilitas yang diduga digunakan Houthi untuk menyerang kapal di kawasan Laut Merah.
Baca Juga: Kontrak Freeport Diperpanjang, Investasi US$40 Miliar
Arab Saudi Serang Fasilitas Houthi
Juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman, Jenderal Turki Al-Maliki, mengatakan pasukan laut koalisi menghancurkan sejumlah gudang senjata serta tempat penyimpanan kapal bermuatan bahan peledak dan ranjau laut di Provinsi Hodeidah.
Serangan tersebut dilakukan untuk mencegah Houthi menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Bab El-Mandeb dan Laut Merah.
Houthi kemudian membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah target di Arab Saudi.
Juru bicara militer Houthi Yahya Sare’e mengatakan sasaran serangan mencakup Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, kilang Aramco di Rabigh, serta sejumlah instalasi militer Arab Saudi.
Sare’e juga memperingatkan maskapai penerbangan komersial bahwa wilayah udara Arab Saudi kini menjadi arena operasi Houthi.
Menurut Sare’e, pasukan pimpinan Arab Saudi telah melancarkan 60 serangan udara dan serangan rudal ke wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk Sana’a, sejak ofensif dimulai.
Houthi sebelumnya merebut Mokha pada awal bulan lalu untuk memperluas wilayah kekuasaannya hingga mendekati bagian tersempit Selat Bab El-Mandeb.
Penguasaan kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur ekspor minyak Arab Saudi serta lalu lintas kapal yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Juru bicara militer Yaman Kolonel Majid al-Nuzaili mengatakan operasi tersebut melibatkan pasukan pro-pemerintah yang dikenal sebagai Giants Brigades.
Ia mengeklaim pasukan tersebut telah berhasil menguasai selat, tetapi klaim itu belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Baca Juga: Iran Ancam Serang Pangkalan dan Kapal Perang Amerika
AS Dukung Hak Arab Saudi Membela Diri
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengatakan Arab Saudi memiliki hak untuk membela diri setelah menjadi sasaran serangan Houthi.
Rubio juga mengatakan pasukan Yaman akan berupaya merebut kembali wilayah yang sebelumnya dikuasai Houthi.
“Saudi telah menjadi sasaran serangan Houthi dan melihat ancaman yang ditimbulkannya, mereka memiliki hak untuk membela diri. Dan jelas pasukan Yaman akan berusaha merebut kembali wilayah yang telah direbut dari mereka,” kata Rubio kepada wartawan, Senin.
Sebelumnya, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah meminta bantuan militer kepada Presiden AS Donald Trump untuk menghadapi Houthi.
Namun, Trump menolak permintaan tersebut dan hanya memberikan dukungan intelijen tidak langsung kepada Arab Saudi.
Bagi AS, keterlibatan dalam front militer baru melawan Houthi dinilai berisiko membebani kekuatan militernya sekaligus meningkatkan ancaman terhadap pelayaran internasional.
Houthi diketahui sebagian besar menghindari serangan terhadap kapal komersial AS maupun internasional setelah gencatan senjata dengan AS pada 2025.
Kelompok Houthi merupakan salah satu milisi di Timur Tengah yang menerima senjata dan pelatihan dari Iran serta Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Dukungan tersebut menjadi bagian dari strategi Iran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan.
Sementara itu, pejabat senior Houthi Abdul-Malik Al-Ajri menegaskan kelompoknya akan terus merespons setiap eskalasi dari Arab Saudi.
“Kami akan terus berdasarkan prinsip timbal balik—eskalasi dibalas eskalasi—hingga akhir, sampai rezim Saudi menghentikan campur tangan cerobohnya terhadap apa yang tersisa dari kehidupan kami,” tulis Al-Ajri dalam unggahan di media sosial, Senin.
Konflik Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi menguasai Sana’a dan kemudian berkembang menjadi perang setelah koalisi pimpinan Arab Saudi turun tangan pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 150.000 orang, menyebabkan jutaan lainnya mengungsi, dan membawa Yaman ke ambang kelaparan.
