Saudi Aramco Peringatkan Cadangan BBM Dunia Kian Menipis
Raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, memperingatkan cadangan bahan bakar dunia berpotensi mencapai level sangat kritis apabila penutupan Selat Hormuz terus berlanjut hingga musim panas.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran besar di pasar energi global, terutama setelah jalur pelayaran utama minyak dunia terganggu selama beberapa pekan terakhir.
Chief Executive Officer Aramco Amin Nasser mengatakan stok bensin dan bahan bakar pesawat mengalami penurunan tercepat sejak konflik Iran pecah.
Menurut Nasser, dunia telah kehilangan pasokan minyak kumulatif sekitar 1 miliar barel sejak perang dimulai. Bahkan, setiap pekan Selat Hormuz tertutup diperkirakan membuat sekitar 100 juta barel minyak hilang dari pasar global.
“Satu-satunya bantalan yang tersedia saat ini adalah stok onshore” tetapi telah “menipis secara signifikan”, kata Nasser seperti dikutip Financial Times, Selasa (12/5/2026).
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan itu membuat sejumlah negara Asia mulai mengurangi konsumsi energi, sementara negara-negara Barat meningkatkan penggunaan cadangan strategis dan komersial mereka.
Harga minyak pun berfluktuasi tajam dalam 10 minggu terakhir. Harga sempat melonjak hingga 126 dollar AS per barel pada akhir April sebelum turun kembali mendekati 100 dollar AS per barel setelah muncul sinyal dari pemerintahan Presiden Donald Trump terkait upaya penyelesaian konflik jangka panjang.
Baca Juga: Perang Picu Krisis Energi, Cadangan Minyak Darurat Dikuras AS
JPMorgan dan IEA Soroti Risiko Pasar Energi
JPMorgan Chase turut memperingatkan bahwa stok minyak komersial di negara maju bisa mendekati batas tekanan operasional pada awal Juni.
Kepala strategi komoditas global JPMorgan, Natasha Kaneva, menilai kondisi itu dapat memaksa tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.
“Kesimpulan kami adalah bahwa bagaimanapun juga, selat tersebut akan dibuka kembali pada bulan Juni,” ujar Kaneva.
Meski begitu, ia menegaskan pasar hanya akan percaya pada pengumuman yang jelas dan kredibel dari kedua pihak yang bertikai.
“Fase berikutnya dari guncangan ini mungkin tidak akan terlihat seperti lonjakan harga minyak mentah tradisional, melainkan lebih seperti krisis pengolahan dan bahan bakar pengguna akhir,” katanya.
Nasser juga menilai pasar terlalu optimistis terhadap jumlah minyak yang tersedia di penyimpanan global. Menurut dia, sebagian besar stok sebenarnya tidak dapat langsung digunakan karena terkunci dalam kebutuhan operasional seperti isi pipa dan batas minimum tangki penyimpanan.
“Tingkat persediaan agregat secara global bukanlah cerminan yang tepat dari ketatnya pasar fisik yang kita lihat saat ini,” kata Nasser.
Sementara itu, International Energy Agency kini mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah untuk meredam dampak perang Iran. Namun, kapasitas pelepasan cadangan tersebut tetap terbatas.
“Di Eropa dan AS, jumlah maksimum yang dapat ditarik dari sana adalah 2 juta barel per hari,” ujar Nasser.
Baca Juga: Perang Kian Tak Terkendali, Trump Mau Gempu Iran Lagi
Aramco kini juga mulai mempertimbangkan perluasan kapasitas ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Menurut Nasser, apabila gangguan pasokan berlanjut hingga pertengahan Juni, pasar minyak global berpotensi tetap tidak stabil hingga tahun depan.
“Semakin lama gangguan pasokan berlanjut, bahkan hanya beberapa minggu lagi, akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama bagi pasar minyak untuk kembali seimbang dan stabil,” kata dia.
