Mengapa Arab Saudi Kesulitan Bendung Serangan Houthi?
Arab Saudi dinilai kesulitan membendung serangan berulang kelompok Houthi di Yaman, meski telah mengeluarkan dana besar untuk membeli persenjataan canggih, termasuk sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD.
Kondisi tersebut terlihat dari serangkaian serangan rudal dan drone yang berhasil mencapai sejumlah sasaran di wilayah Arab Saudi.
Salah satu serangan terjadi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Sabtu (10/10/2026), yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Serangan berulang itu tidak hanya menguji kemampuan pertahanan militer Arab Saudi, tetapi juga berpotensi merusak reputasi negara tersebut sebagai kawasan yang stabil.
Pertahanan Udara Saudi Kewalahan
Arab Saudi sebenarnya berhasil mencegat sejumlah serangan Houthi di berbagai wilayah, tetapi beberapa serangan tetap lolos dan menghantam sasaran, termasuk fasilitas minyak dan Bandara Riyadh.
Serangkaian serangan tersebut juga membebani sistem pertahanan udara Arab Saudi dan berpotensi menguras persediaan rudal pencegat yang dilaporkan tengah mengalami kelangkaan secara global.
Baca Juga: Trump Ancam Serang Iran setelah Bandara Saudi Diserang Houthi
Analis dari perusahaan risiko MENA Analytica yang berbasis di London, Andreas Krieg, mengatakan bahwa sistem pertahanan berlapis tidak dapat menjamin perlindungan sempurna bagi negara dengan wilayah seluas Arab Saudi.
“Bahkan sistem berlapis yang memadukan Patriot, THAAD, pesawat tempur, dan berbagai sensor lainnya tidak dapat menciptakan kubah yang tak tertembus di atas negara sebesar Arab Saudi,” kata Krieg, seperti dikutip AFP.
Arab Saudi memiliki luas wilayah sekitar 2,2 juta kilometer persegi. Dengan wilayah sebesar itu, sistem pertahanan udaranya harus melindungi banyak sasaran strategis, mulai dari Riyadh, bandara, fasilitas minyak, pangkalan militer, hingga kota-kota suci dan infrastruktur penting lainnya.
Tantangan tersebut semakin besar karena kapasitas industri militer Arab Saudi masih terbatas sehingga negara itu banyak bergantung pada pembelian persenjataan canggih dari luar negeri.
Secara historis, Arab Saudi juga mengandalkan personel asing, kontraktor, dan pelatih untuk memperkuat kemampuan militernya.
Mengapa Houthi Menyerang Arab Saudi?
Serangan berulang terhadap Bandara Riyadh menunjukkan bahwa Houthi masih memiliki kemampuan melancarkan serangan dari jarak strategis.
Serangan tersebut terjadi ketika perang saudara yang telah berlangsung lama di Yaman kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam konflik itu, koalisi yang dipimpin Arab Saudi mendukung Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional untuk menghadapi kelompok Houthi.
Analis keamanan dari Universitas Ottawa, Thomas Juneau, mengatakan bahwa Houthi berupaya mengubah aturan main dalam konflik tersebut.
Menurut Juneau, setelah pesawat tempur Arab Saudi menyerang Bandara Sana’a yang berada di bawah kendali Houthi, kelompok yang didukung Iran itu ingin melakukan hal serupa terhadap Arab Saudi.
Houthi diketahui memiliki puluhan ribu kombatan terlatih yang berpengalaman bertempur di medan pegunungan Yaman.
Selama bertahun-tahun, rudal dan drone kelompok tersebut menjadi ancaman bagi negara-negara Teluk. Kemampuan serangannya belakangan bahkan menjangkau wilayah Israel.
“Bagi Arab Saudi, ini merupakan bencana besar karena Arab Saudi telah berupaya keluar dari perang di Yaman selama beberapa tahun,” kata Juneau.
Baca Juga: Kekuatan Militer Houthi: 350.000 Personel dan Rudal
Bandara Riyadh Jadi Sasaran Empuk
Menurut Krieg, Bandara Internasional King Khalid memiliki arti strategis bagi Arab Saudi karena berkaitan erat dengan program Saudi Vision 2030 yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Program tersebut bertujuan menjadikan Riyadh sebagai pusat wisatawan, perusahaan multinasional, dan berbagai kegiatan internasional.
“Bandara itu sangat penting. Houthi memahami hal tersebut,” kata Krieg.
Krieg menilai gangguan terhadap Bandara Riyadh mungkin tidak secara langsung melemahkan kekuatan militer Arab Saudi. Namun, serangan berulang dapat menimbulkan dampak ekonomi dan psikologis yang lebih besar dibandingkan kerusakan fisik yang ditimbulkan.
Serangan pada Sabtu tersebut menjadi yang paling mematikan di Arab Saudi sejak bom bunuh diri pada 2015.
Sebelumnya, otoritas Arab Saudi sesekali mengirimkan peringatan kepada masyarakat melalui pesan singkat ketika terdapat ancaman serangan. Namun, peringatan tersebut belakangan berhenti sehingga memicu kekhawatiran warga.
Sejumlah misi diplomatik juga mengeluhkan minimnya informasi rutin dari pemerintah Arab Saudi pada Sabtu.
Bahkan, beberapa kedutaan telah meminta warga negara mereka menghindari Bandara Riyadh beberapa jam sebelum pemerintah Arab Saudi mengeluarkan pernyataan resmi pertamanya mengenai serangan tersebut.
