Iran Tak Ingin Beri Kemenangan Politik kepada Trump
Iran disebut sengaja memperpanjang negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk melemahkan posisi politik Presiden Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November 2026.
Laporan Reuters yang mengutip sejumlah pejabat senior Iran menyebutkan, Teheran meyakini Trump berpotensi kembali melancarkan serangan militer untuk memecah kebuntuan konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan.
Di tengah situasi tersebut, Iran disebut lebih bersiap menghadapi serangan baru dari AS dan Israel daripada mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
“Iran sedang bersiap menghadapi serangan baru dari Israel dan AS, bukan untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika guna mengakhiri perang,” ujar salah satu pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya.
Baca Juga: Irak Tutup Perbatasan dengan Iran di Tengah Tekanan AS
Dia menambahkan, “Kelompok ulama yang berkuasa bertekad untuk tidak memberikan kemenangan politik kepada Trump.”
Analis asal Teheran, Saeed Leylaz, menilai strategi memperpanjang negosiasi dapat memengaruhi dinamika politik AS tanpa harus melakukan tindakan yang melanggar hukum.
Dengan memperpanjang perundingan, “Iran memengaruhi pemilihan umum AS tanpa melakukan tindakan apa pun yang melanggar hukum,” kata Leylaz.
Iran Tetap Tutup Selat Hormuz
Trump sebelumnya menyatakan bahwa AS tidak akan kembali mengebom Iran sebelum 3 November 2026. Meski demikian, sejumlah pejabat Iran mengatakan Teheran tetap mengantisipasi kemungkinan serangan militer AS kembali terjadi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Washington menerima persyaratan yang diajukan Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika komunikasi tidak langsung antara Iran dan AS masih berlangsung melalui perantara Pakistan dan Qatar.
“Pihak Amerika harus menerima persyaratan kami agar selat tersebut dapat dibuka kembali bagi kapal-kapal,” ujar Araghchi kepada Haider Zuwair di saluran berita Al-Iraqiya, Irak.
Ia menegaskan, “selat tersebut tentu akan tetap tertutup” selama belum ada kesepakatan yang tercapai.
Araghchi mengungkapkan, Washington sebenarnya telah menyetujui usulan Iran yang disebut sebagai “Rencana Tujuh Hari”. Rencana tersebut mencakup pembukaan penuh Selat Hormuz pada hari keenam.
Namun, menurut Araghchi, AS menginginkan klausul tambahan yang berkaitan dengan sejumlah isu yang telah dibahas dalam negosiasi sebelumnya.
Baca Juga: Pemilu Israel 2026, Kebijakan terhadap Iran Diprediksi Tetap
Ia menegaskan bahwa Washington harus memenuhi seluruh komitmen dalam nota kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani di Islamabad sebelum pembahasan mengenai isu-isu lain dimulai.
Araghchi menambahkan, persoalan yang diajukan oleh masing-masing pihak dapat dibicarakan pada tahap akhir negosiasi.
Selain itu, ia menolak tekanan ekonomi dan ancaman militer dari Washington sebagai cara untuk menyelesaikan konflik.
“Iran sama sekali tidak akan menyerah pada sanksi ekonomi ataupun ancaman militer. Satu-satunya solusi yang tepat adalah diplomasi dan penyelesaian melalui perundingan,” tegasnya.
