Jelang Pemilu Sela AS, Kabinet Trump Dilanda Konflik Internal
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi tekanan menjelang pemilihan paruh waktu atau pemilu sela pada 3 November 2026, ketika Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas di Kongres.
Di tengah persiapan pemilu, sejumlah pejabat dan sekutu Trump justru dilaporkan terlibat konflik internal, saling tuding, hingga berupaya mencari pihak yang bertanggung jawab jika Partai Republik mengalami kekalahan besar.
Diketahui, para pejabat pemerintahan semakin khawatir kekalahan Partai Republik akan memicu perombakan besar-besaran di pemerintahan. Trump diperkirakan akan mencari pihak yang bisa disalahkan, sementara sejumlah pejabat mempertimbangkan untuk meninggalkan jabatan mereka.
Situasi tersebut mengubah suasana Gedung Putih yang sebelumnya membanggakan kekompakan menjadi arena perselisihan dan kebocoran informasi internal.
Sejumlah pejabat, penasihat, dan sekutu dekat Trump menggambarkan persaingan kekuasaan serta aksi saling tuding yang meningkat menjelang pemilu.
“Ini lebih brutal daripada situasi lain di zaman modern di Gedung Putih,” kata salah satu sekutu Trump. “Anda tidak bisa memercayai siapa pun di sini.”
Perselisihan tersebut bahkan mencuat ke publik dalam dua pekan terakhir. Trump memecat Kimberly Guilfoyle, duta besar AS untuk Yunani sekaligus mantan tunangan putranya, setelah muncul laporan bahwa Guilfoyle meminta uang 100.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,8 miliar kepada seorang donatur Partai Republik untuk melunasi kartu kreditnya.
Baca Juga: China Patroli Kepulauan Pratas, Taiwan Waspadai Beijing
Trump juga memerintahkan penasihat Gedung Putih menyelidiki perselisihan antara dua sekutunya, Alina Habba Mildon dan Ric Grenell, terkait dugaan salah alokasi dana jutaan dollar AS yang seharusnya diperuntukkan bagi Kennedy Center.
Selain itu, Trump memecat sekretaris pers barunya, Katie Zacharia, hanya lima hari setelah menjabat, menyusul serangkaian kesalahan yang memicu reaksi negatif.
Situasi tersebut turut menimbulkan pertanyaan mengenai posisi sejumlah orang dekat Trump, termasuk Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles serta penasihat politik James Blair dan Chris LaCivita.
Para pendukung mereka menduga pemberitaan negatif mengenai para pejabat itu didorong oleh pihak-pihak yang ingin menjatuhkan pesaing di lingkaran Trump.
“Pisau yang diarahkan kepada James atau Chris sebenarnya ditujukan untuk Susie,” ungkap salah satu sumber yang mengetahui dinamika tersebut.
Perselisihan itu memicu upaya mencari tahu siapa yang membocorkan informasi internal sekaligus spekulasi mengenai pejabat yang akan kehilangan jabatan jika hasil pemilu tidak sesuai harapan Partai Republik.
“Jika kita kehilangan DPR dan Senat, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi,” papar seorang penasihat Trump. “Semua orang adalah sasaran yang sah.”
Juru Bicara Gedung Putih Davis Ingle membantah spekulasi mengenai kekacauan internal pemerintahan tersebut.
“Presiden Trump sangat fokus untuk mempertahankan mayoritas Partai Republik di Kongres pada November ini, itulah sebabnya ia berkeliling negeri untuk menyoroti kemenangan bersejarah yang telah diberikan pemerintahannya bagi rakyat Amerika,” tegas Ingle.
Nasib Menteri dan Pejabat Kunci
Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles turut menghadapi sorotan dan rumor pengunduran diri setelah tidak hadir ketika Trump menawarkan posisi sekretaris pers kepada Zacharia.
Wiles juga baru melewati perjuangan selama berbulan-bulan melawan kanker. Masa jabatannya yang mendekati dua tahun turut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan dirinya meninggalkan Gedung Putih, mengingat sejumlah ajudan senior biasanya memilih mundur pada periode tersebut.
Meski demikian, Trump baru-baru ini menegaskan bahwa dirinya tidak berniat mengganti Wiles.
“Dia tidak akan pergi ke manapun,” ucap seorang pejabat senior pemerintahan.
Hasil pemilu sela juga diperkirakan memengaruhi posisi sejumlah menteri kabinet. Sebagian pihak berspekulasi bahwa mereka mungkin memilih mundur daripada menghadapi penyelidikan dari Partai Demokrat jika partai tersebut memperoleh kendali di Kongres.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth diperkirakan menjadi salah satu sasaran awal pengawasan Kongres. Ia juga telah lama menghadapi spekulasi mengenai kemungkinan kehilangan jabatannya.
Sementara itu, Menteri Energi Chris Wright dikabarkan berpotensi meninggalkan pemerintahan untuk mengejar peluang di sektor energi. Wright sebelumnya ditugaskan menangani dampak ekonomi dari perang dengan Iran.
Namun, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell dan perwakilan Departemen Energi membantah rumor mengenai kepergian para pejabat tersebut.
Di lembaga lain, para sekutu Jay Bhattacharya, kepala Institut Kesehatan Nasional (NIH), khawatir ia berisiko dipecat setelah berselisih dengan Kepala Anggaran Gedung Putih Russ Vought mengenai pengendalian pengeluaran hibah lembaganya.
Baca Juga: Korut Ancam Kembali Siarkan Propaganda ke Korea Selatan
Peluang Partai Republik di Pemilu Sela
Di tengah perselisihan internal tersebut, sejumlah ajudan dan penasihat Trump memiliki pandangan suram mengenai peluang Partai Republik mempertahankan mayoritas di DPR.
Mereka menilai mayoritas Partai Republik di DPR kemungkinan sulit dipertahankan. Karena itu, fokus tim pemerintahan kini diarahkan untuk membatasi besarnya kekalahan jika hasil pemilu tidak sesuai harapan.
Sementara itu, tim kampanye Partai Republik masih berharap dapat mempertahankan mayoritas di Senat. Namun, kekhawatiran muncul karena reaksi negatif pemilih terhadap pemerintahan dan sejumlah kampanye calon senator yang dinilai menghadapi masalah.
Tantangan tersebut bahkan diakui Trump dalam pembicaraan tertutup. Para sumber yang dikutip CNN meyakini Trump akan mencari pihak yang bertanggung jawab jika Partai Republik mengalami kekalahan besar pada 3 November mendatang.
“Presiden selalu kalah, apapun alasannya, dalam pemilu sela,” keluh Trump pada Selasa.
Trump juga menekankan pentingnya partisipasi para pendukungnya untuk mempertahankan posisi Partai Republik di Kongres.
“Jika saya bisa mendapatkan pemilih saya, Republikan MAGA, apa pun sebutannya, jika mereka keluar untuk memilih, kita akan menang telak,” pungkasnya.

[…] Jelang Pemilu Sela AS, Kabinet Trump Dilanda Konflik Internal […]