Kekuatan Militer Houthi: 350.000 Personel dan Rudal
Kelompok bersenjata Houthi di Yaman masih mampu menunjukkan kekuatan militernya meski telah bertahun-tahun menghadapi serangan udara dari Arab Saudi, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Israel. Pada Sabtu (10/10/2026), kelompok tersebut bahkan dilaporkan menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, yang menewaskan 12 orang.
Mengutip Al Jazeera, kekuatan Houthi atau AnsarAllah ditopang oleh jumlah personel yang besar serta persenjataan modern, mulai dari rudal balistik, rudal jelajah, hingga drone yang mampu menyerang target dalam jarak jauh.
Menurut perkiraan, jumlah personel Houthi mencapai 350.000 orang pada 2024. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 30.000 anggota pada 2015, ketika Arab Saudi mulai melakukan intervensi militer dalam perang saudara di Yaman, sebagaimana dilaporkan BBC.
Baca Juga : Zelensky Tantang Trump, Minta Gencatan Senjata?
Selain pertumbuhan personel, kemampuan persenjataan Houthi juga berkembang selama bertahun-tahun konflik. Associated Press (AP) melaporkan, kelompok ini memiliki beragam rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang sebagian besar memiliki kemiripan dengan persenjataan buatan Iran.
Houthi juga mengoperasikan rudal antikapal dan drone laut yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di Laut Merah, salah satu jalur perdagangan utama dunia.
Persenjataan Houthi dan Dukungan Teknologi Iran
Al Jazeera melaporkan, salah satu persenjataan yang dimiliki Houthi adalah rudal balistik jarak menengah Palestine-2. Rudal ini diperkirakan memiliki jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer, menggunakan bahan bakar padat, serta terdiri atas dua tahap. Palestine-2 juga diyakini memiliki kemampuan hipersonik.
Selain itu, Houthi memiliki rudal Toufan yang disebut memiliki kemiripan dengan rudal Ghadr buatan Iran. Jangkauan rudal tersebut diperkirakan berada di kisaran 1.350 hingga 1.950 kilometer.
Untuk serangan jarak lebih pendek, kelompok ini juga mengandalkan rudal seri Burkan dan Badr yang diyakini berasal dari Iran. Berbagai jenis rudal tersebut telah digunakan dalam serangan lintas perbatasan ke Arab Saudi, bahkan menjangkau wilayah Israel.
Nawaf Obaid, peneliti senior di King’s College London War Studies Department, menilai persenjataan rudal Houthi pada dasarnya bersumber dari teknologi Iran, dengan sejumlah pengaruh teknologi China.
AP melaporkan, Iran diduga memasok komponen canggih, termasuk sistem pemandu rudal. Sementara itu, Houthi disebut mampu memproduksi sebagian besar persenjataannya sendiri di dalam negeri.
Iran membantah tuduhan memasok senjata kepada kelompok tersebut. Meski demikian, senjata dan komponen yang berasal dari Iran pernah disita dari sejumlah pengiriman menuju Yaman.
Baca Juga : AS Pertimbangkan Bantu Saudi Lawan Houthi
Laporan panel ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2024 turut mendokumentasikan hubungan militer yang luas antara Houthi, Iran, dan kelompok-kelompok sekutunya.
BBC juga mengutip kesimpulan laporan panel ahli PBB yang menyebut Houthi berkembang menjadi organisasi militer yang kuat berkat transfer material, bantuan, dan pelatihan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Hizbullah Lebanon, serta para spesialis dari Irak.
Sementara itu, laporan Conflict Armament Research pada Mei 2026 menemukan adanya perubahan pola dukungan Iran. Jika sebelumnya Teheran lebih banyak mengirimkan senjata jadi, kini dukungan semakin diarahkan pada pengiriman komponen yang dapat dirakit oleh kelompok proksi serta transfer teknologi rudal yang lebih canggih.
Faktor Lain yang Memperkuat Houthi
Kekuatan Houthi tidak hanya bergantung pada jumlah personel dan persenjataan. Kondisi geografis Yaman yang luas dan didominasi kawasan pegunungan turut menjadi faktor yang memengaruhi kemampuan kelompok tersebut bertahan menghadapi serangan.
Berbagai kampanye udara yang dilancarkan selama bertahun-tahun juga belum berhasil melumpuhkan Houthi sepenuhnya.
Arab Saudi melakukan serangkaian serangan udara selama sekitar tujuh tahun sejak 2015. Namun, pasukan pemerintah Yaman dan kelompok separatis di wilayah selatan yang menjadi lawan Houthi tetap kesulitan memukul mundur kelompok tersebut.
Amerika Serikat dan Inggris kemudian mulai melancarkan serangan terhadap Houthi pada Januari 2024. Setahun berikutnya, Presiden AS Donald Trump memerintahkan kampanye udara yang lebih intensif.
Seorang pejabat militer AS saat itu menyebut sekitar 2.000 munisi telah dijatuhkan ke lebih dari 1.000 sasaran.
Meski demikian, operasi militer tersebut juga menimbulkan kerugian bagi pihak AS. Houthi dilaporkan menghancurkan tujuh drone MQ-9 Reaper milik AS. Selain itu, sebuah jet tempur F/A-18 tergelincir dari kapal induk.
Thomas Juneau, profesor hubungan internasional di University of Ottawa, menilai dukungan Iran hanya menjadi salah satu faktor yang menjelaskan kekuatan Houthi. Faktor lainnya adalah kelemahan pihak-pihak yang menjadi lawan mereka.
Menurut Juneau, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional masih menghadapi perpecahan internal, kelemahan organisasi, kurangnya persatuan, dan korupsi. Kondisi tersebut memberi ruang bagi Houthi untuk memperluas pengaruh dan mempertahankan posisinya.
Keterbatasan Kekuatan Militer Houthi
Di balik kemampuan menyerang sasaran jarak jauh, kekuatan militer Houthi tetap memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah jumlah persediaan rudal yang hingga kini belum diketahui secara pasti.
Al Jazeera melaporkan, Wolfgang Pusztai, analis kebijakan keamanan dan pertahanan, memperkirakan kelompok tersebut kemungkinan hanya memiliki persediaan rudal balistik jarak pendek dalam jumlah terbatas.
Baca Juga : Prabowo Dukung Mesir Amankan Hak Air dari Sungai Nil
Dengan kondisi tersebut, Houthi dinilai belum tentu mampu melancarkan serangan berskala sangat besar secara bersamaan dengan mengerahkan banyak rudal dan drone.
Sebagai alternatif, kelompok ini dapat memilih menembakkan satu rudal ke sasaran yang memiliki sistem pertahanan lebih lemah untuk menghasilkan dampak strategis. Serangan semacam itu dapat menimbulkan gangguan besar meskipun jumlah senjata yang digunakan relatif terbatas, termasuk terhadap operasional penerbangan sipil.
Kemampuan Houthi mempertahankan kekuatan militer di tengah tekanan dari sejumlah negara menunjukkan bahwa ancaman yang mereka timbulkan tidak hanya ditentukan oleh jumlah senjata. Dukungan teknologi, kondisi geografis, serta kelemahan lawan turut berperan, meski keterbatasan persediaan rudal dapat membatasi skala serangan yang mampu mereka lakukan.
