AS Evakuasi Diplomat dari Arab Saudi Usai Serangan Houthi
Pemerintah Amerika Serikat (AS) memerintahkan sejumlah diplomat non-esensial dan keluarga pegawai pemerintahnya meninggalkan Arab Saudi menyusul meningkatnya serangan kelompok Houthi dari Yaman. Keputusan tersebut diumumkan Departemen Luar Negeri AS pada Rabu (21/10/2026), di tengah kekhawatiran bahwa konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran dapat meluas.
Perintah evakuasi itu berlaku bagi personel non-esensial di Kedutaan Besar AS di Riyadh, kantor konsulat, serta keluarga pegawai pemerintah AS. Langkah ini diambil setelah serangkaian serangan Houthi menyasar fasilitas penting di Arab Saudi, termasuk bandara dan infrastruktur energi, hingga menimbulkan korban jiwa.
AS Khawatir Serangan Houthi Semakin Meluas
Dalam pembaruan peringatan perjalanan, Departemen Luar Negeri AS memperingatkan bahwa serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi berpotensi meningkat dalam waktu singkat.
Kelompok tersebut dilaporkan telah menyerang bandara sipil dan sejumlah infrastruktur penting lainnya. Serangan itu menyebabkan jatuhnya korban di kalangan warga sipil sekaligus mengganggu aktivitas penerbangan secara signifikan.
Baca Juga : Jelang Pemilu Sela AS, Kabinet Trump Diterpa Konflik Internal
Washington juga memperingatkan bahwa konflik yang berlangsung berisiko meluas ke wilayah lain di luar daerah yang saat ini terdampak, sebagaimana dikutip dari AP News, Kamis (22/10/2026).
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah AS telah mengeluarkan sejumlah peringatan perjalanan serupa. Peringatan tersebut juga mengatur bahwa personel pemerintah AS harus mendapatkan izin khusus sebelum menggunakan bandara mana pun di Arab Saudi.
Sebelumnya, Kedutaan Besar AS di Riyadh mengalami kerusakan parah pada awal konflik. Sejak kejadian itu, kegiatan operasional kedutaan dijalankan dengan jumlah personel terbatas, meskipun beberapa diplomat telah kembali bertugas dalam beberapa bulan terakhir.
Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa perintah evakuasi terbaru hanya ditujukan kepada personel di Arab Saudi. Meski demikian, jumlah staf di sejumlah kedutaan AS di negara-negara Teluk lainnya juga akan disesuaikan untuk sementara.
Perwakilan diplomatik AS di negara-negara tersebut saat ini beroperasi dengan kapasitas terbatas. Hanya sebagian personel yang tetap menjalankan tugas di tengah situasi keamanan yang belum stabil.
Bandara Riyadh Kembali Beroperasi Secara Terbatas
Meningkatnya serangan Houthi turut mengganggu kegiatan penerbangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh.
Bandara tersebut menjadi salah satu sasaran serangan berulang kelompok Houthi dan sempat ditutup sejak 10 Oktober 2026 setelah mengalami serangan intensif.
Namun, aktivitas penerbangan mulai kembali terlihat pada Rabu (21/10/2026). Sejumlah pesawat maskapai Arab Saudi terpantau melakukan lepas landas dan pendaratan di bandara tersebut.
Kegiatan penerbangan kembali berjalan dua hari setelah otoritas penerbangan Arab Saudi memberi tahu maskapai bahwa layanan dapat dilanjutkan dengan persetujuan terlebih dahulu.
Maskapai lokal, termasuk Saudia dan Flynas, menjadi sejumlah operator yang kembali melayani penerbangan pada Rabu. Sebaliknya, maskapai internasional seperti Lufthansa dan Air France membatalkan penerbangan menuju Riyadh hingga pertengahan November.
Kelompok Houthi telah mengakui bertanggung jawab atas serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid. Mereka menuduh Arab Saudi memanfaatkan bandara tersebut untuk memasok peralatan militer kepada pasukan pemerintah.
Meski demikian, kelompok tersebut tidak menyertakan bukti untuk mendukung tuduhannya.
Serangan Drone di Ladang Minyak Tewaskan Dua Orang
Selain menghadapi gangguan penerbangan, Arab Saudi juga mengalami serangan yang menyasar infrastruktur energi.
Baca Juga : Irak Tutup Perbatasan dengan Iran di Tengah Konflik AS
Kementerian Energi Arab Saudi melaporkan bahwa puing-puing drone yang berhasil dicegat jatuh di sebuah ladang minyak milik perusahaan energi Aramco di wilayah tenggara negara tersebut. Insiden itu menewaskan dua orang dan menyebabkan dua orang lainnya mengalami luka-luka.
Pada Rabu dini hari, koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi juga melaporkan adanya serangan lima drone ke wilayah kerajaan.
Menurut koalisi, seluruh drone berhasil dicegat dan dihancurkan di udara, tepatnya di atas kota suci Madinah dan wilayah timur Arab Saudi.
Rangkaian serangan tersebut menjadi bagian dari meningkatnya permusuhan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi sejak pertempuran kembali berkobar pada pertengahan Juli 2026.
