Kim Jong Un Dirumorkan Meninggal, Ini 4 Penyebab Kabar Itu Terus Beredar
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali dirumorkan meninggal dunia setelah seorang pembangkang China mengklaim dirinya mengalami pendarahan otak parah dan meninggal saat menjalani perawatan di China.
Namun, klaim tersebut tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi. Media pemerintah Korea Utara, Rodong Sinmun, justru menerbitkan foto-foto yang memperlihatkan Kim mengunjungi sebuah pameran bersama putrinya, Kim Ju Ae.
Foto-foto itu muncul beberapa jam setelah Wanjun Xie, seorang pembangkang China yang tinggal di Amerika Serikat (AS), menyebarkan klaim mengenai kematian Kim. Xie, yang mengidentifikasi dirinya sebagai ketua Partai Demokrat China, menyebut Kim dibawa ke Beijing karena Korea Utara tidak memiliki fasilitas medis yang memadai untuk merawat kondisinya.
Ia juga mengklaim Kim meninggal setelah menjalani perawatan di China dan jenazahnya diam-diam dikembalikan ke Korea Utara untuk menyembunyikan kabar tersebut.
Meski demikian, kemunculan Kim di media pemerintah bertentangan dengan klaim itu. Dalam foto yang diterbitkan, Kim terlihat memeriksa berbagai pajangan di pameran pakaian dan alas kaki bersama putrinya serta sejumlah pejabat.
Namun, waktu pengambilan foto tersebut tidak diketahui secara pasti sehingga belum dapat memastikan kondisi Kim saat rumor kematiannya beredar.
Pejabat intelijen Korea Selatan mengatakan kepada kantor berita Yonhap bahwa mereka tidak menerima informasi yang mendukung kabar kematian Kim. Sejumlah tanda yang berpotensi muncul jika terjadi krisis kesehatan mendadak, seperti peningkatan keamanan di perbatasan China dan aktivitas di sekitar perwakilan diplomatik Korea Utara, juga tidak dilaporkan.
Baca Juga: Taiwan Waspadai Beijing, China Patroli Kepulauan Pratas
Lantas, mengapa rumor kematian Kim Jong Un terus berulang meskipun belum didukung bukti yang kuat?
1. Korea Utara Sangat Tertutup
Salah satu penyebab rumor mengenai Kim Jong Un mudah berkembang adalah tertutupnya Korea Utara. Hanya segelintir orang yang memiliki akses rutin kepada Kim sehingga informasi mengenai kondisi kesehatan dan aktivitasnya sulit diverifikasi.
Bahkan, badan intelijen yang secara khusus memantau Korea Utara menghadapi kesulitan memperoleh informasi yang dapat diandalkan.
Akibatnya, kabar yang belum terkonfirmasi dapat berkembang menjadi spekulasi dan menyebar luas sebelum kebenarannya diketahui.
Pemerintah Korea Utara juga dicurigai sengaja menciptakan kebingungan melalui penyebaran informasi menyesatkan untuk menyamarkan situasi sebenarnya di dalam negeri.
Dalam kondisi tersebut, klaim Wanjun Xie mengenai kematian Kim patut dipertanyakan, terutama karena tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi.
Sulit memastikan kebenaran informasi sepenting itu ketika badan-badan intelijen yang secara khusus memantau Korea Utara pun belum memperoleh informasi pendukung.
2. Rumor Kematian Kim Pernah Terjadi pada 2020
Kabar kematian Kim Jong Un bukan kali pertama beredar. Pada 2020, seorang pembelot Korea Utara mengaku “99 persen yakin” Kim telah meninggal setelah menjalani operasi kardiovaskular.
Namun, tak lama kemudian, Kim kembali muncul di hadapan publik sehingga klaim tersebut terbantahkan.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa informasi mengenai kondisi kesehatan Kim dapat memicu spekulasi ketika ia tidak terlihat di hadapan publik dalam periode tertentu.
