Literasi Keuangan: Pentingnya Pemahaman Finansial Gen Z
Kemampuan mengelola keuangan kini menjadi kebutuhan dasar di era modern. Banyak orang sebenarnya memiliki penghasilan yang cukup, tetapi tetap kesulitan menabung, mengatur pendapatan, hingga bahkan terjebak utang.
Penyebab utamanya adalah kurangnya pengetahuan mengenai cara mengatur uang secara sehat. Karena itu, inilah alasan mengapa literasi keuangan menjadi keterampilan yang wajib dimiliki setiap individu.
Baca Juga: Ketahui Tujuan Investasi sebelum Bernvestasi
Tujuan Literasi Keuangan
Literasi keuangan bertujuan membantu seseorang memahami cara menggunakan uang secara efektif, terarah, dan berkelanjutan.
Dengan literasi yang baik, seseorang dapat membedakan pengeluaran penting dan tidak penting, menyusun anggaran, serta mempersiapkan kondisi darurat finansial.
Pemahaman ini juga membantu seseorang menghindari utang konsumtif yang sering menjadi sumber masalah keuangan.
Dengan kemampuan mengatur pendapatan dan merencanakan masa depan ini , literasi keuangan berperan penting dalam membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi secara konsisten.
Pada akhirnya, tujuan besar dari literasi keuangan adalah menciptakan kehidupan finansial yang stabil.
Dengan begitu, seseorang dapat mencapai target hidup seperti membeli rumah, merencanakan pendidikan anak, hingga mencapai kebebasan finansial tanpa mengorbankan kebutuhan sehari-hari.
Literasi Keuangan Gen Z
Namun, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan bahwa Gen Z memiliki tingkat literasi keuangan paling rendah dibanding kelompok umur lainnya.
Berdasarkan data tersebut, kelompok usia 15–17 tahun menjadi yang paling rentan karena meskipun mereka sangat mahir secara digital, kemampuan mereka dalam memahami pengelolaan uang masih minim.
Kepala Eksekutif OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyoroti bahwa rendahnya pemahaman finansial ini berbahaya karena Gen Z sangat mudah mengakses layanan digital, termasuk pinjaman online.
“Mereka itu secara digital sangat literate, tapi financially belum literate. Jadi tidak jarang banyak anak-anak yang terjerat pinjaman online,” ujar Frederica.
Adapun kebiasaan FOMO dan YOLO turut memperburuk kondisi. Tekanan untuk mengikuti tren membuat banyak Gen Z melakukan keputusan pembelian impulsif. Minimnya literasi juga membuat mereka rentan menjadi korban penipuan keuangan, salah memilih produk finansial, hingga mengalami kesulitan mengatur pengeluaran pribadi.
Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berdampak jangka panjang seperti pada meningkatnya utang konsumtif, kesulitan menabung, serta risiko terjebak pinjaman online ilegal atau judi online.
Karena itu, edukasi keuangan yang mudah, relevan, dan dekat dengan dunia mereka perlu diperkuat. Literasi keuangan yang baik akan membantu Gen Z mengendalikan keuangan, bukan dikendalikan oleh tren dan tekanan sosial.
Baca Juga: Ini Penjelasan IPO Saham dan Alasan Perusahaan Melakukannya

[…] Literasi Keuangan: Pentingnya Pemahaman Finansial Gen Z […]