Utang Global Melonjak, Negara Ini Nyaris Tanpa Beban
Di saat beban utang dunia melonjak hingga setara 94,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global pada 2025, sejumlah negara justru berada pada posisi yang berlawanan. Alih-alih terjerat tekanan fiskal, negara-negara ini mencatat rasio utang pemerintah yang sangat rendah, bahkan nyaris nol.
Berdasarkan data terbaru International Monetary Fund (IMF), terdapat beberapa negara yang mampu menjaga keseimbangan fiskal secara ketat, meskipun banyak perekonomian dunia tengah menghadapi tantangan pembiayaan akibat perlambatan ekonomi, suku bunga tinggi, dan tekanan geopolitik.
Baca Juga : Pemerintah Cari Solusi untuk Pedagang Thrifting Pasar Senen
Pada dasarnya, utang negara muncul ketika penerimaan pemerintah tidak mencukupi untuk menutup pengeluaran. Untuk menambal kekurangan tersebut, negara menarik pembiayaan melalui pinjaman domestik maupun luar negeri. Dana ini umumnya dialokasikan untuk menutup defisit anggaran, membangun infrastruktur, menjalankan program sosial, hingga menjaga perekonomian tetap bergerak saat krisis.
Untuk menilai kesehatan fiskal suatu negara, rasio utang terhadap PDB menjadi indikator utama. Rasio ini menggambarkan perbandingan antara total kewajiban utang dengan kapasitas ekonomi nasional. Semakin kecil persentasenya, semakin besar ruang fiskal yang dimiliki pemerintah untuk menjalankan kebijakan tanpa terbebani cicilan utang.
Dalam daftar IMF, Makau menempati posisi teratas dengan rasio utang nol persen terhadap PDB. Wilayah ini mengandalkan pemasukan besar dari industri perjudian dan pariwisata kasino, ditopang cadangan fiskal yang kuat sehingga hampir tidak membutuhkan pembiayaan berbasis utang.
Liechtenstein berada di posisi kedua dengan rasio utang hanya 0,5 persen PDB. Negara mikro di Eropa ini menjadi pengecualian di kawasan tersebut. Sebagai pusat jasa keuangan internasional, Liechtenstein memiliki jumlah perusahaan yang bahkan melampaui jumlah penduduknya yang sekitar 41 ribu jiwa. Tingginya aktivitas ekonomi tercermin dari jumlah lowongan kerja yang sempat melebihi total populasi pada awal 2025.
Asia menyusul dengan sejumlah negara berutang sangat rendah, seperti Brunei Darussalam (2,3 persen), Tuvalu (3,6 persen), dan Turkmenistan (3,9 persen). Karakteristik negara-negara ini relatif serupa, yakni skala ekonomi kecil, sumber pendapatan yang stabil, serta kebutuhan belanja fiskal yang terbatas.
Kuwait menempati peringkat berikutnya dengan rasio utang 7,3 persen PDB. Negara penghasil minyak ini memperoleh pendapatan energi sekitar US$70 miliar pada 2024, setara hampir 80 persen penerimaan pemerintah. Melimpahnya pendapatan migas membuat Kuwait mampu membiayai anggaran negara tanpa bergantung pada utang.
Baca Juga : Dari Insta360 Jadi Miliarder Muda, Ini Kisah JK
Hong Kong dan Haiti mencatat rasio utang di kisaran 11–12 persen, disusul Timor Leste (13,9 persen), Nauru (15 persen), dan Kosovo (17,6 persen). Negara-negara ini memanfaatkan sumber pendanaan alternatif seperti dana kekayaan negara, remitansi, hingga bantuan internasional untuk menjaga keseimbangan fiskal.
Rusia juga masuk dalam kelompok ini dengan rasio utang sekitar 23,1 persen PDB pada 2025. Meski menghadapi sanksi ekonomi dari negara Barat, posisi fiskal Rusia tetap relatif kuat berkat ekspor energi, pengendalian belanja negara, serta cadangan devisa yang masih besar. Fokus belanja yang terarah di tengah ekonomi perang membuat ekspansi utang tetap terkendali.
Secara keseluruhan, data ini menegaskan bahwa rendahnya rasio utang tidak semata ditentukan oleh tingkat kemajuan ekonomi. Faktor seperti struktur pendapatan negara, disiplin fiskal, ukuran ekonomi, serta ketergantungan pada sektor atau sumber daya tertentu memainkan peran krusial.
Di saat banyak negara tertekan oleh beban utang yang membengkak, kelompok negara ini menunjukkan bahwa stabilitas fiskal tetap dapat dicapai dengan pengelolaan keuangan negara yang tepat dan berkelanjutan.
Baca juga: Perbedaan Pekerjaan Formal dan Informal di Indonesia