Sulitnya memperoleh informasi yang akurat membuat rumor serupa berpotensi kembali muncul, terutama ketika tidak ada penjelasan yang dapat diverifikasi mengenai kondisi pemimpin Korea Utara tersebut.
3. Ketidakpastian Suksesi Kepemimpinan
Menurut laporan BBC, ketidakpastian mengenai sosok yang akan menggantikan Kim Jong Un juga menjadi salah satu alasan rumor kematiannya terus menarik perhatian.
Korea Utara telah dipimpin oleh keluarga Kim selama tiga generasi. Namun, rencana suksesi setelah Kim Jong Un dinilai lebih tidak pasti dibandingkan dengan masa para pendahulunya.
Kim Il Sung menghabiskan puluhan tahun mempersiapkan putranya, Kim Jong Il, untuk mengambil alih kekuasaan. Ketika Kim Il Sung meninggal pada 1994, rencana suksesi telah terbentuk dengan kuat sehingga peralihan kekuasaan berlangsung relatif lancar.
Sebaliknya, perjalanan Kim Jong Un menuju kepemimpinan berlangsung lebih cepat. Setelah Kim Jong Il mengalami stroke pada 2008, Kim Jong Un dengan cepat dipromosikan ke berbagai posisi. Ketika ayahnya meninggal pada 2011, ia telah diperkenalkan secara terbuka sebagai calon pemimpin berikutnya.
Meski demikian, Kim Jong Un masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengonsolidasikan kekuasaan, menyingkirkan pesaing, dan menghilangkan pihak-pihak yang dianggap sebagai ancaman.
Kini, badan intelijen Korea Selatan meyakini Kim mungkin sedang mempersiapkan putrinya, Kim Ju Ae, sebagai penerus. Kim Ju Ae semakin sering terlihat dalam acara penting dan kegiatan militer.
Namun, Kim Ju Ae baru berusia 13 tahun dan belum secara resmi ditetapkan sebagai penerus. Selain itu, Korea Utara belum pernah dipimpin oleh seorang perempuan.
Usianya yang masih muda juga dapat membuatnya rentan jika terjadi perebutan kekuasaan setelah Kim Jong Un tidak lagi memimpin.
Baca Juga: Kebijakan terhadap Iran Diprediksi Tetap, soal Pemilu Israel 2026
4. Kondisi Kesehatan Kim Jong Un Menjadi Sorotan
Kondisi kesehatan Kim Jong Un turut membuat rumor kematiannya dianggap tidak sepenuhnya mustahil, meskipun klaim terbaru belum didukung bukti kuat.
Kim diketahui memiliki berat badan berlebih dan merupakan perokok berat. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan berulang kali memperingatkan bahwa gaya hidup tersebut meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Selain itu, penyakit jantung dan stroke memiliki riwayat dalam keluarga Kim.
Jika Kim tiba-tiba tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, dampaknya berpotensi meluas ke negara-negara tetangga dan komunitas internasional.
Krisis kepemimpinan dapat memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang akan mengendalikan persenjataan nuklir Korea Utara serta meningkatkan risiko ketidakstabilan politik.
Perebutan kekuasaan juga dikhawatirkan dapat mendorong kelompok garis keras mengambil tindakan agresif atau memicu krisis pengungsi di perbatasan China.
Situasi tersebut menjadi perhatian Beijing dan Seoul, serta Washington yang menempatkan sekitar 28.000 personel militer di Korea Selatan.
Karena besarnya risiko tersebut, badan-badan intelijen terus memantau Kim Jong Un untuk mengantisipasi perkembangan yang dapat memengaruhi kepemimpinan Korea Utara.
Meski rumor kematian Kim kembali beredar, klaim tersebut tetap perlu dibedakan dari informasi yang telah terverifikasi. Selama belum ada bukti yang dapat memastikan kabar itu, rumor kematiannya tidak dapat dianggap sebagai fakta.
