Korut Siagakan Senjata Baru, Ketegangan dengan Korsel Naik
Korea Utara mengumumkan bahwa unit persenjataan terbarunya telah ditempatkan dalam status siaga tempur di tengah meningkatnya ketegangan dengan Korea Selatan. Pernyataan tersebut disampaikan Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, pada Rabu (21/10/2026).
Langkah itu menyusul peringatan Pyongyang beberapa hari sebelumnya mengenai kemungkinan penambahan sistem persenjataan untuk menghadapi situasi di wilayah perbatasan kedua negara.
“Pimpinan militer kami menekankan perlunya menyadarkan para bajingan itu bahwa unit-unit persenjataan baru kami telah menempati posisi tempur mereka,” kata Kim Yo Jong, sebagaimana dikutip media pemerintah Korea Utara.
Baca Juga : Prabowo Sebut Dunia Dilanda Krisis, Konflik dan Perang Dagang
Dikutip dari AFP, Kim Yo Jong juga menyampaikan bahwa Kim Jong Un telah memerintahkan penguatan pertahanan di sepanjang perbatasan dengan Korea Selatan. Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan menjadikan wilayah perbatasan dengan negara yang dianggap sebagai musuh itu sebagai benteng yang tidak dapat ditembus.
Ketegangan Meningkat Setelah Ledakan Ranjau
Hubungan Korea Utara dan Korea Selatan kembali memanas sejak September 2026. Saat itu, Seoul menuduh Pyongyang memasang ranjau darat di Zona Demiliterisasi (DMZ), wilayah yang memisahkan kedua negara, setelah terjadi ledakan ranjau di kawasan perbatasan yang dijaga ketat.
Korea Utara membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak bertanggung jawab atas pemasangan ranjau yang dimaksud.
Di tengah perselisihan itu, Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan bahwa Marsekal Pak Jong Chon telah mengunjungi sejumlah posisi strategis militer di wilayah perbatasan. Dalam kunjungannya, pejabat tinggi militer tersebut menekankan pentingnya memperkuat kemampuan persenjataan untuk menghadapi ancaman dari pihak lawan.
Pak menilai situasi saat ini menjadi momentum untuk membangun kekuatan senjata yang cukup tangguh guna menimbulkan tekanan terhadap musuh.
Ia juga memerintahkan pasukan yang bertugas di perbatasan agar siap mengambil tindakan militer apabila menghadapi provokasi yang mengancam keselamatan personel.
“Jika pasukan musuh melakukan provokasi yang benar-benar mengancam keselamatan personel kami, pasukan perbatasan DPRK harus mengambil tindakan militer yang sangat mahir, khusus, dan melumpuhkan,” tegasnya.
DPRK merupakan singkatan dari nama resmi Korea Utara, yaitu Republik Rakyat Demokratik Korea.
Korea Selatan Ancam Berikan Respons Tegas
Sementara itu, militer Korea Selatan pada Selasa (20/10/2026) menuding Pyongyang berusaha mengalihkan tanggung jawab atas meningkatnya ketegangan di wilayah perbatasan.
Seoul juga mengakui bahwa pasukannya menggunakan pengeras suara dan melepaskan tembakan peringatan untuk merespons pergerakan tentara Korea Utara. Militer Korea Selatan menyebut tindakan tersebut sebagai langkah pertahanan yang sah untuk mencegah pasukan Pyongyang melintasi Garis Demarkasi Militer (MDL) sekaligus memukul mundur personel yang telah melewatinya.
Ketua Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, Jin Yong-sung, kemudian memerintahkan pasukannya untuk mempertahankan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan tindakan militer dari Korea Utara.
Baca Juga : Kim Jong Un Dirumorkan Meninggal, Korut Rilis Foto Baru
Ia meminta militer Seoul memberikan respons tegas apabila Pyongyang menjadikan langkah pertahanan Korea Selatan sebagai alasan untuk melakukan agresi. Kementerian Pertahanan Korea Selatan juga memperingatkan bahwa setiap provokasi lanjutan dari Korea Utara akan ditanggapi secara tegas.
Korut Uji Coba Senjata Baru Berteknologi AI
Di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan, Korea Utara juga dilaporkan melakukan sejumlah uji coba persenjataan baru secara terpisah.
Sistem yang diuji mencakup torpedo berpemandu presisi generasi baru dan rudal hipersonik jarak menengah. Kedua jenis persenjataan tersebut disebut memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pengembangan dan pengujian senjata tersebut berlangsung ketika Pyongyang meningkatkan kesiapsiagaan militernya, sementara Seoul menyatakan akan merespons dengan tegas setiap tindakan yang dinilai sebagai provokasi. Situasi ini menambah ketidakpastian hubungan kedua Korea, terutama di wilayah perbatasan yang selama ini menjadi titik rawan perselisihan militer.
