Investasi Jangka Panjang: Pengertian dan 5 Contoh Utamanya
Investasi jangka panjang (long term investment) adalah investasi yang dilakukan untuk jangka waktu bertahun-tahun. Banyak orang memilihnya sebagai tabungan masa depan atau persiapan pensiun.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan investasi sebagai penanaman modal dalam suatu proyek atau perusahaan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang.
Instrumen investasi ini umumnya berbentuk aset berwujud seperti emas, berlian, tanah, dan properti, yang semuanya memiliki nilai pasar sebagai acuan penetapan harga wajar. Dari jenisnya, investasi terbagi menjadi dua, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Kedua jenis investasi ini berbeda dari segi periode dan pencatatannya dalam laporan keuangan.
Pengertian Investasi Jangka Panjang
Investasi jangka panjang adalah penempatan dana dengan jangka waktu lebih dari satu tahun. Endang Rostiana dan Horas Djulius dalam e-book Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan dalam Mewujudkan Keluarga Sejahtera menjelaskan bahwa dana yang ditempatkan akan diputar dan baru bisa dicairkan setelah periode panjang.
Investor umumnya tidak berniat menarik dana dalam jangka pendek karena memahami adanya naik-turun pasar yang membutuhkan waktu untuk kembali stabil.
Berbeda dari investasi jangka pendek yang cenderung memilih instrumen berisiko rendah, investasi jangka panjang justru memiliki volatilitas lebih tinggi.
Berikut karakteristik investasi jangka panjang:
- Disimpan lebih dari satu tahun
- Penanaman dana dalam bentuk tertentu
- Termasuk aktiva perusahaan
- Mempererat hubungan bisnis (bagi perusahaan)
- Bertujuan menambah kekayaan dan keuntungan masa depan
Dengan kata lain, investasi jangka panjang adalah bentuk komitmen finansial untuk tujuan jangka waktu yang panjang.
Baca Juga: Kelebihan Investasi Saham dan Strategi Aman Berinvestasi
Contoh Investasi Jangka Panjang
Investasi jangka panjang memiliki banyak bentuk. Berikut lima jenis instrumen yang paling umum, dengan urutan yang sudah diacak agar tidak seragam:
1. Investasi Saham
Pertama, saham adalah bukti kepemilikan perusahaan publik yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Investor dapat memperoleh keuntungan melalui capital gain saat harga saham naik, atau dividen sebagai bagian laba perusahaan.
Untuk jangka panjang, saham menawarkan potensi imbal hasil tertinggi dibanding instrumen lain. Investor juga mendapatkan hak suara dalam RUPS sesuai jumlah kepemilikan.
2. Investasi Logam Mulia
Selanjutnya, emas merupakan logam mulia dengan kadar tinggi (99,99 persen) yang banyak dipilih masyarakat. Nilainya stabil, mudah dicairkan, dan berfungsi sebagai lindung nilai dari inflasi. Karena fleksibilitasnya, emas menjadi salah satu instrumen jangka panjang yang cocok untuk pemula.
3. Investasi Reksa Dana
Sementara itu, reksa dana mengumpulkan dana dari banyak investor untuk kemudian dikelola manajer investasi ke instrumen seperti saham, obligasi, atau pasar uang.
Menurut e-book Pengantar Bisnis oleh Hakim Simamora, akumulasi dana besar membuat perusahaan reksa dana memiliki posisi tawar tinggi dalam membeli aset. Instrumen ini menjadi pilihan ideal bagi investor pemula atau mereka yang ingin diversifikasi otomatis.
4. Investasi Deposito
Lalu, deposito adalah simpanan berjangka yang dikeluarkan bank dengan izin Bank Indonesia. instrumen ini menawarkan bunga lebih tinggi daripada tabungan, likuiditas cukup baik, dan dapat dipindahtangankan.
Walau memiliki penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo, deposito tetap menjadi pilihan aman bagi investor konservatif.
5. Investasi Properti
Terakhir, properti seperti rumah, ruko, atau tanah memiliki potensi kenaikan nilai dari waktu ke waktu. Selain capital gain, properti dapat memberikan pendapatan pasif melalui penyewaan.
Namun, sifatnya kurang likuid dan membutuhkan modal besar, sehingga lebih cocok sebagai instrumen jangka panjang yang dipersiapkan secara matang.
Baca Juga: Investor Pemula Sering Bikin 5 Kesalahan Fatal Ini, Apa Saja?
Investasi jangka panjang memberikan banyak pilihan dengan karakter, risiko, dan potensi imbal hasil berbeda. Investor bisa memilih instrumen sesuai tujuan keuangan dan profil risikonya, mulai dari emas, saham, deposito, properti, hingga reksa dana.
Dengan perencanaan yang tepat, investasi jangka panjang menjadi langkah kuat untuk membangun kestabilan finansial di masa depan.
