Trump Ingin Bertemu Putin dan Xi, Bahas Senjata Nuklir
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping guna membahas pengendalian senjata nuklir serta denuklirisasi. Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (19/10/2026), setelah muncul laporan mengenai usulan pertemuan tiga negara yang diajukan Putin.
Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Putin mengusulkan pertemuan trilateral bersama Trump dan Xi pada bulan depan. Pertemuan itu disebut-sebut bertujuan membahas perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun, termasuk mencari penyelesaian konflik yang menguntungkan Moskwa.
Namun, Trump menegaskan bahwa isu utama yang ingin dibicarakan dalam pertemuan tersebut adalah persenjataan nuklir, bukan konflik Ukraina.
“Kami akan mengadakan pertemuan itu untuk membahas senjata nuklir dan denuklirisasi,” kata Trump kepada wartawan.
Menurut Trump, dialog antara pemimpin AS, Rusia, dan China mengenai pengurangan ancaman nuklir akan membawa dampak positif bagi dunia. Ia juga memperkirakan pertemuan tersebut berpeluang berlangsung di China.
Baca Juga : PM Malaysia Tawarkan Bantuan Atasi Karhutla RI
Trump dijadwalkan mengunjungi China bulan depan untuk menghadiri pertemuan negara-negara anggota Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). Kunjungan itu akan menjadi lawatan keduanya ke China selama menjalani masa jabatan kedua sebagai Presiden AS.
Meski gagasan pertemuan tiga negara tersebut belum sepenuhnya tertutup, persetujuan Xi Jinping terhadap agenda denuklirisasi masih belum jelas. Beijing selama ini berulang kali menolak keterlibatan dalam perundingan pengendalian senjata nuklir, menurut sumber yang mengetahui pembicaraan terbaru tersebut.
Setelah pertemuan Trump dan Xi pada September lalu, Gedung Putih menyebut Trump telah mendorong dimulainya perundingan pengendalian senjata yang melibatkan ketiga negara. Akan tetapi, pemerintah China tidak menyinggung inisiatif tersebut dalam pernyataan resmi mengenai hasil pertemuan keduanya.
Berakhirnya New START Picu Kekhawatiran Nuklir
Dorongan Trump untuk membahas denuklirisasi muncul setelah berakhirnya Perjanjian New START pada Februari lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya membatasi persenjataan nuklir strategis jarak jauh milik AS dan Rusia.
Sejak perjanjian itu berakhir, kedua negara tidak lagi terikat oleh batasan hukum yang ditetapkan melalui kesepakatan tersebut. Hingga kini, belum ada pembicaraan substantif mengenai perjanjian pengganti yang juga melibatkan China.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap meningkatnya persaingan persenjataan nuklir antara Washington, Beijing, dan Moskwa. Tanpa kerangka pembatasan yang mengikat, upaya menjaga transparansi dan mengendalikan pengembangan senjata nuklir menjadi semakin kompleks.
Keterlibatan China juga menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi, Trump ingin mendorong mekanisme pengendalian senjata yang melibatkan tiga kekuatan nuklir utama. Di sisi lain, Beijing belum menunjukkan kesediaan yang jelas untuk mengikuti perundingan tersebut.
Karena itu, rencana pertemuan trilateral masih menghadapi ketidakpastian, terutama terkait kesepakatan mengenai agenda pembicaraan dan partisipasi masing-masing negara.
Hubungan Trump dengan Putin dan Zelensky
Rencana pertemuan Trump, Putin, dan Xi muncul ketika kebijakan AS terhadap Rusia dan perang Ukraina terus menjadi sorotan. Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan pasokan diesel dengan Rusia di tengah kenaikan biaya hidup yang menekan perekonomian AS dan memengaruhi prospek politik Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu.
Pada saat bersamaan, hubungan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky semakin tegang. Trump bahkan kembali menyarankan agar Ukraina menunjuk orang lain untuk memimpin proses negosiasi.
“Sejujurnya, saya pikir sudah waktunya bagi orang lain untuk bernegosiasi atas nama Ukraina,” kata Trump.
Ia juga mengkritik dukungan yang telah diberikan Washington kepada Kyiv dan menilai Ukraina belum memberikan imbalan yang sepadan.
“Kami telah memberikan banyak hal kepada Ukraina, mereka tidak memberikan apa pun kepada kami, ingat itu,” ujarnya.
Ketegangan kebijakan tersebut turut terlihat ketika Trump pada Jumat (16/10/2026) menghentikan pelaksanaan sanksi terhadap Rusia yang seharusnya diterapkan berdasarkan rancangan undang-undang bipartisan yang telah ditandatanganinya pada bulan sebelumnya.
Baca Juga : Trump Salahkan Imigrasi atas Kerusuhan yang Melanda Prancis
Keputusan tersebut menuai kritik dari sejumlah anggota parlemen, termasuk dari Partai Republik yang merupakan partai Trump sendiri.
Menanggapi kritik itu, Trump membela langkah-langkahnya melalui unggahan di media sosial pada akhir pekan lalu. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya sedang berupaya mencari jalan keluar untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina dan tidak ingin mengambil keputusan yang justru menjauhkan Moskwa dari meja perundingan.
Trump menyatakan prioritasnya adalah menghentikan pertumpahan darah dalam konflik yang telah menelan ratusan ribu korban jiwa tersebut.
Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Konflik yang masih berlangsung itu hingga kini menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan internasional, sekaligus memengaruhi hubungan AS dengan Rusia dan Ukraina.
Di tengah upaya diplomatik tersebut, rencana pertemuan Trump, Putin, dan Xi berpotensi membuka pembicaraan mengenai pengendalian senjata nuklir. Namun, realisasi pertemuan dan kemungkinan tercapainya kesepakatan masih bergantung pada kesediaan ketiga negara untuk terlibat dalam negosiasi.

[…] Trump Ingin Bertemu Putin dan Xi, Bahas Senjata Nuklir […]
[…] Trump Ingin Bertemu Putin dan Xi, Bahas Senjata Nuklir […]