Saudi Aramco Evakuasi Karyawan di Tengah Ancaman Serangan
Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan menyusul ancaman serangan susulan yang menyasar sejumlah fasilitas strategis di negara tersebut, termasuk infrastruktur energi.
Perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco, meminta karyawannya meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh.
Langkah tersebut menjadi kebijakan bekerja jarak jauh pertama yang diterapkan Aramco sejak perang yang melibatkan Iran pecah pada akhir Februari 2026.
Dilansir Reuters, Jumat (23/10/2026), enam sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan instruksi evakuasi dikeluarkan sehari setelah serangan di Bandara Internasional King Fahd, Dammam, menewaskan dua orang dan melukai delapan lainnya.
Aramco belum memberikan tanggapan mengenai instruksi tersebut, sementara alasan pasti evakuasi belum diketahui.
Baca Juga: Prabowo Temui Jonan, Bahas Polemik Whoosh?
Ancaman Serangan Menyasar Fasilitas Energi
Ancaman terhadap Aramco meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan menyerang kantor pusat perusahaan itu pada awal Oktober 2026.
Tiga sumber yang mengetahui langsung kejadian tersebut mengatakan serangan itu menyebabkan kerusakan parah dan kebakaran yang merambat ke sejumlah lantai gedung.
Kantor pusat Aramco menjadi fasilitas penting karena menampung pusat operasional untuk memantau anjungan minyak darat dan lepas pantai, kilang, terminal ekspor, hingga jaringan pipa yang membentang ribuan kilometer.
Gangguan terhadap pusat operasional tersebut berpotensi berdampak pada kegiatan perusahaan yang menjadi salah satu pemain utama industri minyak Arab Saudi.
Serangan juga dilaporkan menyasar fasilitas energi lainnya, termasuk ladang minyak Shaybah yang berada ratusan kilometer di sebelah tenggara Dhahran.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan dua orang tewas pada Rabu setelah pertahanan udara mencegat sebuah drone yang berupaya menyerang fasilitas di ladang minyak tersebut.
Baca Juga: Trump Klaim AS Lumpuhkan Iran, Rusia dan China Minim Peran
Arab Saudi dan AS Tingkatkan Kewaspadaan
Arab Saudi merespons serangan Houthi dengan melancarkan serangkaian serangan terhadap lokasi peluncuran rudal.
Kerajaan itu juga menyatakan telah mencegat banyak rudal balistik yang ditembakkan kelompok tersebut dan berupaya memperoleh dukungan lebih luas dari negara-negara sekutunya untuk menghadapi serangan rudal maupun drone.
Namun, Amerika Serikat (AS), yang merupakan sekutu utama Arab Saudi dan penjamin keamanan jangka panjangnya, sejauh ini menolak permintaan Riyadh untuk terlibat langsung dalam perang melawan Houthi.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan sejumlah diplomat dan anggota keluarga mereka meninggalkan perwakilan AS di Arab Saudi.
Washington juga berencana menarik anggota keluarga dari sejumlah perwakilan diplomatik lainnya di kawasan Timur Tengah.
Langkah tersebut dilakukan setelah AS menata kembali personel diplomatiknya di kawasan itu dalam beberapa bulan terakhir, menyusul serangan Iran terhadap sejumlah fasilitas AS.
Ketegangan meningkat sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari 2026, sehingga risiko keamanan terhadap fasilitas energi dan kepentingan strategis di kawasan Teluk turut meningkat.
